Sekolah Pertama
22 Desember 2010 Tinggalkan Komentar
Musim panas 1937 merupakan saat yang amat penting bagi seorang ahli zoologi Austria, Konrad Lorenz. Lima butir telur angsa liar yang telah ia erami berhari-hari akhirnya menetas. Lima pasang mata angsa yang baru melihat dunia pun langsung tertuju padanya. Tidak ada ibu angsa di sana, hanya seorang bapak berambut tebal dan berjanggut yang tersenyum menatap kelima anak angsa tersebut.
Tidak ada teman angsa lainnya untuk bermain. Sejak hari pertama mereka menetas, hanya si bapak berambut tebal dan berjanggutlah yang menemani mereka bermain, berjalan dan berenang di kolam. Setelah beberapa lama, lima anak angsa tersebut benar-benar telah menjadi Konrad Lorenz Junior. Sebab cara mereka berenang, berjalan dan berperilaku persih seperti sang pengasuh.
Dari eksperimen yang dilakukannya ini, Lorenz menemukan bahwa setiap makhluk hidup yang lahir ke dunia sangat membutuhkan “sosok yang merawatnya”, lebih dari sekedar mempertahankan hidup. Dan segala tingkah laku, senyum, ekspresi, bicara, berjalan, berlari dan bertindak cenderung dipelajari dari sosok yang merawatnya tersebut. Penemuan ini kemudian juga mengilhami penelitian tentang kelekatan (attachment) antara ibu-bayi oleh psikoanalis John Bowlby (1940).
Ibu adalah dunia pertama bagi seseorang dalam memahami lingkungan dan diri sendiri. Ia merupakan madrasah pertama untuk anak. Seornag anak akan mentransfer nilai, perilaku, pengetahuan dan bahasa dari pengalaman interaksinya dengan orang terdekat atau obyek cinta, yang biasanya adalah ibu.
Dalam proses transference tersebut, peran ibu sangat penting. Proses ini akan membawa seseorang membentuk perasaan mampu, memahami siapa dirinya dan dunianya serta membentuk harga diri. Karenanya, perlu upaya membentuk hubungan yang sehat antara ibu-anak. Hl itu ditandai dengan terbentuknya hubungan yang matang, memperhatikan kebutuhan anak dengan pas dan senantiasa mempertimbangkan kekhasan yang dimilikinya. Dengan kata lain, dekat tapi bukan dikuasai.
Pujian yang membangun, seperti “anak hebat” atau “anak mama yang hebat” mestinya didasari oleh hal yang realistis/obyektif. Adakalanya perlu untuk menunjukkan bahwa ibu juga kecewa terhadap sikap-sikapnya. Hubungan yang demikian akan membantu anak membentuk self esteem (harga diri) yang baik sehingga ia tetap memahami arti kehangatan, kasih sayang dan empati. Namun, tetap bertanggung jawab dan disiplin sebagai bekal adaptasi yang sehat terhadap lingkungan.
Meski tak ada ibu yang paling sempurna –yang ada hanyalah ibu yang paling kusayang dan kuhormati- bagaimanapun, sebuah usaha untuk menjadi itu perlu dilakukan.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan kemampuan berbahasa anak dengan pola pengasuhan yang diberikan.
Untuk para ibu di seluruh dunia:
Selamat Hari Ibu




Katanya