Mutiara yang Jatuh, Tetap Mahal Harganya

Di sebuah desa, hiduplah dua orang remaja yang berteman sejak kecil. Kasih sayang selalu terlimpah dari kedua orang tuanya masing-masing. Namun sayang. Harapan kedua orang tuanya tidak dapat terwujud. Kedua remaja tersebut telah tumbuh menjadi dua pemuda berandalan, yang tidak mempunyai tata krama dan sering melanggar aturan adat dan agama.

Salah satu kebiasaan mereka adalah mencuri harta benda milik warga desa. Padahal, mencuri merupakan sebuah tindakan kriminal yang sangat dilarang di desa itu. Tindakan ini telah berulang kali mereka lakukan, namun berulangkali pula mereka bisa lolos dari tuduhan.

Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Suatu hari ketika hendak mencuri kambing-kambing milik para petani, kedua pemuda berandal ini tertangkap tangan bersama hewan curiannya. Tak ayal, keduanya segera dibawa ke para tetua desa untuk dimintakan pertanggungjawabannya.

Akhirnya para tetua kampung, setelah mendengar semua keterangan warga desa dan bukti yang dibawa, memutuskan keduanya harus dihukum. Hukuman yang berlaku di desa itu bagi pencuri adalah, disematkan di dahi mereka sebuah tanda. Tanda ini tak akan pernah bisa hilang, karena ia ditorehkan langsung di atas kulit (tato). Sehingga keduanya akan diketahui sebagai terhukum karena mencuri. Sebuah hukuman yang akan dibawa sampai mati.

Salah satu dari pemuda ini merasa sangat malu dengan tanda yang diberikan kepadanya, hingga akhirnya ia memilih untuk pergi dari desa dan tidak ada seorang pun yang mengetahui nasibnya setelah itu. Sedangkan pemuda kedua merasa sangat menyesal dan memutuskan untuk memperbaiki kesalahannya kepada para penduduk desa yang telah dirugikannya.

Pada awalnya penduduk desa meragukan niatnya itu dan menjauhinya. Tetapi pemuda ini tidak berkecil hati. Ia maklum dengan sikap penduduk desa. Ia tetap berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. Ketidak ada penduduk yang sakit, pemuda ini menjenguknya dengan membawa bubur dan memberi nasihat-nasihat yang menentramkan. Begitu juga ketika ada penduduk yang membutuhkan bantuan dalam suatu pekerjaan, pemuda ini dengan ringan mengulurkan tangannya. Dalam membantu ia tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, juga tidak mau menerima upah atas pertolongannya.

Setelah beberapa tahun, lewatlah seorang musafir di desa tersebut. Dia singgah di sebuah warung untuk makan siang. Seusai makan, iapun duduk beristirahat di depan warung makan itu. Musafir ini melihat orang tua yang mempunyai tato aneh di keningnya. Kebetulan orang tua bertato ini duduk dekat dengannya. Musafir ini mencatat, bahwa setiap orang yang lewat di depan orang bertato aneh tersebut pasti berhenti dan berbincang-bincang atau hanya sekedar menunduk hormat kepadanya. Sedangkan anak-anak kecil yang lewat di depannya, mereka menyayanginya dan diapun menyayangi mereka dengan tulus.

Lama-kelamaan, musafir ini penasaran dan bertanya kepada pemilik warung, “Apa arti tato yang ada di kening orang tua itu?”

Pemilik warung tersebut menjawab, “Aku tidak tahu, hal itu sudah ada sejak aku masih kecil.” Setelah diam sejenak untuk berfikir dia kembali berkata, “tetapi aku mengira bahwa tato itu adalah tanda atas kebaikannya.”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s