Sutra yang Cacat

Abu Hanifah adalah seorang pedagang. Barang dagangannya berupa kain dan pakaian. Ia terbiasa menitipkan barang dagangannya kepada Bisyr, pedagang yang berniaga sampai ke negeri Mesir.

Pada suatu hari, Bisyr hendak pergi berniaga ke Mesir. Dan seperti biasa, Abu Hanifah menitipkan barang dagangannya.

“Wahai Bisyr. Aku memiliki kain sutra yang bisa kau bawa ke Mesir,” kata Abu Hanifah.

“Baik. Akan aku bawa kain sutramu,” sahut Bisyr.

Abu Hanifah memberikan kain sutra miliknya kepada Bisyr untuk dijual kembali. Namun setelah diteliti, ternyata ada satu kain sutra yang cacat, di pinggirnya ada sobekan kecil.

“Kain sutra yang cacat ini harganya lebih murah dari yang lain,” pesan Abu Hanifah. “Jangan lupa, kalau ada yang hendak membelinya, beritahukan tentang cacat ini.”

“Baik. Insya Allah akan kuberitahu pembelinya.” Baca tulisan ini lebih lanjut

Industri Kematian

Industri kematian. Sebut saja begitu. Adakah? Ya. Hari ini kita menyaksikan begitu banyak mesin-mesin uang raksasa yang menjadikan kematian sebagai dagangan utamanya. Di jalan Cikande, Serang, Banten, dimana pabrik ekstasi terbesar ketiga di dunia digrebek polisi, adalah tempat dimana industri kematian dibangun dengan segala logikanya yang sangat mengerikan. Pabrik itu memproduksi berjuta-juta pil ekstasi, menjualnya dengan omset 100 miliar perminggu. Tetapi sejatinya ia tengah menjajakan kematian bagi orang-orang yang dengan senang membeli kematiannya sendiri, dengan uangnya sendiri. Baca tulisan ini lebih lanjut

Shubuh di Masjid

Seorang pria bangun pagi-pagi buta untuk shalat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah.

Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid.

Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yang sama!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah.
Di rumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yang memegang lampu. Baca tulisan ini lebih lanjut

Beratnya Istiqamah

Dalam al Quran, ada beberapa ayat yang konon membuat rambut Rasulullah cepat memutih. Salah satunya adalah surat Huud (11) ayat 112.

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat tersebut, Allah menyuruh Rasul-Nya (dan orang-orang beriman tentunya) untuk istiqomah. Istiqomah, mudah diucap namun susah untuk dipraktekkan. Maka, di penghujung Ramadhan ini, marilah kita merenung sejenak.

Kita telah lakukan dengan sukses puasa selama sebulan penuh. Dalam sebulan tersebut, kita mampu mengerem nafsu makan kita. Yang biasanya doyan makan, langsung mengurangi jatah makannya. Yang biasa jajan, Baca tulisan ini lebih lanjut

Menjadi Manusia Sempurna

Di sebuah hutan yang rimbun, hiduplah burung merak yang sangat indah. Mereka menari laksana bunga yang sedang mekar dengan warna yang cerah dan beragam. Bulu panjangnya yang panjang dan indah berkipas-kipas. Tampak mengagumkan. Di antara hewan-hewan penghuni hutan, burung meraklah yang tampak lebih anggun. Meskipun warna bulunya sebenarnya hanya lima warna, tapi ketika tertimpa cahaya, warna-warna itu akan tampak menjadi semakin banyak.

Pada suatu hari, seeokor burung merak jantan berjalan-jalan di tepian danau. Ia memandangi sekelompok burung bangau yang sedang berenang di danau tersebut. Beberapa di antaranya sedang mencari makan di tempat yang lebih dangkal. Burung merak jantan tampak terpesona dengan kaki burung bangau yang tampak ramping dan panjang.

Ia memandangi kaki burung bangau Baca tulisan ini lebih lanjut