Kau Bukan yang Dulu Lagi

Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali iangatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.

Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam.

Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa garis-garis hidup ternyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok lain dari hari yang lalu.

Karena pada hari ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah, ingatannya akan masa lalu hadir melipat-lipat seluruh batinnya. Secepat itu kenangan tentang dirinya dahulu hadir, pada detik-detik sangat bersejarah dalam hidupnya. Betapa ia kini bukan yang dulu lagi: seorang Umar yang necis, dari keluarga terpandang, dan bisa bersenang-senang dengan harta dan kehormatan yang melimpah.

Pada hari itu pula ia menulis surat panjang pada anaknya, Abdul Malik, di Madinah. Ia tumpahkan seluruh isi hatinya.

“Ayahmu dulu seperti orang umumnya, tinggal bersama para saudaranya di sisi orang tuanya. Saudara ayahmu yang besar mengasihi ayahmu. Saudara yang kecil mendekat dan minta dinaungi. Bila kemudian Allah memberi ayahmu ini nasib yang baik, segala puji bagi-Nya, dan aku pun rela menerimanya.”

Umar melanjutkan, “Lalu kamu pun lahir. Lahir pula saudara-saudaramu. Aku pun tetap tinggal di rumah itu bersama kalian. Tidak pernah aku meninggalkan rumah yangh dari dulu aku tempati itu.”

Seperti juga Umar bin Abdul Aziz, setiap kita mungkin pernah mengalami perubahan hidup, yang membuat kita kehilangan sebagiandari masa lalu kita, kehilangan apa-apa yang dulu kita miliki. Bahkan mungkin kehilangan jati diri kita. Dari orang biasa menjadi orang luar biasa. Atau sebaliknya, dari orang luar biasa menjadi orang yang biasa. Dari status yang satu ke status yang lain.

Suasana hidup bersama saudara, dalam suasana yang tanpa beban, seperti dialami Umar bin Abdul Aziz terasa hilang ketika ia harus menjadi khalifah. Ia seperti kehilangan hari-hari ketika ia merasa hanya seorang anak, bermain bersama saudara. Lalu ia besar, menikah, dan kemudian punya anak. Lalu lahir pula anaknya yang lain, satu demi satu. Bahkan ia nyaris pernah tinggal selain di rumah tuanya itu.

Begitu pula kita. Ingatlah ketika dahulu kita masih kanak-kanak. Sebagian besar kita mungkin bermain, dengan tanpa beban. Ayah dan ibu kita mungkin sesekali memarahi kita. Tetapi kasih dan sayangnya begitu teduh. Cinta dan pemberiannya begitu luas.

Mungkin diantara kita, kala kecil itu, tak semujur itu. Menghabiskan masa kecil adalah perjuangan berat melawan arogansi orang-orang dewasa yang kejam. Kita terlampau cepat renta sebelum waktunya. Tak ada belaian ibu atau uang saku dari ayah.

Lalu hari ini, tiba-tiba kita telah menjadi seperti ini. Menjadi diri kita yang hari ini. Menjadi pegawai? Pedagang? Direktur? Anggota dewan? Petani? Guru? Mahasiswa? Politisi? Ibu rumah tangga? Karyawan? Orang terkenal? Orang biasa?

Mungkin ayah atau ibu sebagian kita sudah pergi selamanya. Mungkin sebagian kita tak lagi bisa dekat dengan sanak saudara. Sebab semua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Kita yang dulu hidup di dunia yang ramai dan ramah, seperti merasakan kesepian yang memagut-magut perasaan, sedetik demi sedetik.

Tetapi Umar bin Abdul Aziz mengajarkan pada kita hal yang jauh lebih penting dari sekadar kehilangan sesuatu dari diri dan kehidupan ini. Ialah bagaimana menyikapi kehilangan itu. Bagaimana bertindak menghadapi sebuah kehilangan dan perubahan yang pasti terjadi pada setiap orang.

Umar tidak larut pada perubahan diri dan status yang cukup mengguncang itu. Ia tidak tenggelam dalam kegalauan pribadi menghadapi hari baru, status baru, tugas baru dan dunia baru sebagai khalifah. Meski sepenuhnya sadar, bahwa ia harus kehilangan hari kemarin, status yang kemarin, suasana kemarin, dan segala hal yang dulu menyertainya. Dalam statusnya sebagai ‘hanya’ seorang anak keturunan Bani Umayah yang bisa bersenang-senang di lingkungan kekuasaan Bani Umayah yang megah.

Umar mendeklarasikan jati dirinya yang baru. Sebab dunianya yang baru tidak bisa ia hadapi dengan dunianya yang lama. Sebab tantangan hidupnya yang baru, tidak bisa ditundukkan dengan kebesarannya di masa lalu. Umar benar-benar mencari pengganti kehilangan itu, dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Maka bila dahulu ia bergelimang harta, sejak detik itu ia meneguhkan diri, sepenuh hati, sekuat jiwa untuk mengejar akhirat, mengingat kematian, dan menyelimuti seluruh jiwanya dengan rasa takut yang mendalam akan hari pehitungan. Tak heran, bila salah seorang sahabatnya, Abu Yunus bin Abi Syabib berkata, “Dahulu aku menyaksikan Umar bin Abdul Aziz, bila melakukan thawaf, maka kain sarungnya terseret panjang. Tapi setelah menjadi khalifah, kalau aku mau, aku bisa menyentuh rusuknya, tanpa ada sarung yang menutupinya.

Umar melanjutkan suratnya untuk anaknya, dengan menuliskan sesuatu yang sebenarnya juga untuk dirinya, bahwa detik inilah saatnya, bila ia ingin menjadi dirinya yang baru. “Maka, barang siapa yang ingin mengejar surga dan ingin berlari dari neraka, sekarang inilah saatnya. Saat taubat masih bisa diterima. Saat dosa masih bisa diampuni. Sebelum ajal memenggal, sebelum amal terputus, sebelum Allah menghitung perbuatan manusia, ditempat yang tak diterima lagi persembahan, tidak berguna bagi alasan-alasan. Yang tersembunyi menjadi nampak. Syafa’at tidak berfungsi lagi. Manusia berbondong-bondong dengan amal perbuatannya. Datang dengan bercerai-berai menuju kedudukannya masing-masing. Maka beruntunglah hari itu mereka yang mentaati Allah. Dan binasalah mereka yang memaksiati Allah.”

Deklarasi diri itu ia taati. Maka kemudian Umar bin Abdul Aziz pun melegenda dengan kepemimpinannya yang adil, kezuhudannya yang paripurna. Lantas itu semua jauh lebih dikenal sejarah daripada kebesarannya dahulu, ketika ia menjadi pemuda pesolek dari keluarga istana yang gemerlapan.

Dalam surat yang sama Umar bin Abdul Aziz menegaskan, “Wahai anakku, bila engkau diuji Allah dengan kekayaan yang melimpahkan, sederhanalah engkau dalam menggunakan hartamu. Rendahkanlah dirimu di hadapan Allah. Tunaikan kepada Allah, kewajiban-kewajibanmu pada hartamu untuk hak-hak-Nya. Katakan ketika itu, apa yang dikatakan seorang hamba yang shalih, ‘Ini semua adalah atas karunia Allah, untuk menguji aku, apakah aku akan bersyukur atau akan menjadi kufur’.”

Tetapi tidak semua orang bisa setegar Umar, secerdas Umar, dan setangguh Umar. Mungkin masih banyak diantara kita yang kehilangan masa lalu, dengan segala kenangan indahnya, kehilangan keahlian dan kecakapan profesional, yang dulu menjadi merek dirinya yang melegenda: sang demokrat, misalnya, sang pengusaha bertangan dingin, misalnya, sang kreator perubahan sosial, misalnya. Atau sang murobbi tangguh dengan mutarobbi yang banyak, misalnya, sang ustadz dengan jadwal mengisi kajian yang seabreg, misalnya. Bahkan, sang anak manis yang berbakti dan jujur pada kedua orang tuanya. Sebabnya adalah, setiap orang pasti kehilangan sebagian atau seluruh dirinya, yang ia miliki dahulu. Tetapi tidak semua orang bisa mencari pengganti bagi kehilangan-kehilangan itu, pada hari-harinya yang baru atau statusnya yang baru.

Itu sebabnya, mengapa yang sukses menjadi bujangan, belum tentu sukses menjadi suami atau istri. Yang sukses ketika masih kuliah, belum tentu sukses ketika hidup bemasyarakat. Yang sukses menjadi ilmuwan, belum tentu sukses menjadi praktisi. Yang sukses menjadi ustadz atau murobbi, belum tentu sukses menjadi politisi. Yang sukses di tengah dekapan ayah ibunya, belum tentu suskes melawan kesendirian, bahkan mungkin kelak, ketika ia sendiri yang berganti menjadi orang tua. Karena tidak semua orang bisa mengakhiri dengan baik sebuah kebesaran. Sebagaimana tidak semua orang bisa menyambung sebuah kebesaran lama, dengan kebesaran baru, akibat siklus hidup yang terus berganti, berputar, dan menyeret kita ke dalam dunia yang benar-benar bukan yang dulu.

Sebuah kesuksesan dan kebesaran, seringkali melegenda dalam sebuah dinasti atau usia tertentu. Tetapi kebesaran itu hilang dan sirna karena tak kuasa menghadapi jaman baru, situasi baru, kondisi baru, dan takdir-takdir baru.

Ini sepertinya membuat kita harus memakmani lebih rumit perjalanan hidup kit. Tak mengapa. Bukan soal rumitnya, tentu. Sebab, bisa jadi kita begitu hanyut dalam rutinitas, atau sebaliknya, terjerembab dalam perubahan dan persaingan hidup yang sangat keras, tanpa kita menyadari, betapa ternyata telah begitu banyak yang hilang dari diri kita. Betapa, ternyata, kita bukan yang dulu lagi. Bukan pula kita yang baru, dengan kebesaran yang benar-benar baru.

Sekali lagi, sejujurnya kita memang harus bertanya, adakah yang telah hilang dari diri kita?
“Wahai jiwa yang tertipu oleh dunia, sadarlah bahwa dunia pasti akan sirna. Dan bersungguhlah dalam meraih kekayaan yang akan abadi. Kalau kita berakal, pasti kita tidak bisa tertawa barang sesaat. Tetapi kita telah kehilangan akal.” (Fakhruddin al Bakri An Naizaburi).
Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan