Kisah Dua Sejoli

Entah siapa yang pertama mengucap janji untuk sehidup dan semati. Tanpa ada wasiat terakhir atau petunjuk lainnya. Yang muncul hanya dugaan-dugaan semata.

Kemarin (18/1) peristiwa mengenas itu terjadi. Di tengah gelapnya malam dan rintik gerimis yang mulai datang di kompleks perumahanku.
Tiba-tiba, listrik padam. Padahal hujan tak begitu deras, angin juga nampak malu-malu membelai dedaunan pohon mangga yang tumbuh megah di depan rumahku yang mungil.

Tak berapa lama, menyusul air PDAM ikut-ikutan mati. Tak ada kabar sama sekali apa gerangan yang sedang terjadi.
Hanya pekat dan dingin yang menerpa wajahku ketika ku ingin tahu.

Ah, dua sejoli itu memang sering membuat janji. Mati untuk hidup lagi. dan hidup untuk mati lagi. Tapi, meski mati dan hidup sering terjadi, toh tagihan keduanya sering gak karuan. Membuat aku harus merogoh kantong yang keberapa (beberapa kantong sdh bolong, gak ada isinya).

Itulah dilema hidup di negeri yang digambarkan Koes Ploes sebagai negeri kolam susu. Tapi, rakyatnya belum pernah jadi raja di kerajaannya sendiri.Takmir (pengelola) negeri ini belum mampu memakmurkan tempat ia bernaung. Mereka masih berkutat untuk memakmurkan diri sendiri, membuncitkan perut sembari melakukan perjudian dengan taruhan perut-perut jama’ahnya.

2 Tanggapan ke “Kisah Dua Sejoli”

  1. Plesetannya maut…
    Saya tergiring oleh kata2nya.
    Kirain Mas Hakimaza & Pasangannya yang berjanji, ternyata…

  2. ulygiznawati Berkata

    salam..
    bacanya udah deg deg an, kirain tentang sepasang kekasih.. eh gak tau nya, plesetan yg amat bersahaja

Tinggalkan Balasan