Pemberian Sang Milyarder

Di desa Argomulyo, Raden Mas Petruk termasuk orang yang kaya. Sawahnya yang berhektar-hektar, membentang dari lereng gurung Sumuran sampai tapal batas desa Argomulyo. Tambak ikan yang berada di pantai tak kurang dari satu hektar. Belum lagi perusahaannya yang berada di beberapa daerah. Pokoknya, kalau masalah harta Raden Mas Petruk tak ada tandingannya di desa Argomulyo.

Rumahnya, wow jangan tanya. Mobil-mobil berderet dalam garasi. Mengalahkan show room yang ada di kota. Mulai mobil-mobil antik jaman penjajahan, sampai mobil-mobil mewah keluaran pabrik terkenal, yang katanya hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.

Namun, kadang sikap RM Petruk agak menyebalkan, kalau tidak dibilang menyakitkan. Tak pernah menghargai orang lain, memandang rendah orang di sekitarnya. Bukan hanya kepada masyarakat biasa, bahkan kepada perangkat desapun RM Petruk tidak menganggapnya.

Seperti ketika pak Semar, Kades Argomulyo, sedang melakukan inspeksi keliling desa mengendarai motor dua taknya, yang mengeluarkan asap seperti mesin fogging, tempo hari. Pak Semar berpapasan dengan RM Petruk yang sedang jalan-jalan pagi mengendari Jaguar kuningnya. Sebagai perangkat desa yang baik pak Semar mengangguk sembari tersenyum ke arah RM Petruk. Tapi yang disapa tetap menatap lurus jalan beraspal yang ada di depannya. Asem kecut, batin pak Semar.

Lain lagi dengan yang dialami kang Gareng, yang rumah tokonya berhadapan dengan rumah Petruk eh.. RM Petruk (jangan sekali-kali memanggilnya tanpa gelar Raden Mas, dijamin tidak akan dapat santunan tahunan dari RM Petruk). Ketika RM Petruk mampir ke tokonya beberapa waktu yang lalu, kang Gareng iseng nanya kalung gedhe yang biasa dipakai RM Petruk. Apa jawabnya?

“Hasil penjualan tokomu selama setahun, nggak akan bisa untuk membeli kalung ini.”

Siapa coba yang tidak keki dikatain begitu.

Tapi warga desa Argomulyo tidak mau mempermasalahkan sikap RM Petruk. Mereka memilih diam sambil makan hati. Tak apalah diejek sedikit, tapi dapat pembagian zakat tiap menjelang Idul Fitri dari RM Petruk yang milyarder itu, sanggah mereka kalau ditanya masalah itu.

Maka tak heran, kalau sudah memasuki tanggal dua puluhan di bulan Ramadhan, rumahnya bakalan dipenuhi warga yang sudah ngantri sejak subuh. Mereka akan berkumpul di samping rumahnya, di depan bangunan yang bertuliskan “Gudang Duit”, yang dijaga empat orang bodyguard berperawakan besar sangar, berpakaian serba hitam, kacamata hitam dan tanpa senyum (untung kulitnya gak hitam).

Pada hari pembagian zakat, puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik, dari dalam dan luar negeri akan ikut hadir. Mereka mendapat undangan khusus dari RM Petruk. Tugasnya, ya meliput kegiatan spektakuler itu. Apalagi?

Namun Ramadhan kemarin, RM Petruk agak heran. Karena sudah lima Ramadhan ini, Bagong tidak ikut ngantri mengambil jatahnya. RM Petruk tahu Bagong adalah orang susah. Anaknya banyak dengan penghasilan yang gak jelas. Menurut informasi orang-orang suruhannya, Bagong tidak mau lagi menerima santunan yang RM Petruk berikan.

Wuih… sombong banget Bagong itu, batin RM Petruk. Apa ia sudah kaya, sehingga tidak mau menerima santunan yang ia bagikan. Catatan saja, RM Petruk memberikan 100 ribu untuk orang dewasa warga desa Argomulyo dan 50 ribu untuk anak-anak. Kalau warga luar desa 50 ribu untuk orang dewasa, dan 25 ribu untuk anak-anak. Dengan satu istri dan anak tujuh orang, maka Bagong akan menerima 550 ribu. Kalau Bagong mau datang, jatahnya selama empat kali akan diberikan. Jadi total Bagong akan menerima dua juta dua ratus ribu. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran Bagong yang melarat, batin RM Petruk.

Penasaran, RM Petruk segera meluncur ke rumah Bagong di ujung desa. Setelah ketemu face to face, tanpa ba bi bu atau alif ba ta, RM Petruk langsung nyerocos.

“Gong, kamu sekarang sudah kaya, ya?”

“Kaya apanya Raden Mas. Mbok jangan ngece. Lha wong rumah aja masih kayak gini,” jawab Bagong melucu. Matanya yang bundar berputar-putar.

“Lha buktinya, kamu tidak mau menerima santunan yang aku berikan. Saya perhatikan sudah lima tahun kamu tidak ikut ngantri bersama warga yang lain. Kalau bukan karena sudah banyak duit, apalagi?” sembur RM Petruk sewot.

“He..he.. Raden Mas ini lucu. Lha wong saya yang nggak mau menerima kok situ yang marah. Udah, jatah saya dikasihkan ke yang lain aja. Pakde Togog misalnya, atau Yu Cempluk yang barusan menjanda itu. Kan bisa. Gitu aja kok repot.”

“Lagian ya Raden Mas, sebaik-baik pemberian adalah yang tidak merendahkan orang yang menerima, tidak dengan mempermalukan mereka. Pemberian yang diberikan dengan ikhlas. Berbuat baik dengan tangan kanan tanpa tangan kiri tahu.”

RM Petruk terdiam mendengar jawaban Bagong. Ia segera pulang tanpa banyak bicara. Diam seribu bahasa, entah apa yang dipikirkannya.

Tinggalkan Balasan