Menjaga Kesadaran Diri

Seringkali kita berkata, “Membuat rencana itu mudah, tetapi merealisasikannya tidak selalu gampang.” Ungkapan itu ada benarnya, meski tidak untuk setiap orang. Setidaknya, bagi setiap muslim yang memahami konsepsi “hidup adalah menyongsong hari depan di akhirat”, sebagaimana dikatakan Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri melihat apa yang telah dipersembahkan untuk hari esok” (QS Al Hasyr: 17).

Berpijak dari ayat di atas, generasi pertama umat Rasulullah memahami, bahwa hari-hari mereka adalah merencanakan sekaligus menjalankan rencana itu. Mereka selalu sadar, di akhirat hanya tempat memetik, dan tak secuilpun bisa menanam.

Kesadaran diri itulah yang telah memberi para salafushalih itu energi yang luar biasa. Sehingga mereka tetap istiqomah, hingga detik-detik kematian mereka. Dan, pusat kesadaran itu adalah mengingat Allah swt, lebih-lebih saat setan menaburkan godaannya, sebagaimana digambarkan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa godaan syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al A’raf: 201).

Orang-orang yang tidak pernah menghidupkan kesadaran dirinya, seringkali tidak mampu mengalahkan dirinya sendiri. Mereka berpindah dari keinginan ke keinginan lain, tanpa secara serius membuktikan keinginannya itu. Kadang berkata, “Esok, saya harus lebih baik dari hari ini.” Atau, “Saya akan meninggalkan hal-hal buruk yang selama ini saya lakukan.” Tetapi ketika hari yang baru itu tiba, mereka tidak berbuat apa-apa.

Kesadaran diri yang mati menyebabkan orang mudah melakukan perilaku tercela, yang kemudian mengendap ke alam bawah sadarnya. Sehingga orang tidak merasa bersalah melanggar etika sosial. Tidak merasa berdosa melanggar aturan Islam. Kadang, ketidaksadaran itu ditutupi dengan memaksakan upaya rasionalisasi dalam segala hal. Sebagian orang menilai bahwa korupsi itu wajar, hanya karena alasan penghasilan tidak mencukupi. Sedangkan sebagian yang lain menilai, korupsi adalah ‘hobi’ dan ‘kerja sampingan’.

Jika orang seperti itu tidak segera sadar, lama-kelamaan ia akan meremehkan eksistensi (keberadaan) Allah sebagai Penguasa Tunggal. Padahal di tangan-Nyalah roda alam semesta dan seisinya dikendalikan. Karenanya, Allah swt mengingatkan kepada kita, jangan sampai kesadaran diri kita mati, hingga hati kita berubah menjadi batu. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid: 16).

Kesadaran diri adalah energi, tetapi mesti dinyalakan dengan amal yang nyata. Yahya bin Muadz pernah berkata, “Dusta terbesar terhadap diri sendiri adalah bergelimang dosa sambil mengharap ampunan Allah, menyangka diri dekat kepada Allah tanpa berbuat taat kepada-Nya, mengharap buah surga dari benih api neraka, mencari tempat yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat dengan jalan kemaksiatan, menunggu pahala tanpa beramal, dan mengangankan memperoleh keutamaan Allah dengan berbuat yang melampaui batas.” Yahya menutup nasehatnya dengan untaian syair:

Kau harapkan keselamatan
Padahal tak kau telusuri jalan-Nya
Ketahuilah, sesungguhnya perahu itu
Tak mungkin berjalan di atas daratan

Iklan

2 Comments Add yours

  1. AL berkata:

    Waaaaa, aku tidak tau kau mencariku. Sori dori… Lupa. Saya jarang ke sini karena rada sibuk. Maaf ya pak…

  2. aw berkata:

    iya pak, inginnya sadar dan berbuat seindah dan setulus hanya karena dan untuk Allah semata-mata.
    Tapi kesadaran itu tidak ada didalam kata2 pak.., Sebenarnya bagaimana memasuki area kesadaran itu …?

    Salam & terima kasih

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s