Guru Sejati, Masihkah Kau Ada?

Melihat tayangan Kick Andy semalam, tanpa terasa air menggenang di pelupuk mataku. Aku menangis. Ya, menangis. Bagaimana tidak? Kick Andy semalam mengangkat tema tentang film Laskar Pelangi yang begitu menyentuh. Film yang diangkat dari novel dengan nama yang sama karya penulis fenomenal, Andrea Hirata, ini dibesut oleh dua orang sineas, Mira Lesmana dan Riri Reza. Namun bukan filmnya yang membuatku meneteskan air mata. Tema sentral dari novel dan film Laskar Pelangi itulah yang membuatku menangis.
Selain menampilkan cuplikan film Laskar Pelangi yang akan diputar secara serentak mulai tanggal 25 September tahun ini, Kick Andy juga menampilkan tentang gambaran sekolah yang ada di Indonesia, terutama di daerah pelosok.
“Gambar ini kami ambil tahun ini, bulan ini. Bukan 30 tahun ketika masa Andrea Hirata kecil mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah Belitong,” jelas Andy F Noya. […]
Dengan gedung yang sebetulnya tidak layak disebut sebuah bangunan, apalagi sekolah. Juga sarana pembelajaran yang jauh dari kata memadai. Ditambah lagi dengan tenaga pendidik (guru) yang sangat jauh dari mencukupi. Mulai dari tamatan SD, buruh tani sampai guru yang mengajar dari kelas 1 sampai kelas 6.

Aku kagum…
Dengan semangat guru-guru yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak di sekitarnya. Walaupun hanya dibayar dengan 9 mud/kaleng (sekitar 1,5 kg) bahan makanan per bulan per orang tua siswa, mereka tetap tegar. Meski hanya mengajar matematika dan bahasa Indonesia, karena hanya itu yang dia bisa, mereka tetap menjalaninya dengan senyum.

Aku terharu…
Dengan pengorbanan yang mereka berikan untuk mendidik insan di sekitarnya. Dedikasi mereka yang tinggi untuk terus memajukan pendidikan di daerahnya, nun jauh di sana. Mengobati dahaga anak didiknya dengan ilmu.

Aku malu…
Selama ini aku merasa telah menjadi guru yang baik, mendarma baktikan diriku untuk kepentingan dunia pendidikan. Memberikan apa yang aku kuasai untuk anak didikku. Namun dibandingkan dengan guru-guru di pelosok itu? Ah.. jauh, aku bukan apa-apanya bila dibandingkan dengan pengabdian mereka. Fasilitas yang ada di sekolah, ternyata tak mampu mendongkrak daya juangku. Kemudahan-kemudahan yang aku dapatkan ternyata tak membuatku untuk berkarya lebih.

Aku berharap…
Semoga akan terlahir kembali guru-guru sejati, yang mendidik anak-anak Indonesia dengan cinta dan hatinya. Guru-guru sejati yang mencurahkan perhatiannya untuk anak-anak didiknya dan bukan berorientasi pada dirinya. Guru-guru yang tidak termanjakan dengan fasilitas atau tergantung dengan sarana yang dimiliki. Guru-guru yang mengajar karena panggilan jiwa, bukan karena tidak ada kerjaan lain. Guru-guru seperti Bu Muslimah (Belitong), Raja Dima (Tapanuli Selatan) Sigoring-goring (Papua) atau Wanhar Umar (Muara Enim, Sumsel).

Guru sejati, di manakah kini kau berada?

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Rafki RS berkata:

    Semoga terkabul apa yang diharapkan. Saya yakin guru sejati itu akan selalu ada walaupun tidak muncul ke permukaan.

    Aamiin. Terima kasih pak, atas dukungannya.

  2. bapakethufail berkata:

    “Guru sejati, di manakah kini kau berada?”
    ada dia disetiap bilik pejuang pendidikan
    ada di setiap derap langkah perjuangan ilmu pengetahuan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s