Musibah
13 Oktober 2008 2 Komentar
Jum’at (10/10) kemarin, saya pulang kerja mboncengin istri dan anak. Istri di belakang, anak di depan. Agar lebih santai, saya mengambil rute lewat jalan kampung.
Ketika hampir sampai di pertigaan yang mengarah ke rumah, saya mulai mengurangi kecepatan, menyalakan lampu sein, dan berjalan agak ke tengah. Dari depan kosong, belakang aman.
Tiba-tiba, gubrak…
Tanpa sepengetahuanku, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi mencoba mendahului lewat sebelah kanan. Padahal motor yang kukendari sudah mulai berbelok. Maka tak ayal kedua sepeda motor jatuh di jalan beraspal.
Istriku terjungkal kebelakang, sedang saya dan anak tertindih sebagian badan motor. Anakku menangis meraung-raung. Lututku terasa perih. Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi kejadian segera membantu.
Anakku masih menangis, mengatakan kakinya sakit. Innalillahi, jangan-jangan… Tapi alhamdulillah, ketika saya suruh berjalan ia bisa. Mungkin shock, pikirku.
Pengendara motor ‘lawan’ mengomel, masnya belok kok mendadak. Weleeh.. malah ngajak adu mulut. Dibantu beberapa saksi mata, kami serang balik si bapaknya. Dengan data-data akurat (ceilee…), akhirnya dia ngaku salah.
Alhamdulillah, tidak ada yang terluka. Anakku sudah berhenti nangisnya, istri tidak apa-apa. Hanya saya dan bapaknya tadi yang celananya sama-sama robek. Kedua motor rusak ringan. Tapi malamnya, wuaah… badan pegal semua, sakit… setelah diurut agak mendingan. Kejadian yang membuatku belajar untuk hati-hati ketika di jalan. Betul?




Seringkali kecelakaan diakibatkan orang lain yang kurang hati-hati… Waspada di jalan raya!…
Alhamdulillah, tidak ada yg cidera parah…