Undangan Pernikahan
25 Februari 2011 Tinggalkan Komentar
Sebuah undangan pernikahan mampir ke rumahku. Ini bukan satu-satunya undangan pernikahan yang saya terima. Masih banyak undangan pernikahan yang sudah lebih dulu datang. Baik itu dialamatkan ke rumah maupun di kantor.
Saat ini banyak cara orang untuk mengumumkan pernikahannya. Kalau dulu, undangan pernikahan tidak dicetak seperti sekarang. Namun hanya berupa berita yang disampaikan oleh seorang juru undang. Di tempat saya disebut tukang ulem. Tukang ulem ini bertugas untuk menyampaikan undangan pernikahan kepada kerabat, tetangga atau kenalan dari orang yang menggunakan jasanya.
Sehingga untuk menjadi tukang ulem, dibutuhkan relasi yang banyak dan pengetahuan yang mumpuni. Bagaimana tidak? Ia harus berjalan (atau naik sepeda) keliling kampung untuk menyampaikan undangan pernikahan. Dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Dan hebatnya lagi, ia hafal dengan siapa saja yang harus diundang. Jadi tidak asal saja. Kemampuan yang jarang dimiliki, lebih-lebih saat ini.
Tukang ulem kini sudah sangat jarang kita jumpai. Namun di beberapa daerah mungkin tukang ulem ini masih eksis. Atau beberapa orang yang tetap menggunakan jasa tukang ulem meskipun mereka bisa menggunakan undangan yang dicetak. Memang terasa beda antara berita yang disampaikan secara langsung lewat tukang ulem dengan yang disampaikan lewat undangan tertulis.
Dengan menggunakan jasa tukang ulem, maka si empunya hajatan terasa nguwongke (jw. memanusiakan) orang yang diundang. Disamping itu juga sebagai wujud silaturrahmi antara si pengundang, yang diundang serta tukang ulem itu sendiri.
Berbeda bila menggunakan undangan yang tertulis (cetak) yang notabene adalah benda mati, yang tidak bisa berinteraksi dengan orang yang dituju.




Katanya