Sepulang dari menjenguk tetangga yang dirawat di RS Pantiwilasa Citarum, kukendarai motorku dengan perlahan. Arus lalu lintas saat itu cukup padat. Maklum, berbarengan dengan usai jam kerja. Motor dan mobil saling menyalip untuk menjadi yang terdahulu. Tak dipedulikan lagi keselamatan diri atau orang lain. Yang penting, cepet-cepet sampai di rumah (walau tanpa selamat). Di perempatan jalan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), terjadi penumpukan kendaraan bermotor. Karena di lokasi tersebut, tengah diselenggarakan acara Dugderan, acara tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan. Acara yang biasanya diselenggarakan di pasar Johar, kini dialihkan ke area MAJT. Berbagai macam dagangan ditawarkan, baik yang tradisional sampai yang modern. Gasing dari bambu, hiasan dari akar, barongan, kapal-kapalan dari seng dan beberapa mainan yang dulu menjadi primadona masih terlihat dijajakan. Disamping itu juga ada penjaja makanan yang biasanya ada di pasar malam, penjual arum manis.
Juru parkir dadakan tampak panen. Hampir di tiap ruas jalan dan tempat-tempat yang lapang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk lahan parkir. Nah bagi Anda yang sedang ke Semarang, jangan lewatkan acara Dugderan ini, yang berlansung hingga hari terakhir Sya’ban. Baca selebihnya »
Ada komentar sangat arif dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daoed Joesoef. Kata dia, “Nilai mata pelajaran Matematika ank sekolah tidak akan berubah lebih baik, meski diberikan dengan bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.”
Seorang pria bangun pagi-pagi buta untuk shalat subuh di Masjid.