Selamat Jalan Guruku…

Selasa (14/10). Baru saja memarkir motor di sekolah, sebuah berita duka dikabarkan seorang teman. Kakak M Sifin al Mufti, Kepala SMPIT Harapan Bunda, meninggal dunia kemarin (13/10) sore. Segera kucari info, dimana rumahnya. Setelah dapat, kuajak istriku ikut serta. Sebelum ta’ziyah, aku mampir dulu ke kantor PDAM untuk membayar air. Disamping satu jalur dengan rumah duka, kewajiban membayar air ini sudah tertunda beberapa hari karena liburan.

Sampai di kantor PDAM, loket belum buka. Bahkan pegawai loket belum kelihatan batang hidungnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.29, sedang pelayanan buka jam 07.30. Inilah Indonesia.
Sudah tak sabar menunggu. Antara ta’ziyah dan bayar air, mana yang akan kupilih. Kalau ta’ziyah dulu, nanti balik ke PDAM lagi pasti sudah ramai antriannya. Maka kuputuskan untuk memperpanjang kesabaranku menunggu sang idola, perugas loket.

Jam 07.35, petugas loket baru tiba. Tidak langsung kerja, malah ngobrol dulu dengan rekan kerjanya. Ya Allah, tidak punya perasaan bener nih orang. Setelah menunggu lagi, akhirnya tiba giliranku. Setelah selesai, kuarahkan motor kesayanganku ke rumah duka yang hanya berjarak 300 meter dari kantor PDAM.

Tibalah aku di rumah duka, Jl. Satrio Wibowo I No. 21 Perum Tlogosari. Sebuah bendera kuning terpasang di tengah jalan. Sebuah papan yang berisi tentang berita duka tertempel di depan rumah.
Nama : H. Drs. Musyahid.
Usia : 53 tahun
Dan beberapa informasi lainnya.
Tak ada prasangka ketika membaca pengumuman itu.

Baru beberapa penta’ziyah yang nampak hadir di luar rumah. Sedang di dalam rumah, dikhususkan untuk penta’ziyah putri, sudah penuh. Setelah bersalaman dan duduk, segera kucari tahu ihwal sang jenazah kepada salah seorang tamu yang ternyata tetangganya. Saat itu, pak Sifin dan istrinya belum nampak hadir.

“Meninggalnya jam berapa pak?”

“Kemarin (13/10) sore. Sekitar maghrib”

“Sakit?”

“Yah.. sakitnya sudah lama. Diabetes. Cuma kemarin pas Halal bi Halal, mungkin makannya tidak terkontrol sehingga kadar gulanya naik.”

“Meninggal di rumah atau..?”

“Waktu dibawa ke rumah sakit, belum sampai rumah sakit sudah tidak ada (meninggal) maka langsung dibawa pulang.”

“Beliau bekerja di mana?”

“Di Depag, sebagai pengawas.”

“Oooo…”

“Sebelum itu kerja di SMA 1, sebagai guru agama”

Deg. SMA 1? Musyahid? Guru agama?

Langsung memoriku berputar mencari data itu. Ya, Allah. Ternyata yang meninggal adalah guruku, pak Musyahid, guru agama semasa di SMA 1 dulu. Memang sih, saya tidak diajar langsung. Tapi beberapa kali pernah berinteraksi karena beliau sebagai pembimbing Rohis, sedangkan saya ikut Rohis waktu itu.

Tak diduga tak dinyana. Maksud hati ingin ta’ziyah dan berbela sungkawa kepada teman, ternyata tak lain adalah guruku sendiri. Selarik doa kupanjatkan.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa beliau.
Tempatkanlah ia di sisi Mu dalam keridhoaan lagi dicintai oleh Mu.
Mudahkanlah hisabnya.
Berikan ketabahan dan kekuatan bagi keluarganya. Jangan engkau timpakan kepedihan kepada kami sepeninggalnya.
“Selamat jalan guruku…”

Iklan

3 Comments Add yours

  1. Andy MSE berkata:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… Semoga pak Musyahid mendapatkan sebaik-baik tempat di sisi-Nya

  2. bapakethufail berkata:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…
    mudah2an Allah Swt memberikan ijin untuk tinggal di Taman Surga NYA….

  3. wulan berkata:

    innalillahi wa inna ilaihi rojiun

    Semoga dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya.

    Pak Musyahid (alm) dulu memang pembina Rohis. Saya dulu juga masuk Rohis.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s