Catatan Pengembara

mencari hakikat hidup untuk kehidupan yang abadi

Buat Apa Sekolah? Sekolah Buat Apa?

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan Cawang. Walau sering terlambat, kali ini saya datang lebih awal ke tempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari Depok-Cikarang. Tidak tahan kemacetan Ibu Kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan-rekan sambil menunggu jemputan. Muncullah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

“Koran..Koran…, Kompas, Media, Tempo, Republika, Warta Kota” begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan koran kepada kami.
“Koran, Bang?” dia menawariku untuk membeli Koran.
“Seperti biasa, Republika satu” kataku meminta koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih koran yang kuminta diantara tumpukan koran dagangannya.

“Ini bang korannya” dia memberikan koran yang aku minta.
“Nih, ada kembaliannya engga?” Read the rest of this entry »

Filed under: Belajar, Catatan, Guru, Renungan , , ,

Secawan Madu

Di sebuah desa di lereng gunung Merapi, hiduplah sekelompok masyarakat desa. Tanah yang subur memberikan apa yang mereka butuhkan. Gunung dan hutan dengan aneka hewan buruan. Sungai yang mengalir sepanjang tahun. Masyarakatnya hidup damai dan saling menghormati. Ditambah lagi seorang bijak memimpin mereka sebagai kepala desa.

Desa tersebut terkenal sebagai penghasil madu yang baik. Karena lebah-lebah mengambil sari bunga dari tanaman di hutan yang masih alami. Dan oleh lebah, sari bunga ini diubah menjadi madu-madu yang bermutu. Maka tak heran bila ternak lebah madu menjadi primadona mata pencaharian di desa tersebut.

Masyarakat desa mempunyai suatu kebiasaan atau budaya turun temurun. Yaitu setiap musim panen madu, petani lebah madu diharuskan memberikan hadiah atau persembahan secawan madu hasil panennya kepada tetua di daerah tersebut. Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan, Renungan , , ,

Harga Sebuah Kematian

Manusia lahir sekali. Hidup sekali. Dan, mati pun hanya sekali. Lahir, hidup dan mati ibarat sebuah lorong sangat panjang. Bermula dari gelap dan berakhir pada gelap.

Di jaman batu, ketika peradaban tak banyak punya rentang ruang dan waktu, jalan menuju kematian belum beragam. Bukan karena takdir Allah tidak berlaku. Tetapi sarana menuju kematian itu memang belum bermacam-macam. Padahal sarana itu juga bagian dari takdir kematian itu sendiri. Sesuatu yang sering disebut ulama dengan istilah ‘takdir persambungan’.

Berbeda dengan sekarang, ketika peradaban menemukan cita rasa dan warna yang berhamburan. Ada beribu jalan menuju kematian, bahkan berjuta. Tetapi toh manusia hanya akan mengambil saja, tidak lebih.

Seiring banyaknya kepentingan hidup, harga sebuah kematian menjadi sangat beragam. Tidak lagi karena siapa yang mati, tetapi konteks apa kematian itu terkait dengan kepentingan orang-orang yang masih hidup.
Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan, Renungan , , ,

Kekuasaan Spiritual

Kata-katanya adalah sihir. Suara yang mengantar pikiran-pikirannya adalah gema yang menguasai jiwa. Sorot mata yang menyertai nasihat-nasihatnya adalah kekuasaan yang mengalahkan hati. Ribuan, atau bahkan ratusan ribu orang, menemui kesadarannya kembali begitu mereka mendengarkannya. Mereka semua bertaubat seketika. Bahkan pemilik hati sekeras batu sekalipun. Bahkan penguasa paling digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidunya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Orang itu bernama Abdurrahman Ibnul Jauzi. Ia bukan penguasa. Bukan raja. Bukan pula khalifah. Ia hanya seorang ulama. Tapi memiliki kekuasaan yang lain. Tidak mengikat. Tapi mengendalikan. Tidak menekan. Tapi menggetarkan. Tidak mengancam. Tapi mempesona. Tidak menakutkan. Tapi menggairahkan. Tidak memaksa. Tapi mencerahkan. Itulah kekuasaan spiritual.

Read the rest of this entry »

Filed under: Catatan, Renungan , , , , ,

Tanggal Arsip

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Gudang Arsip