Arsip untuk Peristiwa kategori

Dugderan dan Tawuran

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 15 Agustus 2009 by hakimaza

dugderanSepulang dari menjenguk tetangga yang dirawat di RS Pantiwilasa Citarum, kukendarai motorku dengan perlahan. Arus lalu lintas saat itu cukup padat. Maklum, berbarengan dengan usai jam kerja. Motor dan mobil saling menyalip untuk menjadi yang terdahulu. Tak dipedulikan lagi keselamatan diri atau orang lain. Yang penting, cepet-cepet sampai di rumah (walau tanpa selamat). Di perempatan jalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), terjadi penumpukan kendaraan bermotor. Karena di lokasi tersebut, tengah diselenggarakan acara Dugderan, acara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara yang biasanya diselenggarakan di pasar Johar, kini dialihkan ke area MAJT. Berbagai macam dagangan ditawarkan, baik yang tradisional sampai yang modern. Gasing dari bambu, hiasan dari akar, barongan, kapal-kapalan dari seng dan beberapa mainan yang dulu menjadi primadona masih terlihat dijajakan. Disamping itu juga ada penjaja makanan yang biasanya ada di pasar malam, penjual arum manis.

Juru parkir dadakan tampak panen. Hampir di tiap ruas jalan dan tempat-tempat yang lapang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk lahan parkir. Nah bagi Anda yang sedang ke Semarang, jangan lewatkan acara Dugderan ini, yang berlansung hingga hari terakhir Sya’ban. Baca selebihnya »

Hati-hati dengan Resep Dokter!

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 29 Juni 2009 by hakimaza

Tulisan berikut ditulis oleh seorang dokter, yang saya ambil dari Grup Indonesia Healt Care Club.

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’, karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin, padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Baca selebihnya »

Coblos.. eh.. contreng..

Posted in Belajar, Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) on 16 April 2009 by hakimaza

Seorang teman uring-uringan. Apa pasal? Karena PRT di rumahnya mencontreng partai yang berbeda dengan dirinya pada 9 April yang lalu. Lho, apa tidak boleh?

“Bukan itu masalahnya. Dia itu semula menganggur. Lalu saya tawari untuk menjadi pembantu di rumah saya. Terus, anaknya yang masih SD saya carikan beasiswa agar sedikit meringankan bebannya. Alhamdulillah, partai tempat saya aktif bersedia memberikan bantuan beasiswa. Eh..lah kemarin waktu Pemilu kok milih partai lain Baca selebihnya »

Kearifan Pemimpin

Posted in Peristiwa, Renungan, Sejarah dengan kaitan (tags) , , on 29 Maret 2009 by hakimaza

Suatu ketika, seorang utusan dari Azerbaijan tiba di Madinah. Karena hari sudah larut malam, ia memutuskan bermalam di masjid Nabi. Namun ketika hendak tidur, ia mendengar suara orang sedang menangis dan merintih di malam yang dingin dan sunyi itu. Orang itu memohon kepada Allah: “Ya Allah, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah engkau menerima tobatku agar aku bisa mengucapkan selamat pada diriku, atau engkau menolaknya agar aku menyampaikan rasa duka citaku pada diriku?”

Utusan dari Azerbaijan itu amat terkesan. Matanya tidak jadi dipejamkan. Karena penasaran, didekatinya orang itu seraya bertanya, “Assalamu’alaikum. Wahai saudaraku, siapakah engkau?”
Di kegelapan, orang itu menjawab, “Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh. Aku Umar bin Khattab.”

Alangkah terkejutnya utusan itu. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Khalifah Umar di Masjid Nabi. “Aku adalah utusan wali dari Azerbaijan. Aku datang ke Madinah untuk menyampaikan amanat kepada Amirul Mukminin. Sampai di sini, ternyata hari sudah malam. Maka kuputuskan besok pagi saja aku menjumpai Anda, wahai Amirul Mukminin, karena aku tidak ingin mengganggi tidur Anda. Ternyata, Anda ada di sini…”

Khalifah menjawab perkataan orang itu dengan singkat, “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah, dan bila aku tidur sepanjang hari, berarti aku telah mengabaikan rakyatku.”

Setelah keduanya menunaikan shalat fajar, Khalifah mengajak tamunya singgah ke rumahnya. Sesampai di rumah, Khalifah berkata pada istriny, “Ya Ummu Kultsum. Tolong hidangkan makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”
“Insya Allah,” jawab istri Umar. “Tapi tidak ada apa-apa selain roti dan garam.”
“Tidak mengapa,” jawab Umar lembut. Sesaat kemudian, Umar dan tamunya menikmati roti dan garam.

Usai makan, Khalifah Umar bertanya kepada tamunya, “Apa maksud kedatangan Anda kali ini?”
Utusan dari Azerbaijan itu menjawab, “Aku diutus untuk menyampaikan hadiah ini kepada Anda.”
“Bukalah bungkusan itu,” pinta Umar. “Aku ingin tahu isinya.”
Ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. “Gula-gula ini sungguh enak, Amirul Mukminin. Ini produk istimewa Azerbaijan.”
Umar bertanya lagi, “Apakah kaum muslimin di Madinah juga mendapat kiriman gula-gula ini?”
Utusan itu tertegun sejenak, lalu menjawab gugup, “Ti..tidak, Amirul Mukminin. Gula-gula ini khusus untuk Anda.”

Mendengar ucapan utusan itu, Khalifah Umar amat marah. Ia segera memerintahkan utusan itu untuk membawa hadiah itu ke masjid dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang membutuhkannya. Dengan tegas Umar bin Khattab berkata, “Barang itu haram masuk ke perutku, kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan Anda, cepatlah kembali ke Azerbaijan. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia mengulangi perbuatannya, ia akan kupecat.”

Wow.. Cool Man

Posted in Catatan, Keluarga, Peristiwa dengan kaitan (tags) on 5 Maret 2009 by hakimaza

Ahad (1/3) kemarin, kami mengantar anak ke kolam renang. Sudah 2 pekan ini, kami ikutkan les renang. Mumpung masih kecil, kalau sudah besar biasanya susah. Baik susah untuk anaknya ataupun susah mencari tempat yang ‘aman’. Karena di Semarang setahu saya belum ada kolam renang yang tertutup atau khusus untuk perempuan.
Kegiatan ini juga kami jadikan refreshing, setelah sepekan berkutat dengan tugas di sekolah. Karena terkadang anak saya mengeluh bosan kalau terus di rumah, apalagi pas liburan. Mau tamasya, kok ya berat diongkos. Ditambah lagi obyek wisata di kota ATLAS belumlah selengkap atau seramai di kota-kota lain.
Sesampai di kolam renang, anak dan istri saya tinggal. Saya sendiri ke rumah orang tua yang berjarak 1 km dari kolam renang.
Baca selebihnya »

Roda kan Berputar

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 14 Februari 2009 by hakimaza

Suatu ketika, seorang suami istri tengah asyik menikmati hidangan. Tiba-tiba mereka mendengar seseorang mengetuk pintu. Setelah meminta izin pada suaminya, sang istri bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang datang. Begitu membuka pintu, perempuan itu melihat seorang pengemis berdiri di depan pintu, mengharap belas kasihannya. Perempuan itu merasa iba melihat keadaan pengemis itu. Tergerak hatinya untuk memberikan sesuatu.

Perempuan itu kembali ke meja makan dan berkata dengan lemah lembut, “Wahai suamiku, ada seorang pengemis di luar. Bolehkah aku memberikan makanan ini kepadanya?”
Namun dengan marah sang suami menjawab, “Tidak, tidak usah. Usir saja dia. Dan tutup kembali pintunya!”
Baca selebihnya »

Kisah Dua Sejoli

Posted in Catatan, Peristiwa dengan kaitan (tags) , on 21 Januari 2009 by hakimaza

Entah siapa yang pertama mengucap janji untuk sehidup dan semati. Tanpa ada wasiat terakhir atau petunjuk lainnya. Yang muncul hanya dugaan-dugaan semata.

Kemarin (18/1) peristiwa mengenas itu terjadi. Di tengah gelapnya malam dan rintik gerimis yang mulai datang di kompleks perumahanku.
Tiba-tiba, listrik padam. Padahal hujan tak begitu deras, angin juga nampak malu-malu membelai dedaunan pohon mangga yang tumbuh megah di depan rumahku yang mungil.
Baca selebihnya »

Gaza dan Wajah Asli Zionis Israel

Posted in Peristiwa dengan kaitan (tags) , , , , , on 18 Januari 2009 by hakimaza

Gaza telah berhasil membuka topeng yang selama ini di pakai zionis Israel dalam mengelabui dan menipu masyarakat dunia termasuk di Indonesia.

Topeng manipulasi yang selama ini dipakai Zionis Israel telah banyak memakan korban, yang telah menjadi korban tidak tanggung-tanggung, mereka terdiri dari pejabat, intelektual, pimpinan ormas, budayawan, akedemisi bahkan jurnalis.

Tanda-tanda mereka yang telah menjadi korban dari topeng manipulasi Zionis Israel dapat dilihat dari gaya hidup, kebijakan yang dihasilkan, kalimat yang keluar dari mulutnya dan tulisan yang dibuatnya senantiasa memuji dan mengagungkan Zionis Israel setinggi langit, sebaliknya mengecam pejuang Palestina yang berupaya melawan dan mengusir penjajah.
Baca selebihnya »