Malu

Anak saya paling suka kalau melihat tumbuhan kecil dan berduri yang banyak tumbuh di tanah kosong atau di tepi jalan masuk perumahan. Biasanya dia akan mencari batang kering atau disentuh langsung dengan jarinya. Ketika tumbuhan itu tersentuh, maka daun-daunnya akan menguncup. Tentunya Anda tahu apa tumbuhan ini. Benar, puteri malu. Dikatakan puteri malu, mungkin karena sifatnya yang sangat peka. Disentuh sedikit saja, puteri malu langsung beringsut malu, mengatupkan daun-daunnya.

Tumbuhan ini seolah memberikan pelajaran tersendiri buat kita. Ada hubungan antara peka dan malu. Peka menunjukkan sedemikian halus sensor diri kita. Tak perlu dengan cara kekerasan atau bentakan, dengan kata-kata yang haluspun langsung terasa dan merasa. Dan malu, memberikan kita sinyal kehati-hatian. Jangan-jangan sentuhan yang seolah terasa lembut tadi, sebagai kritikan yang keras atas keburukan sikap dan sifat kita yang tidak disadari.

Lalu kenapa disebut puteri. Baca tulisan ini lebih lanjut

Pohon Sunat

Lima tahun yang lalu, ketika awal membeli rumah di perumahan ini, langkah pertama yang saya lakukan adalah bercocok tanam. Tujuannya jelas. Agar kalau rumahnya pas ditempati jadi tambah asri dan adem serta iyup (jw. teduh). Maka dipilihlah pohon mangga arum manis sebagai tanaman peneduh. Disamping pohonnya yang rindang, juga bisa diambil buahnya.

Bibit pohon mangga yang saya beli dari penjual keliling tersebut, saya tanam di halaman depan rumah. Memberi pupuk dan menyirami adalah 2 hal yang tak boleh dilewatkan bila ingin pohon yang ditanam segera tumbuh besar.

Dan sebagaimana jamaknya orang, menanam pohon mangga yang diharapkan adalah segera berbuah, syukur-syukur buahnya banyak, besar-besar dan manis. Tapi setelah hampir lima tahun kok belum menunjukkan tanda-tanda berbuah. Sedikit kecewa jelas pernah muncul dalam hati, tapi segera berhusnuzhon pada Allah, mungkin memang belum waktunya.

Kemudian tanpa sengaja Baca tulisan ini lebih lanjut

Lepaskan Toples Itu!

Ada sebuah teknik yang diterapkan oleh pemburu monyet di hutan-hutan Afrika. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi,monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!

Kadang, tanpa kita sadari, kita sering bersikap seperti monyet-monyet itu. Baca tulisan ini lebih lanjut

Teriakan Pembunuh Jiwa

Ini bukan nama jurus dari dunia persilatan, seperti yang ada dalam film Kungfu Hustle, Auman Singa yang dimiliki istri pemilik apartemen. Di mana suara teriakannya (auman) dapat menyebabkan rontok lawan-lawannya bahkan memporakporandakan ruangan bos mafia.

Ini kisah tentang penduduk primitif yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, Pasifik Selatan, yang mempunyai sebuah kebiasaan meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk ditebang dengan kapak. Tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya, beberapa penduduk yang kuat dan pemberani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Ketika sampai di atas pohon itu, bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Baca tulisan ini lebih lanjut

Sebuah Ceruk

SEEKOR ikan salmon kecil berenang mengikuti arus sungai. Ia hendak menuju ke lautan, mengikuti naluri alaminya. Setelah berenang cukup lama, tibalah ia di sebuah ceruk*. Ia beristirahat sejenak, sambil menikmati lingkungannya yang baru itu. Dalam ceruk tersebut, ia menemukan kedamaian dan ketenangan, di samping juga makanan yang berlimpah.

Dengan arus sungai yang tenang, ia merasa termanjakan. Inilah rumahku, inilah tujuan akhirku. Batin ikan salmon kecil. Tak perlu aku pergi ke lautan, tempat yang belum pernah aku datangi. Aku tak yakin, apakah di lautan sana akan kutemui kedamaian dan ketenangan seperti yang kurasakan saat ini.

Diacuhkannya ajakan sesama ikan salmon untuk meneruskan perjalanan. Ia asyik dengan dunianya. Buat apa capek-capek mengejar sesuatu yang tak pasti, pikir ikan salmon kecil lagi.

Tak berapa lama, datanglah serombongan ikan salmon dewasa. Dengan berbondong-bondong, sekuat tenaga mereka melawan arus.

“Hendak ke mana kalian?” tanya salmon kecil.

Baca tulisan ini lebih lanjut