Arsip untuk Renungan kategori

Belajar dari Tukang Sol Sepatu

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 4 November 2009 by hakimaza

sepatuKisah ini terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Di masa itu, sepatu-sepatu yang rusak tidak langsung dibuang ke tempat sampah, seperti sekarang. Kalau kondisinya ‘masih terselamatkan’, maka sepatu cuma rusak sedikit masih bisa diperbaiki atas jasa para tukang sol sepatu.

Tukang sol sepatu keliling, biasanya berjalan keluar-masuk kampung, berkilo-kilo meter untuk menawarkan jasanya, mempermak sepatu-sepatu yang rusak.

Suatu hari ibu saya bermaksud ‘mereparasi’ beberapa sepatu milik keluarga kami. Mungkin sekitar lima pasang sepatu milik orangtua saya, adik saya dan saya sendiri yang harus di’reparasi’. Sudah menjadi kebiasaan ibu saya untuk menunggu tukang sol sepatu di sore hari, sekitar pukul setengah lima, karena banyak dari mereka yang tinggal di kampung sebelah dan biasanya sekitar jam itu mereka berjalan pulang.

Namun sore itu entah kenapa setelah beberapa lama menunggu di depan rumah tidak satupun tukang sol sepatu lewat. Mungkin hari itu mereka memilih lewat jalan lain, atau bisa jadi juga mereka sedang mudik ramai-ramai sehingga tak satupun lewat di jalan depan rumah.

Hampir pukul setengah enam sore ketika akhirnya seorang tukang sol sepatu lewat di muka rumah kami. Dengan gembira tentu saja ibu saya pun memanggil tukang sol sepatu ini. Setelah terjadi kesepakatan harga, mulailah si tukang sol sepatu mengerjakan tugasnya di halaman rumah kami.

Saat itu matahari mulai meredup sinarnya, langit mulai merah, Baca selebihnya »

Perangkap Tikus

Posted in Alam, Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 1 Oktober 2009 by hakimaza

perangkapSeekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!” “Wah, aku menyesal dengar khabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!” Baca selebihnya »

Doa yang Dikabulkan

Posted in Keluarga, Ramadhan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 1 September 2009 by hakimaza

es blewahHari itu terasa terik. Matahari memancarkan sinarnya dengan garang. Perpaduan antara haus, lapar dan panas, menjadi ujian tersendiri bagi mereka yang berpuasa, termasuk aku.

Pulang kerja, menembus belantara lalu lintas yang semakin hari semakin ruwet dan membahayakan, di tengah sengatan matahari dan aspal yang ‘berair’. Sesampai di rumah, segera kurebahkan diriku di atas lantai yang dingin. Angin sepoi-sepoi dari pintu depan yang kubuka lebar, sedikit mengusir rasa penat dan panas yang muncul.

Pepohonan yang ku tanam di depan rumah, sangat bermanfaat di saat-saat seperti ini. Memberikan kesejukan dan keteduhan untuk penghuni rumah. Berbeda dengan beberapa rumah tetangga yang halamannya habis untuk ruangan atau garasi, ditambah lagi rumah yang menghadap ke barat.

Teh lagi? tanyaku pada istriku yang sedang menjerang air.

Lha, pingin apa? kata istriku balik bertanya.
Baca selebihnya »

Dugderan dan Tawuran

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 15 Agustus 2009 by hakimaza

dugderanSepulang dari menjenguk tetangga yang dirawat di RS Pantiwilasa Citarum, kukendarai motorku dengan perlahan. Arus lalu lintas saat itu cukup padat. Maklum, berbarengan dengan usai jam kerja. Motor dan mobil saling menyalip untuk menjadi yang terdahulu. Tak dipedulikan lagi keselamatan diri atau orang lain. Yang penting, cepet-cepet sampai di rumah (walau tanpa selamat). Di perempatan jalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), terjadi penumpukan kendaraan bermotor. Karena di lokasi tersebut, tengah diselenggarakan acara Dugderan, acara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara yang biasanya diselenggarakan di pasar Johar, kini dialihkan ke area MAJT. Berbagai macam dagangan ditawarkan, baik yang tradisional sampai yang modern. Gasing dari bambu, hiasan dari akar, barongan, kapal-kapalan dari seng dan beberapa mainan yang dulu menjadi primadona masih terlihat dijajakan. Disamping itu juga ada penjaja makanan yang biasanya ada di pasar malam, penjual arum manis.

Juru parkir dadakan tampak panen. Hampir di tiap ruas jalan dan tempat-tempat yang lapang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk lahan parkir. Nah bagi Anda yang sedang ke Semarang, jangan lewatkan acara Dugderan ini, yang berlansung hingga hari terakhir Sya’ban. Baca selebihnya »

Apa yang Kau Cari RSBI/SBI?

Posted in Pendidikan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 22 Juli 2009 by hakimaza

sekolah gratisAda komentar sangat arif dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daoed Joesoef. Kata dia, “Nilai mata pelajaran Matematika ank sekolah tidak akan berubah lebih baik, meski diberikan dengan bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.”

Sekarang lihat kebijakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang sebelumnya didahului dengan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu, tidak hanya pelajaran Matematika yang diberikan dalam bahasa Inggris. Semua bidang yang sekarang diujinasionalkan, yakni Matematika, IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, apakah hasilnya akan setara dengan pendidikan dunia internasional hanya karena diberikan dalam bahasa Inggris?

Yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah Indonesia ramai-ramai mengejar status menjadi RSBI. Seolah-olah dengan RSBI, mereka menjadi sekolah yang hebat.

Seorang guru di Solo mengaku, pada awal mereka mengajar dengan pengantar bahasa Inggris, siswa hanya plonga-plongo. Sebab dari 24 siswa di sekolah imersi (bilingual: Indonesia dan Inggris), penguasaan bahasa Inggris mereka masih minim. Baca selebihnya »

Hati-hati dengan Resep Dokter!

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 29 Juni 2009 by hakimaza

Tulisan berikut ditulis oleh seorang dokter, yang saya ambil dari Grup Indonesia Healt Care Club.

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’, karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin, padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Baca selebihnya »

Miskin yang Kaya

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 6 Juni 2009 by hakimaza

Di kota Madinah yang damai. Beberapa orang miskin dari kaum Muhajirin menemui Rasulullah. Di hadapan Rasul mulia tersebut, orang-orang itu mengadukan sedikit kegundahan mereka. Tidak dalam nada protes, hanya sekedar memohon kejelasan.

“Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Mereka bisa berjuang seperti kami, mereka bisa sholat seperti kami. Tapi mereka bisa berinfaq dengan kekayaan mereka. Sementara kami tidak,” begitulah keluhan yang mereka sampaikan.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah menjawab dengan kasih sayang.
“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang bisa menjadikan diri kalian seperti mereka? Bacalah tasbih (subhanallah) tiga puluh tiga kali, tahmid (alhamdulillah) tiga puluh tiga kali, dan takbir (Allahu akbar) tiga puluh tiga usai sholat.”

Mendengar jawaban Rasulullah tersebut, orang-orang miskin itu merasa lega. Mereka pulang membawa ketenangan dan kedamaian.

Tapi, beberapa waktu kemudian, orang-orang kaya juga mendengar tentang amalan yang diajarkan Rasulullah kepada orang-orang miskin tersebut. Dan, orang-orang kaya itu pun membaca wirid seperti yang dilakukan orang-orang miskin itu. Mereka mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir setiap usai sholat.

Mendengar hal ini, orang-orang miskin itu kembali menghadap Rasulullah, serta menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa orang-orang kaya juga melakukan apa yang mereka lakukan.

Akhirnya Rasulullah pun memberi jawaban, “Itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki.”
Baca selebihnya »

Setan Khawatir

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , on 11 Mei 2009 by hakimaza

sholatSeorang pria bangun pagi-pagi buta untuk shalat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, pria tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah.

Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid.
Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di TEMPAT YANG SAMA!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah.
Di rumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas pria tersebut, dan pria itu menjawab “Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid. Jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.”
Baca selebihnya »