Kecele
7 Agustus 2010 1 Komentar
Ini bukan peristiwa yang saya alami sendiri, tapi ini cerita dari teman saya, Sani.
Pulang kerja, Sani mengendari motor bebeknya ke arah rumah. Sesampainya di perempatan Pedurungan (daerah Timur Kota Semarang), Sani berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Lalu tiba-tiba seorang polisi keluar dari pos jaga. Kontan saja Sani dag-dig-dug-der. Soalnya dia belum punya SIM. Ndremimil mulutnya membaca mantra doa, agar ia terbebas dari pak polisi. Tapi ternyata doanya belum manjur. Pak polisi ternyata berjalan ke arahnya. Blaik, kata Sani dalam hati. Bakal kena tilang nih. Karena pos jaga tersebut terkenal sering meminta ‘mangsa’ para pengendara sepeda motor.
Ikut ke pos, kata pak polisi.
Sani menoleh. Ternyata kalimat itu ditujukan kepada seorang bapak-bapak di sebelahnya.
Sambil berkata seperti itu, pak polisi tersebut mengambil kunci motor bapak tersebut dan melenggang dengan gagahnya kembali ke pos.
Tapi, si bapak tadi cuek saja. Sani heran, nih bapak kok diam saja. Kan kuncinya diambil sama pak polisi. Pengendara motor di sekitarnya tak kalah heran.
Ketika lampu telah berubah menjadi hijau, si bapak tadi ngacir ke arah Barat mengendari motornya. Sani heran, sama herannya dengan pengendara yang lain dan pak polisi melongo karena buruannya lepas.
Sampai sekarang Sani tidak tahu, bagaimana bapak itu menjalankan motornya, kalau kuncinya diambil sama pak polisi. Padahal si bapak tidak nampak membawa kunci cadangan. Kalau ada diantara Anda yang bisa menjawab pertanyaan si Sani, tolong dijawab ya.
Kamus Bs. Jawa:
Kecele=kecewa(?)
Ndremimil=komat-kamit
Blaik=Celaka




wahh, jangan-jangan tuh motor nyalainnya bukan pake kunci, tp pake spion, wkwk
yang nyalain pake helm