Doa yang Mengancam

Madrim, si kuli panggul, merasa bahwa Tuhan di atas sana tidak adil memperlakukan dirinya. Hidupnya tidak pernah bahagia dan selalu mendapat musibah. Musibah yang datang silih berganti membuatnya tak sanggup lagi menahan beban, sementara doa-doa yang dipanjatkannya tak pernah terjawab.

Dalam doanya, Madrim mulai mengancam Tuhan. Dia akan menyembah setan bila doanya tidak dikabulkan dalam 3 hari.

Itulah sekelumit cerita dalam film yang dibintangi Aming, Doa yang Mengancam. Film yang mulai beredar di bioskop pada Kamis (9/10) lalu ini merupakan sebuah film dengan genre komedi dengan sentuhan religi.

Sebuah doa yang ‘berani’, karena mengandung ‘niatan’ kesyirikan (menyembah setan bila doa tidak dikabulkan). Untungnya hanya ada dalam film, semoga tidak ada yang coba-coba meniru.

Membaca kisah si Madrim -saya sama sekali belum pernah melihat filmnya, hanya lewat thriller di tv dan sinopsis di media cetak- saya jadi teringat sebuah peristiwa yang hampir sama di masa yang lama sekali.

Berabad yang lalu, seorang lelaki berdiri menghadap kiblat di sebuah daerah Badar. Kedua tangannya terangkat tinggi ke langit, memohon kepada sang Penguasa dan Pemilik langit dan bumi. Lelaki tadi ‘mengancam’ Allah bila doanya tidak dikabulkan.

“Ya Allah, orang-orang Quraisy telah datang dengan kesombongannya. Mereka ingin mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, aku bermunajat memohon janji-Mu. Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah menjadi ketetapanMu. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok yang kecil dari umat ini binasa sekarang, maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”

Disampingnya berdiri lelaki lain yang tertunduk dengan berurai air mata, merasa sedih melihat sahabatnya. Ia pun berucap, “Wahai Rasulullah, cukuplah apa yang telah kau minta kepada Tuhanmu karena sesungguhnya Ia akan memberikan apa yang telah dijanjikannya kepada-Mu.”

Dan Allahpun menjawab ‘ancaman’ dari manusia terkasih-Nya dengan diturunkan seribu malaikat dan memenangkan pasukan Islam yang hanya berjumlah 300an atas pasukan kaum Quraisy yang tiga kali lebih besar.

“Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian. Maka Ia pun mengabulkannya bagi kalian. Sesungguhnya Aku benar-benar membantu kalian dengan seribu malaikat yang berada di belakang. Dan Allah tidaklah menjadikan hal tersebut kecuali sebagai sebuah kabar gembira dan agar hati-hati kalian bisa tenang dengannya. Dan tidaklah kemenangan itu kecuali hanya datang dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 9-10)

Iklan

2 Comments Add yours

  1. vizon berkata:

    Film ini menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap doa-doa yang kita panjatkan. Pengabulan doa, ternyata dilakukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda; langsung, ditunda atau dengan bentuk lain. Sebagai manusia, kita harus sadar sepenuhnya bahwa semua yang kita dapati ini adalah anugerah dari Tuhan. Yang membedakan antara orang sholeh dengan tidak adalah sikapnya dalam menerima anugerah itu. Film ini mengajarkan kita tentang itu.

  2. Andy MSE berkata:

    Makasih pencerahannya mas Hakim…
    *tapi saya tidak berani berdoa yang mengancam… saya hanya berani minta apa adanya…

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s