Kuingin (Kembali) jadi Raja

Ungkapan pembeli (konsumen) adalah raja, nampaknya mulai tidak berlaku lagi di negeri ini. Atau, itu hanya menjadi slogan untuk meninakbobokkan ‘sang raja’ yang sudah kehilangan ‘mahkota’ kerajaannya, direbut oleh ‘perdana mentri’ yang licik atau ‘pelayan istana’ dan ‘punggawa’.

Kasus Prita Mulyasari, hanyalah satu contoh dari sekian banyak bukti bahwa ‘sang raja’ sudah terasing dari kerajaannya. Masih banyak Prita-Prita lain yang belum atau tidak terekam dan terungkap oleh media. Lihatlah, masih ada ‘raja-raja’ yang miskin dan belum melek ilmu. Kalau Prita sudah mengenal e-mail, facebook, dan seabreg teknologi internet lainnya, banyak ‘raja’ yang untuk membaca tulisan saja belum bisa, karena mungkin mereka sering bolos waktu Kejar Paket A.

Mereka (raja-raja miskin) begitu terpesona dengan penampilan para dokter dengan jas putihnya. Seolah bertatap muka dengan begawan Sengkuni dengan jubah putihnya. Alih-alih untuk menanyakan rekam medis, untuk bertatap muka saja mereka ewuh. Mereka biasanya menyingkir dari kamar perawatan, atau hanya terdiam di sudut pembaringan. Kekhawatiran mereka terhadap penyakit yang diderita atau yang diderita sanak saudaranya akan pupus dan berbuah kebahagiaan dengan jawaban sang dokter.

Tidak apa-apa, sudah baikan, obatnya diteruskan ya, besok boleh pulang, dan sekarung jawaban yang rata-rata hampir sama antara dokter yang satu dengan dokter yang lain. Seolah dulu dibangku kuliah memang sudah diajarkan jawaban-jawaban itu, sehingga para dokter itu demikian fasih dan cepat menjawab setiap pertanyaan para pasiennya. Seandainya para dokter ikut lomba cepat tepat atau kuis siapa lebih berani mungkin akan keluar sebagai juara.

Ternyata fenomena raja yang kehilangan kekuasaannya tidak hanya menyangkut masalah kesehatannya saja. Di bidang-bidang lain, sedikit demi sedikit juga mulai kehilangan pengaruhnya.
Dalam pemerintahan misalnya, raja (rakyat) yang mempunyai kekuasaan tertinggi, ternyata sering dikadali oleh Joker ataupun pelayan istana yang main mata dengan perdana mentri dan panglima perangnya. Bahkan oleh wakil-wakil yang dipercayai raja untuk mengurus kebutuhan dirinya.

Keluhan-keluhan masyarakat tentang pelayan pemerintah sering kita temui di media cetak. Mulai dari PDAM yang keluarnya crat-crit sampai PLN yang byar-pet. Muka-muka masam di beberapa birokrasi, serta ping-pong dan pungli yang marak. Baru-baru ini (sudah 2 bulan) malah saya dapat ‘pemadaman bergilir’. Bukan PLN, tapi telpon. Sejak pasang telpon 3 bulan yang lalu, 1 bulan pertama lancar-lancar saja tiada gangguan. Tapi memasuki bulan kedua mulai gangguan itu. Awalnya saya mengira mungkin jaringannya ada gangguan, maka saya telpon 147 untuk melaporkan hal tersebut. Responnya cukup bagus, saya telpon pagi hari, siangnya petugas sudah menyambangi rumah saya. Namun, sebelum petugas datang telpon sudah normal kembali. Jadi pak petugas telkom tidak mampu mendeteksi penyebab gangguan.

Beberapa hari kemudian, hal itu terulang lagi. Dan kembali saya menghubungi 147 untuk menyampaikan keluhan saya. Kali ini, petugas datang keesokan harinya. Dan kejadiannya hampir sama. Telpon rumah sudah bisa dipakai kembali sebelum petugas telkom datang. Dan lagi-lagi, petugas telkom tidak tahu akar masalah yang saya hadapi.

Dan gangguan telpon itu masih saya alami sampai tulisan ini saya buat. Di samping karena kesibukan kerja saya, sehingga saya belum sempat melapor ke telkom, juga karena sedikit kesal dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Akhirnya saya nikmati saja gangguan-gangguan itu, sehari nyala, besoknya mati. Pagi bisa dipakai, malamnya kembali tu-la-lit.

Entah sampai kapan gangguan itu akan berlangsung. Mudah-mudahan pihak terkait bisa menyelesaikan masalah yang saya hadapi, karena saya tiap bulan membayar tagihannya, di awal waktu malah. Mudah-mudahan pula tulisan ini tidak dianggap provokasi dan mencemarkan pihak lain, dan bernasib sama seperti Prita Mulyasari. Walaupun kini Prita bak artis dadakan, rakyat se-Indonesia mengenal nama dan deritanya. Dan akhirnya ungkapan ‘Konsumen adalah raja’ benar-benar terwujud, dan sang raja (rakyat) benar-benar terlayani dengan baik oleh pelayannya (pemerintah).

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s