Catatan Pengembara

mencari hakikat hidup untuk kehidupan yang abadi

Kearifan Pemimpin

Suatu ketika, seorang utusan dari Azerbaijan tiba di Madinah. Karena hari sudah larut malam, ia memutuskan bermalam di masjid Nabi. Namun ketika hendak tidur, ia mendengar suara orang sedang menangis dan merintih di malam yang dingin dan sunyi itu. Orang itu memohon kepada Allah: “Ya Allah, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah engkau menerima tobatku agar aku bisa mengucapkan selamat pada diriku, atau engkau menolaknya agar aku menyampaikan rasa duka citaku pada diriku?”

Utusan dari Azerbaijan itu amat terkesan. Matanya tidak jadi dipejamkan. Karena penasaran, didekatinya orang itu seraya bertanya, “Assalamu’alaikum. Wahai saudaraku, siapakah engkau?”
Di kegelapan, orang itu menjawab, “Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh. Aku Umar bin Khattab.”

Alangkah terkejutnya utusan itu. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Khalifah Umar di Masjid Nabi. “Aku adalah utusan wali dari Azerbaijan. Aku datang ke Madinah untuk menyampaikan amanat kepada Amirul Mukminin. Sampai di sini, ternyata hari sudah malam. Maka kuputuskan besok pagi saja aku menjumpai Anda, wahai Amirul Mukminin, karena aku tidak ingin mengganggi tidur Anda. Ternyata, Anda ada di sini…”

Khalifah menjawab perkataan orang itu dengan singkat, “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah, dan bila aku tidur sepanjang hari, berarti aku telah mengabaikan rakyatku.”

Setelah keduanya menunaikan shalat fajar, Khalifah mengajak tamunya singgah ke rumahnya. Sesampai di rumah, Khalifah berkata pada istriny, “Ya Ummu Kultsum. Tolong hidangkan makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”
“Insya Allah,” jawab istri Umar. “Tapi tidak ada apa-apa selain roti dan garam.”
“Tidak mengapa,” jawab Umar lembut. Sesaat kemudian, Umar dan tamunya menikmati roti dan garam.

Usai makan, Khalifah Umar bertanya kepada tamunya, “Apa maksud kedatangan Anda kali ini?”
Utusan dari Azerbaijan itu menjawab, “Aku diutus untuk menyampaikan hadiah ini kepada Anda.”
“Bukalah bungkusan itu,” pinta Umar. “Aku ingin tahu isinya.”
Ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. “Gula-gula ini sungguh enak, Amirul Mukminin. Ini produk istimewa Azerbaijan.”
Umar bertanya lagi, “Apakah kaum muslimin di Madinah juga mendapat kiriman gula-gula ini?”
Utusan itu tertegun sejenak, lalu menjawab gugup, “Ti..tidak, Amirul Mukminin. Gula-gula ini khusus untuk Anda.”

Mendengar ucapan utusan itu, Khalifah Umar amat marah. Ia segera memerintahkan utusan itu untuk membawa hadiah itu ke masjid dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang membutuhkannya. Dengan tegas Umar bin Khattab berkata, “Barang itu haram masuk ke perutku, kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan Anda, cepatlah kembali ke Azerbaijan. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia mengulangi perbuatannya, ia akan kupecat.”

Filed under: Peristiwa, Renungan, Sejarah , , ,

Bukan Karena Umar!

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.

Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat ini.” Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan, Sejarah ,

Test MI

Setelah membuka blog milik seorang teman, saya tertarik dengan salah satu muatan dalam sidebar (widget)nya. Yaitu yang memuat info tentang kecerdasan majemuk seseorang.

Isi widget tersebut berasal dari My Personality. Maka tanpa menunggu angkot datang, langsung saja saya meluncur ke lokasi.
Setelah berbasa-basi dengan bagian customer service, Read the rest of this entry »

Filed under: Belajar, Catatan, Guru , ,

Mengenal Takut

Manusia diberikan berbagai naluri untuk mempertahankan hidupnya. Salah satunya adalah rasa takut. Jadi takut adalah satu dari beberapa naluri yang Allah berikan kepada manusia untuk mempertahankan hidup.

Namun kita perlu hati-hati. Ternyata tidak semua rasa takut itu merupakan naluri yang dibenarkan oleh Allah. Ada dua jenis macam takut yang perlu kita ketahui, yaitu khauf thabi’i (rasa takut tabiat) dan khauf syar’i (rasa takut syar’i). Keduanya saling bertolak belakang.
Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan, Renungan , ,

Tanggal Arsip

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Gudang Arsip