Zakat untuk Si Fakir

Tragis. 23 orang meregang nyawa saat mengantri pembagian sedekah di Pasuruan, Jawa Timur. Korban yang semuanya perempuan itu tewas karena tergencet, terinjak atau kehabisan udara. Sedang puluhan lainnya pingsan. Tidak kurang 7000 orang berdesakan dan berebutan untuk menerima sedekah yang tak lebih dari 30.000 rupiah per orang. Satu nyawa ditukar dengan Rp 30.000 (itupun belum tentu dapat). Pembagian sedekah ini dilakukan tiap tahun menjelang lebaran. Jumlah yang dibagikan bertambah, begitu pula dengan peminatnya.

Sebuah peristiwa yang memilukan. Entah siapa atau apa yang salah dengan negeri ini. Kaum dhuafa yang seharusnya menerima santunan dari negara, sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945, seolah tak ada harganya lagi.

Jaman para sahabat…
Kaum miskin tidak bisa dikatakan tidak ada, walaupun secara jumlah mungkin jauh lebih kecil dibandingkan dengan penduduk miskin negeri ini. Namun, tidak pernah mereka berduyun-duyun menguber zakat dari kaum aghniya’ (kaya). Karena mereka masih punya ‘izzah (harga diri) dan mereka masih berpegang pada wasiat Rasulullah untuk tidak meminta-minta.

Sedangkan orang-orang kaya, mereka secara sadar dan ikhlas tentunya menunaikan kewajiban mereka tiap tahun untuk membayar zakat, baik zakat fitrah, maal, perdagangan atau zakat yang lainnya. Di samping juga mengeluarkan infaq dan shodaqoh. Mereka lah yang berduyun-duyung mendatangi baitul maal untuk memberikan hak kaum fakir miskin. Karena mereka tahu kompensasinya jika tidak membayar zakat.
Sampai-sampai di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz, baitul maal kesulitan mencari fakir miskin guna menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh yang sudah terhimpun.

Jaman sekarang…
Predikat orang miskin menjadi predikat yang prestise. Bagaimana tidak? Mereka rela dikatakan miskin untuk mendapatkan dana santunan BLT. Meskipun mereka pakai handphone, perhiasan di tangan, naik motor, dan barang-barang yang seharusnya ‘tidak mungkin’ dipunyai orang miskin.
Menjadi miskin seolah menjadi tren. Terlebih di bulan Ramadhan. Jumlah fakir miskin bisa meningkat 400%. Mereka akan berburu sedekah (istilah mereka zakat) dari rumah ke rumah, istilah lain dari mengemis. Bahkan pernah saya jumpai, mereka berombongan sampai 20-an orang, tua-muda, laki-laki atau perempuan.

Wahai orang kaya…
Tunaikanlah kewajibanmu. Berikan hak-hak orang miskin dari harta yang engkau terima, bersihkan hartamu dengan mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Niscaya hartamu akan bertambah barakah.

Wahai orang miskin…
Bersabarlah, yakinlah bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberikan rizki. Seekor cacing yang butapun tidak pernah Allah lupakan, apatah lagi seorang manusia.
Jagalah ‘izzah (harga diri)mu, dengan tidak meminta-minta. Karena hal itu dilarang Rasulullah.

Tinggalkan Balasan