Sunnah Pluralitas

Allah menciptakan alam ini di atas sunnah pluralitas. Bahkan, pluralitas menjadi salah satu ayat kauniyah yang Allah tebarkan di alam semesta. Dia ciptakan dua jenis makhluk; makhluk hidup dan makhluk mati. Makhluk hidup terdiri dari atas manusia, hewan, dan tumbuhan. Sedangkan makhluk mati terdiri atas tanah, air, dan udara. Dari sini saja kita sudah dapat melihat pluralitasnya kehidupan di atas dunia ini.

Manusia, hewan, dan tumbuhan Allah ciptakan di atas sunnah pluralitas. Dalam kerangka kesatuan manusia, Allah menciptakan berbagai macam bangsa. Lalu di atas bangsa ini Allah menciptakan berbagai macam suku dan kabilah. Di atas kesatuan hewan, Allah ciptakan berbagai jenis hewan; ada burung, ikan, macan, serigala, semut, dan lain sebagainya. Tumbuh-tumbuhan juga Allah ciptakan beragam; ada pohon jati, pohon mangga, pohon jambu, rumput, sayuran, dan sebagainya.

Tanah, air, dan udara juga Allah ciptakan di atas sunnah pluralitas. Di atas tanah, Allah ciptakan pasir, lumpur, dan bermacam jenis batu. Air juga Allah ciptakan beragam: ada air laut yang asin, air tanah, air sumur, air payau, air hujan. Udarapun diciptakan dalam berbagai jenis: O2, CO2, amoniak, dan sebagainya.

Karenanya, sunnah pluralitas adalah suatu keniscayaan bagi kehidupan ini. Ruang pluralitas sangat luas. Yang pasti, dalam satu jenis ciptaan-Nya, Allah pasti menciptakan pluralitas di dalamnya. Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari sunnah pluralitas ini? Hikmah apa yang yang dapat kita cari?

Pertama, meskipun kehidupan di dunia ini amat beragam, semuanya bersatu di atas sunnah Ilahi. Allah menciptakan berbagai macam makhluk karena masing-masing saling membutuhkan. Pluralitas ada karena ia suatu keharusan. Kenyataan ini harus menyadarkan kita kepada ketundukan atas kekuasaan Allah. Tiada ilah yang patut disembah selain Dia. Pluralitas harus menjadikan lahan bagi suburnya keimanan.

Kedua, Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta telah memberikan petunjuk bagaimana menyikapi pluralitas. Islam tidak memandang pluralitas sebagai perpecahan yang membawa bencana, tapi sebagai rahmat yang membuat kehidupan in menjadi dinamis. Namun ada satu titik tuju yang harus dikejar dalam menyikapi dinamika pluralitas: ketaqwaan. Lihatlah firman Allah yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi kamu ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Perbedaan justru ‘mengingatkan’ kita untuk saling mengenal satu sama lain. Dengan begitu kehidupan berjalan penuh dinamika dan akulturasi budaya akan tercipta di antara bangsa-bangsa di dunia. Hingga tercipta budaya baru yang membuat kehidupan makin berkembang. Namun, semuanya harus tetap berada dalam lingkup kompetisi ketaqwaan.
Pluralitas ada agar kita saling berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Perbedaan-perbedaan di antara kita –seperti perbedaan madzhab, fikih, partai politik- hendaklah kita terima sebagai sunnah Ilahi. Kita berlomba dalam kebaikan sesuai ijtihad kita untuk lebih mendekati wilayah kebenaran dan ketaqwaan. Itulah esensi dari sunnah pluralitas. Ia ada agar hidup ini dinamis dan tidak monoton.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. faiq berkata:

    jangan anggap perbedaan sebagai pemecah persatuan?

  2. marsudiyanto berkata:

    ngeblog jadi meriah juga karena pluralitas Mas…

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s