Pengantin Gadungan

Memenuhi undangan adalah sebuah kewajiban. Begitu yang Rasulullah pesankan. Maka ketika sebuah undangan telah kita terima, kita wajib (diusahakan) memenuhi undangan tersebut. Kecuali ada alasan yang dibenarkan (syar’i).

Nah, ketika masih jomblo alias single dulu, saya semangat kalo ada undangan pernikahan dari teman. Bersama teman sekost, ngalor-ngidul nyari tumpangan untuk dapat menghadirinya – maklum lagi bokek. Perbaikan gizi, alasan sebagian dari kami. Ke luar kota pun dijabanin. Nginep di sana kalo perlu.

Namun sejak menikah, saya jarang memenuhi undangan pernikahan dari teman. Disamping lokasinya yang kadang luar kota atau karena kesibukan, juga karena salah satu dari kami (saya atau istri) pas ada acara. Kan gak kompak, sudah married kok datang sendirian?

Nah, kemarin Ahad mungkin termasuk kesempatan langka. Bu Ana, seorang teman guru mengundang saya dalam acara pernikahannya. Mumpung saya dan istri sedang tidak acara, maka kami agendakan untuk menghadirinya. Menghadiri pernikahan ini, saya jadi teringat dengan kejadian setahun yang lalu.

Waktu itu, saya diundang seorang teman untuk menghadiri aqad nikahnya. Karena ia teman dekat kami, pernah partner dalam mengajar dengan istri saya, maka kami iyakan undangan tersebut (undangan per lisannya sambil maksa..).

Pak, datang pas aqad ya.

Aqad nikahnya jam berapa?

Jam 5 pak

Sore?

Pagi!

Wah! Kok pagi banget?

Penghulunya pas hari itu hanya jam segitu yang kosong.

(Sedang banyak order nih pak penghulu…)

Ya, Insya Allah..

Sampailah pada harinya. Anak saya yang biasanya susah dibangunkan, sebelum subuh sudah dibangunkan (jadi kasihan sama dia). Tapi alhamdulillah, dia tidak rewel. Karena sudah tahu mau diajak kemana.

Maka berangkatlah kami sekeluarga. Suasana masih gelap. Jalanan masih sepi. Jadi kami tidak bisa bertanya ketika kami muter-muter nyari alamat lokasi pernikahan. Lha wong masih jam 5 pagi!

Tapi alhamdulillah, ketemu seorang bapak yang sedang jogging. Setelah tanya, ternyata alamat yang dituju sudah didepan mata. Walah!

Sesampai di depan rumahnya, kok masih sepi. Semoga belum dimulai. Tapi ternyata di dalam rumah sudah banyak orang. Setelah mengucap salam, kusalami semua orang yang hadir (istri sudah masuk duluan lewat samping rumah).

Di dalam ruang dalam yang bersebelahan dengan ruang tamu, terjadi keributan ibu-ibu yang mungkin sejak tadi malam sudah ada di sini. Acaranya mau dimulai, kudengar mereka berbisik.

Pak penghulu yang ternyata sudah hadir langsung mempersilakan saya untuk duduk. Bahkan seorang bapak mempersilakan duduk di depan pak penghulu. Pak Naib, langsung dimulai aja. Wong pengantinnya sudah datang, ujarnya.

Saya celingukan, nyari mana nih pengantinnya. Kok semua sudah tua-tua, bahkan banyak yang sudah ompong. Hanya ada seorang yang muda, tapi itu kan kakak calon mempelai perempuan. Usut diusut, ternyata mereka menyangka saya lah calon mempelai laki-laki. Mungkin karena sayalah yang paling muda diantara mereka, dan paling ganteng 🙂 Setelah dijelaskan, siapa saya.. gerrrrrrr…. tertawalah kami semua, juga ibu-ibu yang dengan setia mendengarkan di ruang dalam.

Tak berapa lama, hadirlah calon mempelai laki-laki yang sesungguhnya. Dan acara aqad nikahpun dilaksanakan dengan penuh khidmat. Alhamdulillah, untung saya nggak nekat pakai aji mumpung ada kesempatan…

8 8 8 8 8

Mohon maaf buat teman-teman yang pernah mengundangku ke walimatul ‘ursy dan tidak bisa kuhadiri. Barokallah laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair.

Iklan

5 Comments Add yours

  1. AL berkata:

    Untung gak lanjut pak, bisa rame nanti anak istrinya hehehe…. Pernah kejadian tuh sama kawan saya, cuma kebalik. Dia pengantinnya pas dateng berombongan, temennya dia malah disangka pengantennya. Jadi kawan saya itu dicuekin heheh

  2. hakim berkata:

    Tenang AL, situasi terkendali. Tapi kalo dilanjut untung juga lho AL, kan msh 3 yg lowong. 😀

  3. marshmallow berkata:

    hakhakhak…
    gimana tuh perasaan istri mas hakim?
    sekalian ngetes, mau gak dimadu?
    hehe!

    menghadiri undangan wajib, dan makan tanpa diundang adalah haram ya, mas? soalnya kan ada juga orang-orang yang saking memanfaatkan momen pesta, datang dan menikmati hidangan padahal tak diundang (wedding crasher). mas hakim gak gitu kan? 😀

  4. suhadinet berkata:

    Wah, kalau pak hakim gak ngambil inisiatif untuk minta penjelasan siapa pengantinnya, pasti bakal ribut. Ha.ha.ha.. Ada-ada saja.

  5. hakim berkata:

    # marshmallow : perasaan istri sih biasa aja tuh B-). kalo makan tidk diundang gak tau tuh hkmnya apa. tapi kalo undangannya untk massal, bisa nebeng tuh..hik..hik.hik..

    # suhadinet : wah dikunjungi balik sm pak suhadi. terima kasih pak.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s