Arsip untuk November, 2008

Mahalnya Pohon

Posted in Alam, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 27 November 2008 by hakimaza

Sebagai negara kerajaan yang hampir semua wilayahnya gurun pasir dan gunung batu, menyebabkan pepohonan sulit tumbuh di Arab Saudi. Tidak seperti negara kita yang jika kita pergi ke pedesaan, bisa melihat hamparan sawah dan hutan tropis yang menghijau. Di Arab Saudi, kita hanya bisa melihat hamparan gurun pasir dan bebatuan yang menyilaukan mata di siang hari. Jangan harap di Arab Saudi kita bisa melihat pepohonan rimbun di halaman rumah atau gedung. Kalaupun ada, sangat sedikit sekali.

Pada senin (24/3), saya bersama sejumlah rekan Media Center Haji (MCH) Makkah, pergi ke Jeddah untuk mengikuti rapat koordinasi dan pengarahan untuk MCH seluruh Arab Saudi. Sepanjang perjalanan ke luar kota Makkah, sampai pada perbatasan dengan Jeddah, Baca selebihnya »

Pemberian Sang Milyarder

Posted in Catatan, Punakawan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 17 November 2008 by hakimaza

Di desa Argomulyo, Raden Mas Petruk termasuk orang yang kaya. Sawahnya yang berhektar-hektar, membentang dari lereng gurung Sumuran sampai tapal batas desa Argomulyo. Tambak ikan yang berada di pantai tak kurang dari satu hektar. Belum lagi perusahaannya yang berada di beberapa daerah. Pokoknya, kalau masalah harta Raden Mas Petruk tak ada tandingannya di desa Argomulyo.

Rumahnya, wow jangan tanya. Mobil-mobil berderet dalam garasi. Mengalahkan show room yang ada di kota. Mulai mobil-mobil antik jaman penjajahan, sampai mobil-mobil mewah keluaran pabrik terkenal, yang katanya hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.

Namun, kadang sikap RM Petruk agak menyebalkan, kalau tidak dibilang menyakitkan. Baca selebihnya »

Tangkap Daku Kau yang Bayar

Posted in Peristiwa dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by hakimaza

Bila ada pencuri atau pembunuh yang tertangkap, atau koruptor yang ketahuan, jangan sekali-kali memasukkan mereka ke dalam penjara. Kalau hal itu dilakukan, maka kita sudah kecolongan dua kali.

Kecolongan pertama, harta benda yang sudah mereka rampas, yang belum tentu bisa kembali atau utuh. Jarang ada cerita di negeri ini, barang yang sudah hilang bisa kembali dalam keadaan utuh.

Kecolongan kedua, kalau mereka tertangkap dan kemudian dipenjara, kita ‘dipaksa’ untuk merawat mereka.

Kita harus membuatkan ‘rumah’ yang bisa menampung mereka semua. Baca selebihnya »

Tamu di Pagi Hari

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 8 November 2008 by hakimaza

Aku terbangun. Terdengar ketukan pelan di pintu rumahku. Ah, siapa sih yang bertamu ke rumah sepagi ini. Kulirik jam dinding yang menggantung di ruang kamar. Jam 05.30. Baru saja kupejamkan mataku setelah semalaman nonton pertandingan sepakbola. Dasar tamu tidak tahu tata karma, rutukku dalam hati.

Kubuka pintu rumahku. Sesosok lelaki berdiri di depan pintu rumah. Wajahnya putih bersih, pakaiannya serba putih dengan sorban warna putih pula yang melilit di kepalanya, menutupi sebagian rambutnya yang hitam bercahaya. Matanya menyorotkan sinar kewibawaan sekaligus keteduhan. Dan, satu yang tak pernah lepas dari wajahnya. Senyumnya. Ya, ia selalu mengulas senyum yang menyenangkan siapa saja yang melihatnya. Menambah tampan wajahnya

Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tetangga barukukah? Atau seseorang yang sedang mencari rumah temannya?

“Siapakah Anda?” tanyaku takjub.

Baca selebihnya »