Shalih Tanpa Nama
1 Maret 2009 Tinggalkan Komentar
“Berapa banyak yang terjadi, golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan ijin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249)
Al Qur-an banyak bercerita tentang orang-orang shalih tanpa nama. Memang ada kisah-kisah israiliyat yang mengurai nama-nama dari orang-orang tanpa nama dalam al Qur-an itu. Tapi tak mudah mempercayai kisah israiliyat itu. Karenanya mengimani kebenaran peristiwanya, lalu mengambil pelajarannya, jauh lebih penting ketimbang mencari tahu siapa nama orang-orang itu.
Dua orang shalih pengikut Musa
Setelah selamat dari kerajaan Fir’aun, Musa dan kaumnya disuruh memasuki Baitul Maqdis. Tapi para pengikutnya enggan. Kecuali dua orang diantara mereka.
“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman’.” (QS. Al Maidah: 23)
Orang shalih di tengah kerajaan Fir’aun
Di tengah Fir’aun ada orang shalih yang telah lama memendam imannya. Pada waktu yang telah ia tetapkan, ia muncul dan menyuarakan imannya serta menyadarkan Fir’aun dan para pengawalnya denganbahasa keimanan yang penuh wibawa.
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan: Tuhanku ialah Allah, padahal ia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu’. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS Ghafir: 28).
Pelajaran Berharga
Ada pelajaran tersendiri dari kisah-kisah orang shalih tanpa nama yang diabadikan Allah dalam al Qur-an itu:
Pertama, bahwa peran-peran tertentu dalam perjuangan da’wah kadang lebih membutuhkan fungsinya ketimbang labelnya. Meskipun pada saat tertentu formalitas memiliki keperluannya sendiri. Tapi itu hanya teknis saja.
Kedua, bahwa ada peran-peran strategis dalam da’wah yang membutuhkan kerahasiaan. Yang hanya boleh muncul pada saat-saat kritis, sesuai kebijakan da’wah yang ada.
Ketiga, bahwa menjadi shalih bukan monopoli orang-orang besar, yang bernama, terkenal, bergelar, atau yang punya banyak relasi dan koneksi. Tidak. Tapi semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi orang shalih.
Keempat, bahwa segala bentuk keshalihan harus diikhlaskan untuk Allah SWT. Tidak untuk orang lain. Orang-orang shalih tanpa nama yang dikisahkan al Qur-an itu justru punya ma’rifah lebih dalam kepada Allah ketimbang orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu bisa dirasakan dari untaian kalimat-kalimat mereka. Semua begitu mendalam, penuh hikmah dan begitu tajam. Tak lain semua itu adalah buah keikhlasan yang selama ini mereka tempa. Seluruh isi hatinya terpenuhi oleh rasa cita yang tulus kepada Allah SWT.
Bagaimana dengan kita?




Katanya