Haji Mabrur X Haji Mabur
12 Desember 2008 5 Komentar
Fenomena haji adalah sebuah ritual yang terjadi setiap tahun. Berhaji adalah sebuah undangan. Undangan Allah kepada setiap umat Islam dimanapun mereka berada, untuk dating ke Rumah Allah. Berhaji adalah melakukan ‘perkemahan’ akbar di padang Arafah.
Allah tak pernah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Siapapun yang datang memenuhi panggilannya akan Ia sambut dengan penghormatan yang tiada tara.
Berhaji adalah sebuah pengorbanan. Berkorban apa saja. Berkorban harta untuk ongkos pergi ke sana. Berkorban waktu meninggalkan urusan di tanah air. Berkorban tenaga karena mesti melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan. Bahkan berkorban nyawa dalam menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi.
Wajar jika setiap orang yang hendak pergi berhaji diantar sekian banyak kerabat dan handai taulan. Karena melepas calon haji berarti melepas mereka ke medan jihad, dan mungkin mereka tak kan pernah kembali.
Dalam skala kecil tuntutan berkorban tidak mesti dikaitkan dengan ibadah haji. Setiap hari dalam setiap permasalahan kita selalu diminta untuk selalu siap berkorban. Menyisihkan uang saku atau uang belanja kita untuk infaq kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan adalah pengorbanan. Melapangkan dada ketika melihat saudara kita berlaku kurang baik kepada kita adalah sebuah pengorbanan. Lebih dari itu semua, merelakan kepala kita dipenggal penguasa zhalim –seperti yang dialami Sa’id bin Jubair yang dipenggal oleh pemerintahan Al Hajjaj, karena membela yang benar- bukan suatu yang musykil untuk dikorbankan.
Haji bukanlah sebuah predikat atau pangkat. Sehingga ia bukanlah suatu yang dicari atau diusahakan agar orang yang melaksanakannya disebut dengan sebutan haji. Tapi haji adalah panggilan hati. Hati yang bersih dan ikhlas akan selalu terpanggil jika yang memanggil adalah pemilik hati, Allah. Haji adalah ibadah, sama seperti ibadah-ibadah khashah (khusus) lainnya, seperti shalat, puasa ataupun zakat.
Bertambahnya orang yang pergi ke tanah suci setiap tahunnya adalah sesuatu yang menggembirakan. Mudah-mudahan hal ini bisa dijadikan parameter bertambahnya pemahaman umat Islam terhadap agamanya. Mudah-mudahan pula keberangkatan saudara-saudara kita ke tanah suci ini bukan karena tren atau yang lain, sehingga sepulang mereka ke tanah air menjadi haji yang mabrur. Haji yang tidak sebatas fisik, tapi juga ruhani dan fikirnya. Yang senantiasa menjaga akhlaknya, lisannya, dan seluruh anggota badannya dari perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat Allah.
Selamat menunaikan ibadah haji. Semoga menjadi haji yang mabrur, bukan hanya haji mabur (mabur=terbang), karena naik pesawat terbang.




Kapan ya saya bisa pergi haji..
Makin lama makin susah masuk kuota.
Jatah taun 2009 saja kabarnya sudah habis, sementara yang tahun 2010 juga sudah banyak terjual
@ AL : yang penting niat dulu, trus nabung, daftar ke KBIH yang asli, ambil nomor, nunggu panggilan, kemudian nunggu… lamaaaaa.. sekali..
@ Marsudiyanto : Inden yang tahun 2025 aja pak, kayaknya masih kosong tuh.
ayah … ananda udah niat bahkan tiap tahun udah haji, tapi kok nggak bisa beneran yah … hehehe
@ Noke : Allah itu sesuai persangkaan hambanya. Lha wong niatnya juga niat2an, ya hajinya bareng anak TK. Bukannya ke tanah suci malah ke watu gong.