Arsip untuk Desember, 2008

Di Penghujung Masa

Posted in Catatan, Renungan on 31 Desember 2008 by hakimaza

Wahai dzat yang Mahapengasih dan Penyayang
Yang menggantungkan bintang-bintang, menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung sebagai tiangnya
Yang menjadikan manusia berbangsa dan bersuku
Ya Allah, seluruh penghuni langit dan bumi memuji kepadaMu

Ya Allah, berikanlah kepada kami dari rasa takut kepadaMu
Sesuatu yang akan menjauhkan kami dari bermaksiat kepadaMu dan dari mentaatiMu
Sesuatu yang akan menyampaikan kami kepada surgaMu dan dari meyakiniMu
Sesuatu yang meringankan kami menghadapi cobaan dunia
Berikanlah kenikmatan kepada kami melalui penglihatan kami, pendengaran kami dan kekuatan kami

Ya Allah, perbaiki hubungan di antara kami
Rukunkanlah antara hati kami. Tunjuki kami jalan keselamatan dan kebenaran
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang benderang

Jadikanlah kami kumpulan orang-orang muda yang menghormati orang tua
Dan kumpulan orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya Allah yang Maha Adil. Tolonglah kami menegakkan keadilan dalam diri kami, dalam keluarga, tetangga, masyarakat dan bangsa kami
Hindarkan kami dari kezhaliman dan menzhalimi hamba-hambaMu

Ya Allah, berikanlah kepada kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi, yang menangis dalam sujud malamnya. Yang senantiasa memikirkan ummatnya hingga ajal menjelang
Pemimpin yang bagai khalifah, yang rela mengorbankan semua kekayan demi perjuangan, yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiyat daripada lenyapnya kekayaan dan pangkat

Ya Allah, di malam ini kami berkumpul untuk menyambut salah satu tanda kekuasaanMu
Jadikanlah tahun yang telah lalu sebagai catatan amal yang menghantarkan kami menuju keridhoan dan surgaMu
Jangan jadikan ia catatan yang menjerumuskan kami dalam kebinasaan dan angkaraMu

Ya Allah ampunkanlah dosa kami, dosa orang tua kami, dosa para pemimpin kami

Ya Allah, jadikanlah tahun yang akan kami masuki ini tahun penuh keberkahan, tahun yang penuh ampunan, tahun penuh hidayah, dan tahun yang penuh kesejahteraan
Ya Allah bimbinglah kami menapaki jalan yang membentang, tunjukilah kami jalanMu agar kami tak salah arah dan tak salah langkah

Ya Allah, berikan kepada kami petunjuk jalan-jalan kebenaran
Penuhi hati ini dengan cahayaMu yang tak pernah pudar
Lapangkanlah dada-dada kami untuk menerima limpahan iman kepadaMu
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik penolong

Skenario Di Balik Holocaust Gaza Jilid II

Posted in Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) , , on 31 Desember 2008 by hakimaza

Ada sebuah sinyalemen yang cukup merisaukan. Ini berdasarkan fakta —sekalipun— negara-negara Arab sendiri akan bersikeras mengeluarkan petisi berisi penolakan. Bahwa agresi militer Israel jilid II ke Gazza pada 27 Desember kemarin yang menelan 271 jiwa dan melukai 750 korban; yang menjadi edisi lanjutan jilid I agresi militer Israel ke Gazza pada 28 Februari 2008 silam yang menewaskan 132 rakyat Palestina, 26 diantaranya adalah balita seakan direstui oleh Negara-negara Arab. Haim Ramon, Wakil Menteri Pertahanan Israel menyebut agresi jilid I itu sebagai “Holocaust”.
Baca selebihnya »

Kejutan Akhir Tahun

Posted in Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) , , , on 17 Desember 2008 by hakimaza

Bayar tagihan listrik pekan kemarin, saya dikagetkan dengan bentuk rekening listrik yang baru. Warnanya tidak hijau seperti rekening listrik yang saya lihat. Logo petir PLN tergantikan oleh logo sebuah bank milik pemerintah.

Iseng saya tanyakan ke petugasnya tentang perubahan itu. Dan beroleh jawaban, mulai bulan ini (Desember 2008) rekening listriknya bentuknya seperti itu. Kertasnya putih dan lebih kecil (biar ngirit kalee).

Lebih terkejut lagi ketika saya cermati angka-angka yang tertera dalam rekening baru tersebut. Ada tambahan biaya banking sebesar Rp 1.600. Tidak besar memang, tapi tetap aja membuat saya kecewa. Lha bedanya apa dengan rekening sebelumnya. Toh sebelumnya juga sama-sama online. Bayar dimana saja tidak masalah.
Saya tidak tahu tentang perubahan ini. Mungkin ada pengunjung yang bisa menjelaskan.

Saya melanjutkan perjalanan menuju kantor PDAM untuk membayar air bersih (bukan air minum) bulanan. Dan surprise yang lain sedang menunggu saya dalam kantor yang kebetulan sepi nyenyet (biasanya antreeee).

Yaitu ketika petugas loket menyebutkan jumlah uang yang harus saya bayar. 37 ribu! Wuih. Padahal biasanya hanya 20-an. Untung saja saya membawa uang lebih, jadi nggak musti ngutang ke petugas loket (emang boleh ngutang?). Dheleg-dheleg juga melihat pengeluaran biaya listrik dan air bulan ini. Wah.. akhir tahun penuh kejutan.

Tukang Jagal

Posted in Belajar, Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) , , , on 13 Desember 2008 by hakimaza

Lebaran haji tahun ini, seperti tahun kemarin, saya diberi amanah menjadi ketua panitia Idul Adha yang diselenggarakan musholla di lingkungan rumahku.

Persiapan sederhana pun dilakukan oleh panitia, yang anggotanya semua warga muslim di perumahan. Bayangin, semua orang dilibatkan menjadi panitia. Ya tujuan sih agar semua terlibat dalam pelaksanaan penyembelihan hewan qurban nantinya. Karena pengalaman tahun kemarin, mereka yang tidak tergabung dalam kepanitiaan tidak nongol saat pelaksaan. Dan baru nongol ketika waktu makan tiba.

Selesai sholat Ied, warga mulai berdatangan ke lapangan bulutangkis yang berada di depan musholla. Anak-anak sudah ribut berlarian ke sana kemari. Dan kambing yang akan dipotong sudah ngantri. Baca selebihnya »

Haji Mabrur X Haji Mabur

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) on 12 Desember 2008 by hakimaza

Fenomena haji adalah sebuah ritual yang terjadi setiap tahun. Berhaji adalah sebuah undangan. Undangan Allah kepada setiap umat Islam dimanapun mereka berada, untuk dating ke Rumah Allah. Berhaji adalah melakukan ‘perkemahan’ akbar di padang Arafah.

Allah tak pernah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Siapapun yang datang memenuhi panggilannya akan Ia sambut dengan penghormatan yang tiada tara.

Berhaji adalah sebuah pengorbanan. Berkorban apa saja. Berkorban harta untuk ongkos pergi ke sana. Berkorban waktu meninggalkan urusan di tanah air. Berkorban tenaga karena mesti melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan. Bahkan berkorban nyawa dalam menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi.

Wajar jika setiap orang yang hendak pergi berhaji diantar sekian banyak kerabat dan handai taulan. Karena melepas calon haji berarti melepas mereka ke medan jihad, dan mungkin mereka tak kan pernah kembali. Baca selebihnya »

Batu Berbicara

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) on 9 Desember 2008 by hakimaza

Batu-batu beterbangan
dari tangan-tangan belia anak-anak palestina…
hasil didikan ibu-ibu pejuang yang tak kenal akan arti letih dalam berjuang
meski nyawa taruhannya

Batu-batu itu seolah bicara…
ini tanah kelahiran kami, ini negeri kami
enyahlah kalian dari rumah kami

Batu-batu kembali beterbangan
dari tangan-tangan pemuda Palestina
melesat merontokkan semangat tentara yang bersenjatakan lengkap
yang berlindung dalam kendaraan lapis baja

Kecintaan atas negeri mereka
mengalahkan rasa takut menghadapi tentara
yang digembar-gemborkan sebagai tentara paling handal di kolong langit

Batu-batu itu seolah bicara…
Khaibar-khaibar ya yahud, jaisyu Muhammad saufa ya’ud

Batu-batu beterbangan lagi
dari tangan-tangan pemuda
yang mendapat julukan kaum intelektual
yang dalam sejarah Indonesia menorehkan tinta emas akan arti perjuangan dan perlawanan
batu-batu beterbangan
melesat dan memburu sesama pelemparnya
meradang dan menghancurkan apa yang dilewatinya

Batu-batu itu seolah bicara…
ini batuku… mana batumu…
kemudian diam membisu
dan membekukan intelek mereka yang mulai membatu

***
sebuah keprihatinan tentang ‘wabah’ tawuran yang melanda kaum intelektual (mahasiswa) kita

Yu Timah

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) on 9 Desember 2008 by hakimaza

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Baca selebihnya »