Kejutan!

Pulang kerja hari Rabu (23/11) yang lalu, saya tidak mempunyai firasat apapun. Setelah menjemput anak dan istri di sekolah, kami langsung pulang. Sesampai di rumah, belum ada 30 menit, telpon rumah berdering. Saya yang kebetulan berada paling dekat dengan telepon, segera mengangkat. Terdengar suara seperti anak kecil di seberang. Tapi sayang, telepon mati, putus.

Siapa? Tanya istriku

Nggak tahu, suaranya kok seperti Shofa, ya, jawabku. Shofa adalah anak salah seorang teman.

Kemudian telepon berdering kembali. Kali ini istriku yang mengangkatnya. Tiba-tiba saja raut wajah istriku berubah dan suaranya terdengar bergetar.

Saya yang berdiri di sebelahnya agak sedikit khawatir, takut kalau itu berita buruk.

Ternyata itu Baca tulisan ini lebih lanjut

Berilah Sedikit Pujian

Pada suatu malam, seusai belajar, anak saya menunjukkan hasil ulangannya hari itu. Nilai 90 tertulis d ikertas ulangan dengan tinta merah.

“Bah (dari kata abah –ayah), kalau dulu tho, bu A selalu menulis kata-kata di kertas ulangan Atikah,” katanya.

“Menulis apa?”

“Ya, macam-macam. Seperti barokallah ya nak, atau belajar lagi ya. atau tulisan yang lain.”

“Hmm. Terus.” Baca tulisan ini lebih lanjut

Gentlebirth, Sebuah Pilihan

Demi menghindari rasa sakit, banyak perempuan (calon ibu) memilih melahirkan melalui operasi caesar. Padahal melahirkan secara alami pun bisa berlangsung dengan nyaman dan tenang asalkan dilakukan secara lembut sesuai dengan ritme tubuh (gentlebirth).

Selain karena mereka (calon ibu) tidak mau kesakitan saat melahirkan, sehingga mereka memilih operasi, juga mungkin disebabkan karena faktor medis. Disamping itu, juga kadang karena ketidak relaan dari pihak laki-laki (suami), dengan berbagai alasan yang bisa mereka lontarkan (?). Read more…

Aku Lelaki Biasa

Aku terpaku di depan komputer. Telah lama aku disini. Banyak hal yang ingin kuungkapkan lewat tulisan. Tapi entah kenapa, seolah jemari yang sedari tadi nangkring di atas keyboard enggan berpindah tempat dan bergerak menuruti tuannya.

Banyak.. banyak hal yang hendak kutulis. Banyak hal yang hendak kuberitahukan kepada orang lain. Tentang dirimu, tentang kebaikanmu, tentang kemurahan senyummu. Tentang apa saja yang menyangkut dirimu.

Namun seolah otakku beku. Jari jemari terasa kaku. Dan ide menulisku pun terlanjur buntu.

Ku hanya bisa mengucap Baca tulisan ini lebih lanjut

Sekolah Pertama

Musim panas 1937 merupakan saat yang amat penting bagi seorang ahli zoologi Austria, Konrad Lorenz. Lima butir telur angsa liar yang telah ia erami berhari-hari akhirnya menetas. Lima pasang mata angsa yang baru melihat dunia pun langsung tertuju padanya. Tidak ada ibu angsa di sana, hanya seorang bapak berambut tebal dan berjanggut yang tersenyum menatap kelima anak angsa tersebut.

Tidak ada teman angsa lainnya untuk bermain. Sejak hari pertama mereka menetas, hanya si bapak berambut tebal dan berjanggutlah yang menemani mereka bermain, berjalan dan berenang di kolam. Setelah beberapa lama, lima anak angsa tersebut benar-benar telah menjadi Konrad Lorenz Junior. Baca tulisan ini lebih lanjut