Arsip untuk Guru

Coba Pak Hakim Bisa Tidak?

Posted in Belajar, Guru, Ruang Kelas dengan kaitan (tags) , , on 14 Oktober 2009 by hakimaza

Ruang Laborat Komputer
Rabu, 7 Oktober 2009

belajar komputerKelompok 1 anak-anak kelas 2 sudah duduk rapih di depan komputer masing-masing. Di sekolah, tiap kelas memang dibagi 2 kelompok ketika mengikuti pelajaran komputer. Karena jumlah komputer yang ada tidak memadai dengan jumlah siswa. So, satu kelompok belajar komputer, kelompok yang lain ikut pelajaran BK. Masing-masing 1 jam pelajaran, nanti gentian.

Baik, anak-anak sekarang coba dibuka program Paintnya.

“Yaaah… main Pak” seru beberapa anak.

Lho kan kemarin sudah main… dua kali malah…

“G@3ur%kb” mereka menggerutu gak karuan.

Memang pelajaran komputer yang ditunggu-tunggu adalah pelajaran bebas, artinya anak boleh main game komputer. Apalagi kalo pas saya pasang game-game baru… wah bisa berebut tuh anak-anak. Karena saya kadang install gamenya tidak serentak, alias 1-1.

Sudah begini saja, sekarang nggambar dulu. Nah kalo sudah mahir, baru deh main game. Baca selebihnya »

Apa yang Kau Cari RSBI/SBI?

Posted in Pendidikan, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 22 Juli 2009 by hakimaza

sekolah gratisAda komentar sangat arif dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daoed Joesoef. Kata dia, “Nilai mata pelajaran Matematika ank sekolah tidak akan berubah lebih baik, meski diberikan dengan bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.”

Sekarang lihat kebijakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang sebelumnya didahului dengan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu, tidak hanya pelajaran Matematika yang diberikan dalam bahasa Inggris. Semua bidang yang sekarang diujinasionalkan, yakni Matematika, IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, apakah hasilnya akan setara dengan pendidikan dunia internasional hanya karena diberikan dalam bahasa Inggris?

Yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah Indonesia ramai-ramai mengejar status menjadi RSBI. Seolah-olah dengan RSBI, mereka menjadi sekolah yang hebat.

Seorang guru di Solo mengaku, pada awal mereka mengajar dengan pengantar bahasa Inggris, siswa hanya plonga-plongo. Sebab dari 24 siswa di sekolah imersi (bilingual: Indonesia dan Inggris), penguasaan bahasa Inggris mereka masih minim. Baca selebihnya »

Buat Apa Sekolah? Sekolah Buat Apa?

Posted in Belajar, Catatan, Guru, Renungan dengan kaitan (tags) , , on 28 April 2009 by hakimaza

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan Cawang. Walau sering terlambat, kali ini saya datang lebih awal ke tempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari Depok-Cikarang. Tidak tahan kemacetan Ibu Kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan-rekan sambil menunggu jemputan. Muncullah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

“Koran..Koran…, Kompas, Media, Tempo, Republika, Warta Kota” begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan koran kepada kami.
“Koran, Bang?” dia menawariku untuk membeli Koran.
“Seperti biasa, Republika satu” kataku meminta koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih koran yang kuminta diantara tumpukan koran dagangannya.

“Ini bang korannya” dia memberikan koran yang aku minta.
“Nih, ada kembaliannya engga?” Baca selebihnya »

Perbedaan Sekolah Knowing dan Being

Posted in Catatan, Guru dengan kaitan (tags) , , on 17 April 2009 by hakimaza

Para orang tua dan guru yang berbahagia, suatu hari saya kedatangan seorang tamu dari Inggris, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zebra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross. Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelangkan kepalanya tanda begitu ‘kagumnya’ terhadap prilaku bangsa kita.

Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, yakni perbedaan antara teman saya yang dari Inggris dengan saya sebagai orang Indonesia.

Para orang tua dan guru yang berbahagia….pada saat kami sedang beristirahat di salah satu tempat wisata, akhirnya saya tak tahan lagi untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu tapi toh rasa penasaran saya berhasil mengalahkan rasa malu saya.

“Tahukah Anda mengapa orang-orang di negara kami menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, Anda selalu konsisten mencari zebra cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross“, tanya saya padanya.

Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. “Edy…Its all happen because of The Education System“, katanya. Baca selebihnya »

Tamu di Pagi Hari

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , , , on 8 November 2008 by hakimaza

Aku terbangun. Terdengar ketukan pelan di pintu rumahku. Ah, siapa sih yang bertamu ke rumah sepagi ini. Kulirik jam dinding yang menggantung di ruang kamar. Jam 05.30. Baru saja kupejamkan mataku setelah semalaman nonton pertandingan sepakbola. Dasar tamu tidak tahu tata karma, rutukku dalam hati.

Kubuka pintu rumahku. Sesosok lelaki berdiri di depan pintu rumah. Wajahnya putih bersih, pakaiannya serba putih dengan sorban warna putih pula yang melilit di kepalanya, menutupi sebagian rambutnya yang hitam bercahaya. Matanya menyorotkan sinar kewibawaan sekaligus keteduhan. Dan, satu yang tak pernah lepas dari wajahnya. Senyumnya. Ya, ia selalu mengulas senyum yang menyenangkan siapa saja yang melihatnya. Menambah tampan wajahnya

Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tetangga barukukah? Atau seseorang yang sedang mencari rumah temannya?

“Siapakah Anda?” tanyaku takjub.

Baca selebihnya »

Pengantin Gadungan

Posted in Catatan, Guru, Peristiwa dengan kaitan (tags) , on 27 Oktober 2008 by hakimaza

Memenuhi undangan adalah sebuah kewajiban. Begitu yang Rasulullah pesankan. Maka ketika sebuah undangan telah kita terima, kita wajib (diusahakan) memenuhi undangan tersebut. Kecuali ada alasan yang dibenarkan (syar’i).

Nah, ketika masih jomblo alias single dulu, saya semangat kalo ada undangan pernikahan dari teman. Bersama teman sekost, ngalor-ngidul nyari tumpangan untuk dapat menghadirinya – maklum lagi bokek. Perbaikan gizi, alasan sebagian dari kami. Ke luar kota pun dijabanin. Nginep di sana kalo perlu.

Namun sejak menikah, saya jarang memenuhi undangan pernikahan dari teman. Disamping lokasinya yang kadang luar kota atau karena kesibukan, juga karena salah satu dari kami (saya atau istri) pas ada acara. Kan gak kompak, sudah married kok datang sendirian?

Nah, kemarin Ahad mungkin termasuk kesempatan langka. Baca selebihnya »

Indahnya Malam Pertama

Posted in Renungan dengan kaitan (tags) , , , on 22 Oktober 2008 by hakimaza

Satu hal sebagai bahan renungan Kita…
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan Baca selebihnya »

Selamat Jalan Guruku…

Posted in Catatan, Guru, Peristiwa dengan kaitan (tags) , on 14 Oktober 2008 by hakimaza

Selasa (14/10). Baru saja memarkir motor di sekolah, sebuah berita duka dikabarkan seorang teman. Kakak M Sifin al Mufti, Kepala SMPIT Harapan Bunda, meninggal dunia kemarin (13/10) sore. Segera kucari info, dimana rumahnya. Setelah dapat, kuajak istriku ikut serta. Sebelum ta’ziyah, aku mampir dulu ke kantor PDAM untuk membayar air. Disamping satu jalur dengan rumah duka, kewajiban membayar air ini sudah tertunda beberapa hari karena liburan.

Sampai di kantor PDAM, loket belum buka. Bahkan pegawai loket belum kelihatan batang hidungnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.29, sedang pelayanan buka jam 07.30. Inilah Indonesia.
Sudah tak sabar menunggu. Antara ta’ziyah dan bayar air, mana yang akan kupilih. Kalau ta’ziyah dulu, nanti balik ke PDAM lagi pasti sudah ramai antriannya. Maka kuputuskan untuk memperpanjang kesabaranku menunggu sang idola, perugas loket.

Jam 07.35, petugas loket baru tiba. Tidak langsung kerja, malah ngobrol dulu dengan rekan kerjanya. Ya Allah, tidak punya perasaan bener nih orang. Setelah menunggu lagi, akhirnya tiba giliranku. Setelah selesai, kuarahkan motor kesayanganku ke rumah duka yang hanya berjarak 300 meter dari kantor PDAM.

Tibalah aku di rumah duka, Jl. Satrio Wibowo I No. 21 Perum Tlogosari. Sebuah bendera kuning terpasang di tengah jalan. Sebuah papan yang berisi tentang berita duka tertempel di depan rumah. Baca selebihnya »