Coblos.. eh.. contreng..
Seorang teman uring-uringan. Apa pasal? Karena PRT di rumahnya mencontreng partai yang berbeda dengan dirinya pada 9 April yang lalu. Lho, apa tidak boleh?
“Bukan itu masalahnya. Dia itu semula menganggur. Lalu saya tawari untuk menjadi pembantu di rumah saya. Terus, anaknya yang masih SD saya carikan beasiswa agar sedikit meringankan bebannya. Alhamdulillah, partai tempat saya aktif bersedia memberikan bantuan beasiswa. Eh..lah kemarin waktu Pemilu kok milih partai lain, gara-gara diberi uang 50 ribu. Siapa yang gak kesel, coba? Saya sih tidak mempermasalahkan ia pilih partai lain. Tapi yang bikin saya jengkel, ia tidak enak kalo tidak memilih partai yang sudah memberikan uang 50 ribu padanya,” ceritanya berair-air (bukan berapi-api, karena sempat ‘hujan’ sedikit).
“Padahal,” lanjutnya, “Pemilu itu kan untuk 5 tahun. Coba 50 ribu dibagi 5 tahun? Lah setahun kok cuma dihargai 10 ribu. Betul, tho? Kalau dibandingkan dengan bantuan yang selama ini diterima dari partai saya, kan gak ada emput-empute (bandingannya). Bukan saya mau membangga-banggakan partai saya, tapi kok ya kebangeten milih partai kok gara-gara diberi uang segitu. Heeh…”
Lain lagi dengan tetangga saya. Dalam rapat RT, ia mengemukakan ide yang ‘brilian’.
“RT sebelah, kemarin didatangi sama caleg A dari partai anu. Terus diberi janji akan diberi bantuan sebesar 5 juta untuk kas RT. Wah lumayan tuh buat pembangunan lingkungan. Nah, apa tidak sebaiknya kita nyari caleg yang mau, terus kita tawarkan agar mau memberi bantuan. Yah..kasarannya, yang mau beli suara warga, sesuai jumlah warga di sini berapa, per kepala berapa gitu. Lumayan lho.”
Bapak-bapak yang lain cengar-cengir, pak RT manggut-manggut, saya geleng-geleng.
Di daerah pesisir di kotaku, ibu-ibu dan kaum lansia menggeruduk rumah tim sukses salah seorang caleg. Gara-garanya, tim sukses tersebut ingkar janji. Waktu musim kampanye kemarin, ia menjanjikan uang 25 ribu ke warga, bila warga mau mencontreng caleg yang dimaksud. Sang tim sukses juga sempat mendata nama warga yang bersedia. Nah setelah pencontrengan, uang yang dijanjikan kok tidak kunjung tiba. Akhirnya mereka yang merasa dibohongi menggeruduk rumah tim sukses tadi. (Suara Merdeka, 14/4/09)
Anda punya kisah lain?
16 April 2009 pada 6:47 pm
Menurut Mas Hakim, pembantunya teman Mas Hakim tadi pinter apa bodo???