Sebutir Pasir Seluas Bumi
5 Februari 2009 Tinggalkan Komentar
Hari ini bayar listrik dan air. Saya sengaja berangkat siang agar tidak perlu nunggu petugasnya datang dan ngantri seperti yang sudah-sudah. Dan seperti dugaan saya, tidak bayak yang ngantri. Di PDAM malah tidak ada yang ngantri, sedang di PLN, yah ngantri sebentar, nggak lebih dari 5 menit.
Tapi ada satu ganjalan lagi yang kalau tidak ditumpahkan malah jadi jerawat atau kanker (kantong kering), yang mungkin Anda rasakan juga. Yaitu tentang selisih uang yang saya bayarkan dengan nominal yang tertera di rekening.
Pada rekening air (PDAM) tertulis nominal Rp 28.720, namun saya membayar Rp 28.800 (ada selisih Rp 80). Sedangkan pada rekening listrik (PLN) tertulis nominal Rp 71.330 dan saya harus membayar Rp 71.400 (selisih Rp 70). Dari kedua rekening saya tersebut, saya telah mengeluarkan uang Rp 150 untuk sesuatu yang tidak saya nikmati.
Seandainya ada 1000 pelanggan PDAM dan PLN yang mengalami hal serupa, maka ada Rp 150.000/bulan yang harus dibayarkan konsumen untuk sesuatu yang tidak pernah mereka nikmati atau gunakan. Dan itu baru 1 bulan, bagaimana kalau 1 atau 10 tahun? Bagaimana kalau ada 10.000, 100.000 atau 1 juta orang? Silakan hitung sendiri.
Yang perlu kita cermati bukan angka nominal yang Rp 150 tadi, tapi pertanggungjawaban akan dana dari masyarakat sebesar Rp 150.000/bulan. Kemanakah uang itu pergi? Digunakan oleh siapa dan untuk apa? Mungkin, inilah salah satu asal muasal korupsi.
Atau kasus lain, ketika kita belanja di supermarket atau swalayan dan tidak ada uang kembalian Rp 50 atau Rp 100, maka kasirun (maksudnya orang yang jadi kasir) akan memberikan permen sebagai gantinya.
Padahal, ada langkah lain yang bisa di tempuh. Yaitu dengan menggandeng lembaga-lembaga pengumpul zakat yang kredibel atau akuntabel, untuk mengelola dana yang ‘kecil’ tadi. Sehingga lebih termanfaatkan dan kita pun sebagai konsumen merasa nyaman, ketika dalam rekening atau nota kita tertulis Dana Sumbangan Rp 70. Lebih-lebih lagi bila setiap bulan tertempel pendapatan dari yang ‘kecil-kecil’ tadi di tempat-tempat kita membayar listrik, telpon, air, atau di tempat-tempat lain.
Sebutir pasir tidak lah berarti kalau ia hanya sebutir, tapi kalau ia terkumpul dan dikumpulkan, maka ia bisa setinggi gunung atau seluas bumi.




Katanya