Kekuasaan Spiritual

Kata-katanya adalah sihir. Suara yang mengantar pikiran-pikirannya adalah gema yang menguasai jiwa. Sorot mata yang menyertai nasihat-nasihatnya adalah kekuasaan yang mengalahkan hati. Ribuan, atau bahkan ratusan ribu orang, menemui kesadarannya kembali begitu mereka mendengarkannya. Mereka semua bertaubat seketika. Bahkan pemilik hati sekeras batu sekalipun. Bahkan penguasa paling digdaya yang tidak pernah menangis seumur hidunya akan menangisi dirinya di hadapannya.

Orang itu bernama Abdurrahman Ibnul Jauzi. Ia bukan penguasa. Bukan raja. Bukan pula khalifah. Ia hanya seorang ulama. Tapi memiliki kekuasaan yang lain. Tidak mengikat. Tapi mengendalikan. Tidak menekan. Tapi menggetarkan. Tidak mengancam. Tapi mempesona. Tidak menakutkan. Tapi menggairahkan. Tidak memaksa. Tapi mencerahkan. Itulah kekuasaan spiritual.

Kekuasaan spiritual adalah kekuasaan orang yang tidak berkuasa secara struktural. Ia berkuasa karena kekuatan kepribadiannya. Ia berkuasa dengan kharismanya. Kharismanya terbentuk dari gabungan wibawa dan pesona, ilmu dan akhlak, pikiran dan tekad, keluasan wawasan dan kelapangan dada. Mereka menyebarkan ilmu dan cinta. Mereka membawa cahaya dan menerangi kehidupan manusia.

Ulama, pemikir, budayawan, seniman, biasanya memiliki jenis kekuasaan seperti ini. Mereka tidak menguasai leher kita. Tapi mereka menguasai pikiran dan jiwa kita. Mereka tidak menguasai hidup kita. Tapi mengarahkan hidup kita. Ketaatan kita kepada mereka lahir dari pengakuan yang tulus atas integritas mereka. Bukan ketakutan terhadap kekuasaan dan ancaman mereka. Ketundukan itu muncul dari rasa hormat dan cinta. Bukan dari rasa takut dan ketidakberdayaan.

Kekuatan spiritual biasanya menembus sekat-sekat waktu. Sebab ia tidak bercokol dalam batasan waktu kekuasaan struktural. Kekuasaan itu melekat dalam serat-serat pikiran kita, merengkus setiap sudut jiwa kita. Ia datang seperti angin yang meniup gunung pasir di tengah sahara. Pasir-pasir lembut itu beterbangan sampai jauh. Lalu membentuk gunung pasir yang lain. Di tempat lain, yang lebih indah.

Atau seperti oase di tengah gurun: di sanalah para pengembara menyelesaikan dahaga. Atau mungkin seperti telaga dalam bait-bait Sapardi Djoko Damono dalam “Akulah Si Telaga”:

Akulah si telaga; berlayarlah diatasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga Padma;
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana, tinggalkanlah begitu saja perahumu
Biar aku yang menjaganya.

(Tulisan Anis Matta)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s