Arsip untuk April, 2009

Buat Apa Sekolah? Sekolah Buat Apa?

Posted in Belajar, Catatan, Guru, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 28 April 2009 by hakimaza

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan Cawang. Walau sering terlambat, kali ini saya datang lebih awal ke tempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari Depok-Cikarang. Tidak tahan kemacetan Ibu Kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan-rekan sambil menunggu jemputan. Muncullah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

“Koran..Koran…, Kompas, Media, Tempo, Republika, Warta Kota” begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan koran kepada kami.
“Koran, Bang?” dia menawariku untuk membeli Koran.
“Seperti biasa, Republika satu” kataku meminta koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih koran yang kuminta diantara tumpukan koran dagangannya.

“Ini bang korannya” dia memberikan koran yang aku minta.
“Nih, ada kembaliannya engga?” Baca selebihnya »

Secawan Madu

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 22 April 2009 by hakimaza

Di sebuah desa di lereng gunung Merapi, hiduplah sekelompok masyarakat desa. Tanah yang subur memberikan apa yang mereka butuhkan. Gunung dan hutan dengan aneka hewan buruan. Sungai yang mengalir sepanjang tahun. Masyarakatnya hidup damai dan saling menghormati. Ditambah lagi seorang bijak memimpin mereka sebagai kepala desa.

Desa tersebut terkenal sebagai penghasil madu yang baik. Karena lebah-lebah mengambil sari bunga dari tanaman di hutan yang masih alami. Dan oleh lebah, sari bunga ini diubah menjadi madu-madu yang bermutu. Maka tak heran bila ternak lebah madu menjadi primadona mata pencaharian di desa tersebut.

Masyarakat desa mempunyai suatu kebiasaan atau budaya turun temurun. Yaitu setiap musim panen madu, petani lebah madu diharuskan memberikan hadiah atau persembahan secawan madu hasil panennya kepada tetua di daerah tersebut. Baca selebihnya »

Harga Sebuah Kematian

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 20 April 2009 by hakimaza

Manusia lahir sekali. Hidup sekali. Dan, mati pun hanya sekali. Lahir, hidup dan mati ibarat sebuah lorong sangat panjang. Bermula dari gelap dan berakhir pada gelap.

Di jaman batu, ketika peradaban tak banyak punya rentang ruang dan waktu, jalan menuju kematian belum beragam. Bukan karena takdir Allah tidak berlaku. Tetapi sarana menuju kematian itu memang belum bermacam-macam. Padahal sarana itu juga bagian dari takdir kematian itu sendiri. Sesuatu yang sering disebut ulama dengan istilah ‘takdir persambungan’.

Berbeda dengan sekarang, ketika peradaban menemukan cita rasa dan warna yang berhamburan. Ada beribu jalan menuju kematian, bahkan berjuta. Tetapi toh manusia hanya akan mengambil saja, tidak lebih.

Seiring banyaknya kepentingan hidup, harga sebuah kematian menjadi sangat beragam. Tidak lagi karena siapa yang mati, tetapi konteks apa kematian itu terkait dengan kepentingan orang-orang yang masih hidup.
Baca selebihnya »

Kekuasaan Spiritual

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 18 April 2009 by hakimaza

Kata-katanya adalah sihir. Suara yang mengantar pikiran-pikirannya adalah gema yang menguasai jiwa. Sorot mata yang menyertai nasihat-nasihatnya adalah kekuasaan yang mengalahkan hati. Ribuan, atau bahkan ratusan ribu orang, menemui kesadarannya kembali begitu mereka mendengarkannya. Mereka semua bertaubat seketika. Bahkan pemilik hati sekeras batu sekalipun. Bahkan penguasa paling digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidunya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Orang itu bernama Abdurrahman Ibnul Jauzi. Ia bukan penguasa. Bukan raja. Bukan pula khalifah. Ia hanya seorang ulama. Tapi memiliki kekuasaan yang lain. Tidak mengikat. Tapi mengendalikan. Tidak menekan. Tapi menggetarkan. Tidak mengancam. Tapi mempesona. Tidak menakutkan. Tapi menggairahkan. Tidak memaksa. Tapi mencerahkan. Itulah kekuasaan spiritual.

Baca selebihnya »

Perbedaan Sekolah Knowing dan Being

Posted in Catatan, Guru dengan kaitan (tags) , , on 17 April 2009 by hakimaza

Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya kedatangan seorang tamu dari Inggris, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zebra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross. Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelangkan kepalanya tanda begitu ‘kagumnya’ terhadap prilaku bangsa kita.

Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, yakni perbedaan antara teman saya yang dari Inggris dengan saya sebagai orang Indonesia.

Para orang tua dan guru yang berbahagia….pada saat kami sedang beristirahat di salah satu tempat wisata, akhirnya saya tak tahan lagi untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu tapi toh rasa penasaran saya berhasil mengalahkan rasa malu saya.

“Tahukah Anda mengapa orang-orang di negara kami menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, Anda selalu konsisten mencari zebra cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross“, tanya saya padanya.

Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. “Edy…Its all happen because of The Education System“, katanya. Baca selebihnya »

Coblos.. eh.. contreng..

Posted in Belajar, Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) on 16 April 2009 by hakimaza

Seorang teman uring-uringan. Apa pasal? Karena PRT di rumahnya mencontreng partai yang berbeda dengan dirinya pada 9 April yang lalu. Lho, apa tidak boleh?

“Bukan itu masalahnya. Dia itu semula menganggur. Lalu saya tawari untuk menjadi pembantu di rumah saya. Terus, anaknya yang masih SD saya carikan beasiswa agar sedikit meringankan bebannya. Alhamdulillah, partai tempat saya aktif bersedia memberikan bantuan beasiswa. Eh..lah kemarin waktu Pemilu kok milih partai lain Baca selebihnya »

Kontinuitas Amal

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 15 April 2009 by hakimaza

Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh. Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah.

Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akhirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut ayat 1-4.

“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.”

Kontinuitas dalam beramal memang sulit. Baca selebihnya »

Kegigihan

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 9 April 2009 by hakimaza

MALAM. Terdengar suara mencurigakan dari depan rumahku. Kucoba intip keluar. Tidak ada siapa-siapa. Sepi. Suara itu masih terdengar. Penasaran, aku segera keluar untuk mencari sumber suara. Kubuka pintu depan dengan perlahan. Brrrr. Udara dingin segera menerpaku. Segera kurapatkan jaket yang kukenakan. Kutajamkan pendengaranku. Suara itu semakin keras kudengar. Berasal dari kebun kecil di depan rumah. Baca selebihnya »