Mengenal Takut

Manusia diberikan berbagai naluri untuk mempertahankan hidupnya. Salah satunya adalah rasa takut. Jadi takut adalah satu dari beberapa naluri yang Allah berikan kepada manusia untuk mempertahankan hidup.

Namun kita perlu hati-hati. Ternyata tidak semua rasa takut itu merupakan naluri yang dibenarkan oleh Allah. Ada dua jenis macam takut yang perlu kita ketahui, yaitu khauf thabi’i (rasa takut tabiat) dan khauf syar’i (rasa takut syar’i). Keduanya saling bertolak belakang.

Khauf thabi’i, dimiliki hampir semua orang. Misalnya, takut terhadap ular. Hampir semua orang takut dengan ular (kecuali pawang ular), takut kalau-kalau ular tersebut menggigit dirinya. Atau takut terhadap anjing, kucing, harimau, bahkan hal-hal yang menurut sebagian yang lain merupakan hal yang tidak menakutkan. Juga bisa berupa takut terhadap gelap, kuburan atau tempat-tempat yang menyeramkan lainnya. Dan reaksi dari rasa takut ini hampir seragam, yaitu berlari menghindar.

Ketika seseorang takut terhadap ular, maka ia akan menyingkir atau berlari ketika tahu-tahu ada ular yang sedang jalan-jalan di depannya. Atau ia akan menjerit (mungkin sampai histeris) ketika ia kejatuhan ulat.

Jenis takut ini tidaklah sampai menjerumuskan kita dalam dosa karena ia merupakan sifat dasar dari manusia, asalkan takutnya tidak berlebihan. Namun, takut jenis ini (khauf thabi’i) bisa berubah menjadi jenis takut yang kedua, khauf syar’i.

Khauf syar’i terkadang sumbernya sama dengan khauf thabi’i. Yang membedakan hanyalah pada reaksi yang timbul dari rasa takut tersebut. Bila khauf thabi’i berupa lari dari hal yang ia takuti, maka reaksi dari khauf syar’i adalah upaya mendekatkan dirinya kepada hal yang ditakutinya. Dengan tujuan, agar ia merasa nyaman dan aman terhadap hal tersebut. Takut ini (khauf syar’i) bisa menyeret pelakunya kepada perilaku syirik (menyekutukan Allah).

Banyak contoh yang bisa kita ambil dari budaya masyarakat. Secara normal (thabi’i), orang akan lari, menjauh atau menghindar dari pohon besar atau tempat-tempat yang dianggapwingit. Namun acapkali, masyarakat justru mendekat ke tempat-tempat atau obyek-obyek yang menakutkan tersebut. Tidak hanya sekedar mendekat, namun mereka juga memberikan sesajen dan melakukan ritual di tempat tersebut. Melakukan pantangan tertentu selama di area tersebut dan hal-hal sejenis lainnya.

Hal inilah yang dapat menjatuhkan kita pada dosa syirik, menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, menjadikan makhluk-Nya sebagai saingan bagi-Nya.
Ketika kita takut kepada Allah, maka hendaklah kita mendekat kepada-Nya, memohon ampunan-Nya. Melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-Nya.

“Barang siapa yang takut kepada Allah, maka akan Allah jadikan seluruh penduduk bumi takut kepadanya. Dan barang siapa yang takut kepada selain-Nya, maka Allah jadikan ia takut kepada seluruh penduduk bumi.”

Wallahu a’lam bishowab.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. agusampurno berkata:

    Blog dahsyat, banyak ilmu dan hikmah yang saya dapatkan.
    Keep giving us enlightment pak Hakim.

  2. hakimaza berkata:

    jazakumullah pak.. saran dari pembacalah yang membuat penulis lebih giat untuk menulis..
    afwan nih, kemarin tidak jadi ketemuan. mungkin belum rizkinya.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s