Tamu di Pagi Hari

Aku terbangun. Terdengar ketukan pelan di pintu rumahku. Ah, siapa sih yang bertamu ke rumah sepagi ini. Kulirik jam dinding yang menggantung di ruang kamar. Jam 05.30. Baru saja kupejamkan mataku setelah semalaman nonton pertandingan sepakbola. Dasar tamu tidak tahu tata karma, rutukku dalam hati.

Kubuka pintu rumahku. Sesosok lelaki berdiri di depan pintu rumah. Wajahnya putih bersih, pakaiannya serba putih dengan sorban warna putih pula yang melilit di kepalanya, menutupi sebagian rambutnya yang hitam bercahaya. Matanya menyorotkan sinar kewibawaan sekaligus keteduhan. Dan, satu yang tak pernah lepas dari wajahnya. Senyumnya. Ya, ia selalu mengulas senyum yang menyenangkan siapa saja yang melihatnya. Menambah tampan wajahnya

Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tetangga barukukah? Atau seseorang yang sedang mencari rumah temannya?

“Siapakah Anda?” tanyaku takjub.

Kembali ia tersenyum, senyum yang membuat terang ruang tamu rumahku. Seperti sinar rembulan yang mengusir kegelapan malam.

“Aku Nabiyyullah Muhammad bin Abdullah.”

Aku tersentak. Tak percaya.

“E..e..engkau Rasulullah Muhammad?”

Dia mengangguk dan tersenyum.

“Se..se..bentar ya Rasulullah… sebentar”

Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Terkejut, senang, takut, bingung dan bermilyar rasa mengaduk-aduk dalam hatiku. Sampai-sampai aku lupa sopan santun ketika menerima tamu. Kutinggalkan Rasulullah sendiri, berdiri di depan pintu rumahku.

Kubangunkan istri dan anakku. Kuminta mereka segera berpakaian.

“Tapi pak, ibu musti pakai pakaian apa?” Tanya istriku.

“Ya pakaian muslimah, lah. Wong tamunya Rasulullah.”

“Ya, itu masalahnya. Ibu tak punya pakaian muslimah,” ujarnya sambil memperlihatkan isi lemari.

Kupandangi isi kedua lemari tersebut. Ah, iya. Tak satupun baju yang menggantung di situ layak dipakai untuk menerima Rasulullah. Baju yang barusan dibelinya waktu lebaran kemarin, tanpa lengan. Atau baju hadiah ulang tahun yang kubelikan, panjangnya di atas lutut dengan lubang besar menganga di bagian punggung, lebih layak untuk pergi ke pesta.

“Sudah bu, pakai apa saja yang kira-kira menutup aurat. Dua-tiga pakaian dipakai bersama. Atau kalau tidak pakai mukena.” Kataku akhirnya, sedikit bingung.

“Jangan lupa pakai kerudung.”

Aku menuju ruang tamu. Ah, hendak aku dudukkan dimana beliau. Kuperhatikan sekeliling. Puntung rokok yang menemaniku begadang semalam masih berserakan di atas dan di bawah meja. Segera kubersihkan puntung rokok dan abunya yang mengotori meja dan lantai ruang tamu. Poster-poster di dinding yang berisi artis-artis dalam dan luar negeri dengan aksi yang seronok juga aku turunkan. Hiih. Apa kata Rasulullah nanti bila melihat gambar-gambar ini.

Setelah merapikan ruang tamu, aku dan istri bersiap menyambut Rasulullah yang masih berdiri di luar. Ketika tanganku sudah memegang gagang pintu, tiba-tiba istriku berbisik.

“Pak, kayaknya masih ada yang kurang!? Apa, ya?”

Kami berfikir sejenak, seraya melihat sekeliling. Kami berpandangan dan berseru hampir berbarengan.

“Al Qur-an!”

“Cepat, Bu, cari al Qur-annya.”

“Iya pak, ini ibu juga sedang mencari. Bapak cari di sini, ibu cari di kamar.”

“Ah, terakhir kubaca al Qur-an ketika Pakde Kirno meninggal setahun yang lalu,” gumamku.

Kubongkar tumpukan yang ada di lemari buku. Tak ada. Yang ada hanya komik milik anakku, majalah tanaman kesukaan istriku, dan beberapa majalah porno. Ah, lagi-lagi aku harus malu. Segera kuambil majalah-majalah seronok itu dan kubawa ke belakang, menyusul poster-poster yang sudah kubakar.

“Ketemu, Bu?” kataku pada istriku.

Ia hanya menggeleng. Aku terduduk lemas. Bagaimana kalau Rasulullah nanti menanyakan apakah kami rajin membaca al Qur-an?

Akhirnya dengan langkah gontai dan cemas kami menuju pintu depan. Ketika sudah tiba di belakang pintu, aku kembali teringat.

“Bu, aku belum sholat shubuh. Apa jawabku nanti, kalau Rasulullah menanyakan sholatku?” tanyaku lemas. Dan tiba-tiba, sekelilingku berputar. Semakin lama, semakin kencang. Kemudian gelap.

“Pak..pak bangun, pak………”

“Pak.. Bapak …., bangun….” Kurasakan ada yang menggoncang-goncangkan kakiku.

“Bangun, Pak,” terdengar suara lagi. Suara anakku.

Kubuka mataku perlahan. Aku berada di kamar.

“Dicari orang pak.” Kata anakku.

Deg. Aku terperanjat.

“Siapa? Rasulullah?” tanyaku.

“Bukan. Pak erte.”

*********

Cerita di atas, hanyalah rekaan alias imajinasi. Sebagai bahan renungan sekaligus muhasabah diri kita. Atas segala kewajiban yang menjadi tugas kita sebagai seorang muslim. Terkadang kita meributkan hal-hal yang remeh dan meninggalkan masalah pokok.

Jadi, kalau Rasulullah mengetuk pintu rumahmu, apa yang kau lakukan?

Sebuah Tanggapan untuk Tamu di Pagi Hari

  1. doni mengatakan:

    pak…ada tamu nih…
    tapi bukan pak ert e hehe…

    download aja “ada cinta di Q-tha”..itu isinya ttg Qtha dab juga ada fotonya…(di blogku).

    pareng…

    Jazakumullah pak Doni. Langsung tak download, ya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s