Obsesi Penggembala

Lelaki itu bukan siapa-siapa. Setidaknya begitulah pada mulanya. Ia hanya penggembala kambing. Menghabiskan hidupnya di sebuah dusun kering, jauh di luar kota Madinah. Wahab bin Qabus, itulah namanya. Suatu hari ia masuk Islam. Dengan proses entah seperti apa. Sebuah keputusan yang mengubah keyakinannya, bahwa ada satu-satunya Tuhan yang sah di jagad raya ini. Allah yang Maha Besar dan Maha Benar.

Begitupun, Wahab tetap menekuni kehidupannya sebagai orang kampung. Mengisi hari-harinya dengan kebiasaan rutin, bersahabat akrab dengan puluhan kambingnya. Ia telah berubah menjadi seorang muslim, tapi tak bisa dipungkiri, ia tetap seorang penggembala kambing.
Rutinitas sebagai penggembala mungkin tak begitu memberi arti baru baginya. Kecuali sebatas apa yang ia lakukan dari menghayati kehidupan barunya sebagai seorang muslim. Ini sebuah proses yang pasti terjadi pada siapapun, yang berpindah dari keyakinan lama ke keyakinan baru.

Hingga hari perubahan itu tiba. Baca tulisan ini lebih lanjut

Kearifan Pemimpin

Suatu ketika, seorang utusan dari Azerbaijan tiba di Madinah. Karena hari sudah larut malam, ia memutuskan bermalam di masjid Nabi. Namun ketika hendak tidur, ia mendengar suara orang sedang menangis dan merintih di malam yang dingin dan sunyi itu. Orang itu memohon kepada Allah: “Ya Allah, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah engkau menerima tobatku agar aku bisa mengucapkan selamat pada diriku, atau engkau menolaknya agar aku menyampaikan rasa duka citaku pada diriku?”

Utusan dari Azerbaijan itu amat terkesan. Matanya tidak jadi dipejamkan. Karena penasaran, didekatinya orang itu seraya bertanya, “Assalamu’alaikum. Wahai saudaraku, siapakah engkau?”
Di kegelapan, orang itu menjawab, “Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh. Aku Umar bin Khattab.”

Alangkah terkejutnya utusan itu. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Khalifah Umar di Masjid Nabi. “Aku adalah utusan wali dari Azerbaijan. Aku datang ke Madinah untuk menyampaikan amanat kepada Amirul Mukminin. Sampai di sini, ternyata hari sudah malam. Maka kuputuskan besok pagi saja aku menjumpai Anda, wahai Amirul Mukminin, karena aku tidak ingin mengganggi tidur Anda. Ternyata, Anda ada di sini…”

Khalifah menjawab perkataan orang itu dengan singkat, “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah, dan bila aku tidur sepanjang hari, berarti aku telah mengabaikan rakyatku.”

Setelah keduanya menunaikan shalat fajar, Khalifah mengajak tamunya singgah ke rumahnya. Sesampai di rumah, Khalifah berkata pada istriny, “Ya Ummu Kultsum. Tolong hidangkan makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”
“Insya Allah,” jawab istri Umar. “Tapi tidak ada apa-apa selain roti dan garam.”
“Tidak mengapa,” jawab Umar lembut. Sesaat kemudian, Umar dan tamunya menikmati roti dan garam.

Usai makan, Khalifah Umar bertanya kepada tamunya, “Apa maksud kedatangan Anda kali ini?”
Utusan dari Azerbaijan itu menjawab, “Aku diutus untuk menyampaikan hadiah ini kepada Anda.”
“Bukalah bungkusan itu,” pinta Umar. “Aku ingin tahu isinya.”
Ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. “Gula-gula ini sungguh enak, Amirul Mukminin. Ini produk istimewa Azerbaijan.”
Umar bertanya lagi, “Apakah kaum muslimin di Madinah juga mendapat kiriman gula-gula ini?”
Utusan itu tertegun sejenak, lalu menjawab gugup, “Ti..tidak, Amirul Mukminin. Gula-gula ini khusus untuk Anda.”

Mendengar ucapan utusan itu, Khalifah Umar amat marah. Ia segera memerintahkan utusan itu untuk membawa hadiah itu ke masjid dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang membutuhkannya. Dengan tegas Umar bin Khattab berkata, “Barang itu haram masuk ke perutku, kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan Anda, cepatlah kembali ke Azerbaijan. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia mengulangi perbuatannya, ia akan kupecat.”

Bukan Karena Umar!

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.

Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat ini.” Baca tulisan ini lebih lanjut

Doa yang Mengancam

Madrim, si kuli panggul, merasa bahwa Tuhan di atas sana tidak adil memperlakukan dirinya. Hidupnya tidak pernah bahagia dan selalu mendapat musibah. Musibah yang datang silih berganti membuatnya tak sanggup lagi menahan beban, sementara doa-doa yang dipanjatkannya tak pernah terjawab.

Dalam doanya, Madrim mulai mengancam Tuhan. Dia akan menyembah setan bila doanya tidak dikabulkan dalam 3 hari.

Itulah sekelumit cerita dalam film yang dibintangi Aming, Doa yang Mengancam. Film yang mulai beredar di bioskop pada Kamis (9/10) lalu ini merupakan sebuah film dengan genre komedi dengan sentuhan religi.

Sebuah doa yang ‘berani’, karena mengandung ‘niatan’ kesyirikan (menyembah setan bila doa tidak dikabulkan). Untungnya hanya ada dalam film, semoga tidak ada yang coba-coba meniru.

Membaca kisah si Madrim -saya sama sekali belum pernah melihat filmnya, hanya lewat thriller di tv dan sinopsis di media cetak- saya jadi teringat sebuah peristiwa yang hampir sama di masa yang lama sekali.

Berabad yang lalu, Baca tulisan ini lebih lanjut