Dugderan dan Tawuran

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 15 Agustus 2009 by hakimaza

dugderanSepulang dari menjenguk tetangga yang dirawat di RS Pantiwilasa Citarum, kukendarai motorku dengan perlahan. Arus lalu lintas saat itu cukup padat. Maklum, berbarengan dengan usai jam kerja. Motor dan mobil saling menyalip untuk menjadi yang terdahulu. Tak dipedulikan lagi keselamatan diri atau orang lain. Yang penting, cepet-cepet sampai di rumah (walau tanpa selamat). Di perempatan jalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), terjadi penumpukan kendaraan bermotor. Karena di lokasi tersebut, tengah diselenggarakan acara Dugderan, acara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara yang biasanya diselenggarakan di pasar Johar, kini dialihkan ke area MAJT. Berbagai macam dagangan ditawarkan, baik yang tradisional sampai yang modern. Gasing dari bambu, hiasan dari akar, barongan, kapal-kapalan dari seng dan beberapa mainan yang dulu menjadi primadona masih terlihat dijajakan. Disamping itu juga ada penjaja makanan yang biasanya ada di pasar malam, penjual arum manis.

Juru parkir dadakan tampak panen. Hampir di tiap ruas jalan dan tempat-tempat yang lapang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk lahan parkir. Nah bagi Anda yang sedang ke Semarang, jangan lewatkan acara Dugderan ini, yang berlansung hingga hari terakhir Sya’ban. Baca selebihnya »

Apa yang Kau Cari RSBI/SBI?

Posted in Pendidikan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 22 Juli 2009 by hakimaza

sekolah gratisAda komentar sangat arif dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daoed Joesoef. Kata dia, “Nilai mata pelajaran Matematika ank sekolah tidak akan berubah lebih baik, meski diberikan dengan bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.”

Sekarang lihat kebijakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang sebelumnya didahului dengan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu, tidak hanya pelajaran Matematika yang diberikan dalam bahasa Inggris. Semua bidang yang sekarang diujinasionalkan, yakni Matematika, IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, apakah hasilnya akan setara dengan pendidikan dunia internasional hanya karena diberikan dalam bahasa Inggris?

Yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah Indonesia ramai-ramai mengejar status menjadi RSBI. Seolah-olah dengan RSBI, mereka menjadi sekolah yang hebat.

Seorang guru di Solo mengaku, pada awal mereka mengajar dengan pengantar bahasa Inggris, siswa hanya plonga-plongo. Sebab dari 24 siswa di sekolah imersi (bilingual: Indonesia dan Inggris), penguasaan bahasa Inggris mereka masih minim. Baca selebihnya »

Hati-hati dengan Resep Dokter!

Posted in Catatan, Peristiwa, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 29 Juni 2009 by hakimaza

Tulisan berikut ditulis oleh seorang dokter, yang saya ambil dari Grup Indonesia Healt Care Club.

Ini tulisan yang mungkin ‘aneh’, saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai ‘caveat venditor’ (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah).

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah ‘mencurigakan’, karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya ‘menggelikan’. Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai ‘ribut’ karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin, padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya ‘bagus & pintar’, ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.
Baca selebihnya »

Kuingin (Kembali) jadi Raja

Posted in Catatan dengan kaitan (tags) , , , , , on 20 Juni 2009 by hakimaza

Ungkapan pembeli (konsumen) adalah raja, nampaknya mulai tidak berlaku lagi di negeri ini. Atau, itu hanya menjadi slogan untuk meninakbobokkan ‘sang raja’ yang sudah kehilangan ‘mahkota’ kerajaannya, direbut oleh ‘perdana mentri’ yang licik atau ‘pelayan istana’ dan ‘punggawa’.

Kasus Prita Mulyasari, hanyalah satu contoh dari sekian banyak bukti bahwa ‘sang raja’ sudah terasing dari kerajaannya. Masih banyak Prita-Prita lain yang belum atau tidak terekam dan terungkap oleh media. Lihatlah, masih ada ‘raja-raja’ yang miskin dan belum melek ilmu. Kalau Prita sudah mengenal e-mail, facebook, dan seabreg teknologi internet lainnya, banyak ‘raja’ yang untuk membaca tulisan saja belum bisa, karena mungkin mereka sering bolos waktu Kejar Paket A.

Mereka (raja-raja miskin) begitu terpesona dengan penampilan para dokter dengan jas putihnya. Seolah bertatap muka dengan begawan Sengkuni dengan jubah putihnya. Alih-alih untuk menanyakan rekam medis, untuk bertatap muka saja mereka ewuh. Mereka biasanya menyingkir dari kamar perawatan, atau hanya terdiam di sudut pembaringan. Kekhawatiran mereka terhadap penyakit yang diderita atau yang diderita sanak saudaranya akan pupus dan berbuah kebahagiaan dengan jawaban sang dokter.
Baca selebihnya »

Miskin yang Kaya

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 6 Juni 2009 by hakimaza

Di kota Madinah yang damai. Beberapa orang miskin dari kaum Muhajirin menemui Rasulullah. Di hadapan Rasul mulia tersebut, orang-orang itu mengadukan sedikit kegundahan mereka. Tidak dalam nada protes, hanya sekedar memohon kejelasan.

“Wahai Rasulullah, alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Mereka bisa berjuang seperti kami, mereka bisa sholat seperti kami. Tapi mereka bisa berinfaq dengan kekayaan mereka. Sementara kami tidak,” begitulah keluhan yang mereka sampaikan.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah menjawab dengan kasih sayang.
“Maukah kalian aku beritahu tentang amalan yang bisa menjadikan diri kalian seperti mereka? Bacalah tasbih (subhanallah) tiga puluh tiga kali, tahmid (alhamdulillah) tiga puluh tiga kali, dan takbir (Allahu akbar) tiga puluh tiga usai sholat.”

Mendengar jawaban Rasulullah tersebut, orang-orang miskin itu merasa lega. Mereka pulang membawa ketenangan dan kedamaian.

Tapi, beberapa waktu kemudian, orang-orang kaya juga mendengar tentang amalan yang diajarkan Rasulullah kepada orang-orang miskin tersebut. Dan, orang-orang kaya itu pun membaca wirid seperti yang dilakukan orang-orang miskin itu. Mereka mengucapkan tasbih, tahmid, dan takbir setiap usai sholat.

Mendengar hal ini, orang-orang miskin itu kembali menghadap Rasulullah, serta menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa orang-orang kaya juga melakukan apa yang mereka lakukan.

Akhirnya Rasulullah pun memberi jawaban, “Itu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki.”
Baca selebihnya »

Setan Khawatir

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , on 11 Mei 2009 by hakimaza

sholatSeorang pria bangun pagi-pagi buta untuk shalat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, pria tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah.

Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid.
Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di TEMPAT YANG SAMA!
Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah.
Di rumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas pria tersebut, dan pria itu menjawab “Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid. Jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.”
Baca selebihnya »

Kau Bukan yang Dulu Lagi

Posted in Catatan, Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 5 Mei 2009 by hakimaza

Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali iangatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.

Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam.

Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa garis-garis hidup ternyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok lain dari hari yang lalu.
Baca selebihnya »

Buat Apa Sekolah? Sekolah Buat Apa?

Posted in Belajar, Catatan, Guru, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 28 April 2009 by hakimaza

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan Cawang. Walau sering terlambat, kali ini saya datang lebih awal ke tempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari Depok-Cikarang. Tidak tahan kemacetan Ibu Kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan-rekan sambil menunggu jemputan. Muncullah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

“Koran..Koran…, Kompas, Media, Tempo, Republika, Warta Kota” begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan koran kepada kami.
“Koran, Bang?” dia menawariku untuk membeli Koran.
“Seperti biasa, Republika satu” kataku meminta koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih koran yang kuminta diantara tumpukan koran dagangannya.

“Ini bang korannya” dia memberikan koran yang aku minta.
“Nih, ada kembaliannya engga?” Baca selebihnya »