“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya”
Awal ramadhan kemarin, pohon pisang yang tumbuh di halaman rumahku sudah berbuah matang. Setelah kutebang, buah itupun kuperam agar matang sempurna. Dan setelah matang benar, dimasaklah buah pisang itu menjadi kolak pisang nan sedap dan harum baunya.
Sebagaimana hadits Rasulullah agar kita menyayangi tetangga, maka kolak pisang yang sudah dibuat istriku dibagikan ke beberapa tetangga -maklum buah pisangnya tidak kompak matangnya. Ada rasa bahagia ketika bisa memberi sesuatu kepada orang lain, meskipun tidak lah seberapa. Terlebih pahala yang berlipat di bulan Ramadhan ini.
Barang dua-tiga hari setelah hantaran kolak pisang ke tetangga, ada orang yang mengetuk pintu rumahku.
“Bu, mau mengembalikan piring,” kata tetanggaku. Dan di dalam piring bekas hantaranku kemarin tidaklah kosong. Ada kue jadah. Alhamdulillah. Ini kesukaan anakku.
Belum lama aku duduk, kembali ada yang mengetuk pintu.
“Pak, ini dari ibu. Sekalian mengembalikan piring,” kata anak tetangga.
Dan sekali lagi, piring itu tidak kosong. Bahkan bukan hanya piringku saja yang kembali, tapi ada mangkok yang lain. Berisi lontong, sayur opor ayam dan sayur jipang (bukan jepang lho). Subhanallah. Alhamdulillah.
Maha suci Allah, ia mengganti apa yang aku berikan kepada tetangga dengan yang lebih baik dan dalam waktu yang tidak lama.
“Barang siapa memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa, maka baginya pahala orang yang berpuasa”