Arsip untuk Catatan kategori

Apa Amalanmu Pahlawan?

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , on 10 November 2009 by hakimaza

pahlawanDi antara keajaiban hati para pahlawan mukmin sejati adalah cara mereka mengapresiasikan karya-karya mereka. Mereka tidak pernah memandang karya-karya besar mereka secara berlebihan, tapi mereka juga tidak pernah meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang mereka lakukan.

Besar-kecilnya suatu karya atau pekerjaan tidaklah ditentukan oleh satu faktor saja. Misalnya, faktor kemampuan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi cara penilaian terhadap suatu karya dan pekerjaan seorang pahlawan. Misalnya, tingkat kebutuhan saat itu, kesinambungannya dengan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya dengan pekerjaan-pekerjaan sesudahnya, luas wilayah distribusi manfaat, tingkat kemampuan pelaku, tingkat keterlibatan orang lain, banyaknya daya dukung, dan seterusnya. Kata kunci yang dapat menyimpulkan semua faktor tersebut adalah ketepatan. Yaitu bahwa pekerjaan itu tepat pada waktunya, tepat pada sasarannya, tepat pada tempatnyam tepat pada orangnya, tepat pada niatnya, tepat pada caranya, tepat pada cost-nya. Baca selebihnya »

Perangkap Tikus

Posted in Alam, Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 1 Oktober 2009 by hakimaza

perangkapSeekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!” “Wah, aku menyesal dengar khabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!” Baca selebihnya »

Cara Unik Militer China Shalat Fajar

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , , on 18 Agustus 2009 by hakimaza

Salah seorang da’i duduk bersimpuh di depan seorang Syaikh, ia menceritakan pengalaman dakwahnya ketika bertugas bersama-sama dengan tentara China yang ditempatkan di Teluk, saat perang Teluk yang ke tiga.

Sang Syaikh menundukkan kepalanya dengan hidmat mendengarkan kisah da’i tersebut. Ia memulai ceritanya ketika sekelompok pasukan tentara China berada di Utara Mamlakah (Saudi), tentunya kami selaku du’at ilallah mengenalkan kepada mereka tentang ajaran Islam dan berusaha menyelamatkan mereka dari gelap-gulitanya kejahiliyahan kemusyrikan dan kedzaliman, dari penyembahan Budha, Kunfucius, dan bentuk berhala-berhala lainnya, berubah menjadi penyembah Allah Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Sungguh, Allah swt memberi pintu kemudahan dalam proses dakwah kami tersebut. Tidak sedikit dari mereka yang kembali pada Islam. Kami pun mengajarkan kepada mereka secara bertahap rukun-rukun Islam dan mengenalkan kewajiban-kewajiban yang lain.

Dengan sembunyi-sembunyi mereka melaksanakan shalat pada waktunya tanpa sepengetahuan komandan atau atasanya… akan tetapi Baca selebihnya »

Dugderan dan Tawuran

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 15 Agustus 2009 by hakimaza

dugderanSepulang dari menjenguk tetangga yang dirawat di RS Pantiwilasa Citarum, kukendarai motorku dengan perlahan. Arus lalu lintas saat itu cukup padat. Maklum, berbarengan dengan usai jam kerja. Motor dan mobil saling menyalip untuk menjadi yang terdahulu. Tak dipedulikan lagi keselamatan diri atau orang lain. Yang penting, cepet-cepet sampai di rumah (walau tanpa selamat). Di perempatan jalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), terjadi penumpukan kendaraan bermotor. Karena di lokasi tersebut, tengah diselenggarakan acara Dugderan, acara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara yang biasanya diselenggarakan di pasar Johar, kini dialihkan ke area MAJT. Berbagai macam dagangan ditawarkan, baik yang tradisional sampai yang modern. Gasing dari bambu, hiasan dari akar, barongan, kapal-kapalan dari seng dan beberapa mainan yang dulu menjadi primadona masih terlihat dijajakan. Disamping itu juga ada penjaja makanan yang biasanya ada di pasar malam, penjual arum manis.

Juru parkir dadakan tampak panen. Hampir di tiap ruas jalan dan tempat-tempat yang lapang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk lahan parkir. Nah bagi Anda yang sedang ke Semarang, jangan lewatkan acara Dugderan ini, yang berlansung hingga hari terakhir Sya’ban. Baca selebihnya »

Hati-hati dengan Resep Dokter!

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 29 Juni 2009 by hakimaza

Tulisan berikut ditulis oleh seorang dokter, yang saya ambil dari Grup Indonesia Healt Care Club.

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’, karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin, padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Baca selebihnya »

Kuingin (Kembali) jadi Raja

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , , , , on 20 Juni 2009 by hakimaza

Ungkapan pembeli (konsumen) adalah raja, nampaknya mulai tidak berlaku lagi di negeri ini. Atau, itu hanya menjadi slogan untuk meninakbobokkan ‘sang raja’ yang sudah kehilangan ‘mahkota’ kerajaannya, direbut oleh ‘perdana mentri’ yang licik atau ‘pelayan istana’ dan ‘punggawa’.

Kasus Prita Mulyasari, hanyalah satu contoh dari sekian banyak bukti bahwa ‘sang raja’ sudah terasing dari kerajaannya. Masih banyak Prita-Prita lain yang belum atau tidak terekam dan terungkap oleh media. Lihatlah, masih ada ‘raja-raja’ yang miskin dan belum melek ilmu. Kalau Prita sudah mengenal e-mail, facebook, dan seabreg teknologi internet lainnya, banyak ‘raja’ yang untuk membaca tulisan saja belum bisa, karena mungkin mereka sering bolos waktu Kejar Paket A.

Mereka (raja-raja miskin) begitu terpesona dengan penampilan para dokter dengan jas putihnya. Seolah bertatap muka dengan begawan Sengkuni dengan jubah putihnya. Alih-alih untuk menanyakan rekam medis, untuk bertatap muka saja mereka ewuh. Mereka biasanya menyingkir dari kamar perawatan, atau hanya terdiam di sudut pembaringan. Kekhawatiran mereka terhadap penyakit yang diderita atau yang diderita sanak saudaranya akan pupus dan berbuah kebahagiaan dengan jawaban sang dokter.
Baca selebihnya »

Miskin yang Kaya

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 6 Juni 2009 by hakimaza

Di kota Madinah yang damai. Beberapa orang miskin dari kaum Muhajirin menemui Rasulullah. Di hadapan Rasul mulia tersebut, orang-orang itu mengadukan sedikit kegundahan mereka. Tidak dalam nada protes, hanya sekedar memohon kejelasan.

“Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Mereka bisa berjuang seperti kami, mereka bisa sholat seperti kami. Tapi mereka bisa berinfaq dengan kekayaan mereka. Sementara kami tidak,” begitulah keluhan yang mereka sampaikan.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah menjawab dengan kasih sayang.
“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang bisa menjadikan diri kalian seperti mereka? Bacalah tasbih (subhanallah) tiga puluh tiga kali, tahmid (alhamdulillah) tiga puluh tiga kali, dan takbir (Allahu akbar) tiga puluh tiga usai sholat.”

Mendengar jawaban Rasulullah tersebut, orang-orang miskin itu merasa lega. Mereka pulang membawa ketenangan dan kedamaian.

Tapi, beberapa waktu kemudian, orang-orang kaya juga mendengar tentang amalan yang diajarkan Rasulullah kepada orang-orang miskin tersebut. Dan, orang-orang kaya itu pun membaca wirid seperti yang dilakukan orang-orang miskin itu. Mereka mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir setiap usai sholat.

Mendengar hal ini, orang-orang miskin itu kembali menghadap Rasulullah, serta menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa orang-orang kaya juga melakukan apa yang mereka lakukan.

Akhirnya Rasulullah pun memberi jawaban, “Itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki.”
Baca selebihnya »

Kau Bukan yang Dulu Lagi

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 5 Mei 2009 by hakimaza

Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali iangatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.

Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam.

Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa garis-garis hidup ternyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok lain dari hari yang lalu.
Baca selebihnya »