Arsip untuk Juni, 2009

Hati-hati dengan Resep Dokter!

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 29 Juni 2009 by hakimaza

Tulisan berikut ditulis oleh seorang dokter, yang saya ambil dari Grup Indonesia Healt Care Club.

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’, karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin, padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Baca selebihnya »

Kuingin (Kembali) jadi Raja

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , , , , on 20 Juni 2009 by hakimaza

Ungkapan pembeli (konsumen) adalah raja, nampaknya mulai tidak berlaku lagi di negeri ini. Atau, itu hanya menjadi slogan untuk meninakbobokkan ‘sang raja’ yang sudah kehilangan ‘mahkota’ kerajaannya, direbut oleh ‘perdana mentri’ yang licik atau ‘pelayan istana’ dan ‘punggawa’.

Kasus Prita Mulyasari, hanyalah satu contoh dari sekian banyak bukti bahwa ‘sang raja’ sudah terasing dari kerajaannya. Masih banyak Prita-Prita lain yang belum atau tidak terekam dan terungkap oleh media. Lihatlah, masih ada ‘raja-raja’ yang miskin dan belum melek ilmu. Kalau Prita sudah mengenal e-mail, facebook, dan seabreg teknologi internet lainnya, banyak ‘raja’ yang untuk membaca tulisan saja belum bisa, karena mungkin mereka sering bolos waktu Kejar Paket A.

Mereka (raja-raja miskin) begitu terpesona dengan penampilan para dokter dengan jas putihnya. Seolah bertatap muka dengan begawan Sengkuni dengan jubah putihnya. Alih-alih untuk menanyakan rekam medis, untuk bertatap muka saja mereka ewuh. Mereka biasanya menyingkir dari kamar perawatan, atau hanya terdiam di sudut pembaringan. Kekhawatiran mereka terhadap penyakit yang diderita atau yang diderita sanak saudaranya akan pupus dan berbuah kebahagiaan dengan jawaban sang dokter.
Baca selebihnya »

Miskin yang Kaya

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 6 Juni 2009 by hakimaza

Di kota Madinah yang damai. Beberapa orang miskin dari kaum Muhajirin menemui Rasulullah. Di hadapan Rasul mulia tersebut, orang-orang itu mengadukan sedikit kegundahan mereka. Tidak dalam nada protes, hanya sekedar memohon kejelasan.

“Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Mereka bisa berjuang seperti kami, mereka bisa sholat seperti kami. Tapi mereka bisa berinfaq dengan kekayaan mereka. Sementara kami tidak,” begitulah keluhan yang mereka sampaikan.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah menjawab dengan kasih sayang.
“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang bisa menjadikan diri kalian seperti mereka? Bacalah tasbih (subhanallah) tiga puluh tiga kali, tahmid (alhamdulillah) tiga puluh tiga kali, dan takbir (Allahu akbar) tiga puluh tiga usai sholat.”

Mendengar jawaban Rasulullah tersebut, orang-orang miskin itu merasa lega. Mereka pulang membawa ketenangan dan kedamaian.

Tapi, beberapa waktu kemudian, orang-orang kaya juga mendengar tentang amalan yang diajarkan Rasulullah kepada orang-orang miskin tersebut. Dan, orang-orang kaya itu pun membaca wirid seperti yang dilakukan orang-orang miskin itu. Mereka mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir setiap usai sholat.

Mendengar hal ini, orang-orang miskin itu kembali menghadap Rasulullah, serta menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa orang-orang kaya juga melakukan apa yang mereka lakukan.

Akhirnya Rasulullah pun memberi jawaban, “Itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki.”
Baca selebihnya »