Kontinuitas Amal

on

Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh. Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah.

Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akhirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut ayat 1-4.

“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.”

Kontinuitas dalam beramal memang sulit. Perlu pengorbanan, perlu kekuatan mujahadah melawan keinginan yang bisa mematahkan kontinuitas amal. Perlu kepasrahan dan ketundukan penuh pada Allah, untuk meraih suplai energi yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub. Perlu kesabaran berlipat untuk bisa bertahan menjalani ragam tantangan dan halangan yang pasti dijumpai dalam memelihara kontinuitas amal. Tapi, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan surga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah kontinuitas amal itu, meski sedikit, sudah bisa dipetik sejak di dunia.

Ada beberapa alasan mengapa amal yang sedikit tapi berkelanjutan jauh lebih baik daripada amal besar yang tidak berkelanjutan.

1. Sedikit tapi kontinu adalah indikasi keikhlasan
lbadah yang dilakukan hanya temporal, sewaktu-waktu, tidak kontinu, sesuai keadaan, adalah tanda keikhlasan yang belum sempurna. Sebab umumnya aktivitas ibadah yang dilakukan tidak secara terus menerus lebih dimotivasi oleh kondisi lahir dan urusan duniawi. Pendekatan diri kepada Allah dilakukan ketika sedang butuh. Ketika sedang mengalami kesulitan, tertimpa musibah, diuji dengan kesempitan, kesusahan, ia meminta agar Allah menolong dan membantunya meringankan penderitaan. Tapi ketika semua kesulitan itu telah hilang, ia meninggalkan amal-amal ibadah yang sebelumnya dilakukan. Perhatikan firman Allah swt yang artinya,

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus : 12).

Berbeda dengan hamba Allah yang ikhlas, yang tetap istiqamah melakukan ibadah dan amal shalih. Seat diberi kesulitan ia duduk bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah. Dan ketika diberi kelapangan ia akan semakin banyak bersyukur dan mendekat pada Allah yang melapangkan kehidupannya.

2. Sedikit tapi kontinu adalah mata air rasa nyaman
Setiap kita memerlukan rasa nyaman, damai dan tenang. Itulah di antara buah istiqamah dalam kebaikan yang dilakukan. Amal shalih, apalagi yang dilakukan secara terus menerus, meski sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang di dalam hati. Rutinitas ibadah dalam berbagai bentuknya akan membina jiwa seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Kontinuitas melakukan ibadah itulah yang membentuk jiwa menjadi seperti itu. Kebahagiaan dan kelezatan dalam hati orang-orang yang dekat dengan Allah tak bisa dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakan kebahagiaan itu. Lihatlah perkataan para salafushalih, “Kasihan sekali orang-orang yang lalai itu. Mereka keluar dari dunia tapi mereka belum merasakan puncak manisnya dunia.” Puncak manisnya dunia, bagi mereka ada pada kedamaian dan kenikmatan hidup bersama Allah swt.

Ada pula yang mengatakan, “Andai para raja dan para pangeran itu mengetahui kenikmatan apa yang dirasakan oleh para ahli takwa, niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan itu dengan pedang terhunus.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim).

lbnu Taimiyah saat di dalam penjara justru merasakan kenikmatan ujian itu. Dalam sebuah surat kepada anak-anak muridnya ia menulis, “Kami alhamdulillah dan syukur pada Allah, berada dalam kenikmatan agung yang setiap hari terus bertambah. Allah memperbarui nikmat-Nya demi nikmatnya yang lain. Saya dalam keadaan baik. Kedua mata saya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kami berada dalam nikmat yang sangat besar, yang tak mampu dihitung dan dihisab.”

3. Sedikit tapi kontinu adalah strategi
Perbuatan manusia itu memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan dicintai oleh Allah swt, daripada perbuatan lainnya. Allah swt berfirman,
“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. at-Taubah: 19-20).

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa iman itu memiliki enam puluh lebih cabang -atau tujuh puluh lebih- yang paling tinggi adalah Laa ilaha illa Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan.” Hal ini menunjukkan bahwa jenjang iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Amir Asya’bi seorang tabiin menceritakan bahwa suatu ketika beberapa orang keluar dari Kufah dan menyepi untuk melakukan ibadah. Kemudian Abdullah bin Mas’ud diberitahu tentang keadaan mereka. lbnu Mas’ud mendatangi mereka dan mereka sangat gembira dengan kedatangan lbnu Mas’ud. lbnu Mas’ud bertanya, “Apa yang membuat kalian melakukan hal ini?” Mereka mengatakan, “Kami ingin keluar dari keramaian manusia dan melakukan ibadah.” lbnu Mas’ud berkata, “Kalau seandainya manusia melakukan semuanya seperti apa yang kalian lakukan, siapa yang akan berperang melawan musuh?”

Menurut IbnuI Qayyim, orang yang dikatakan sangat pemberani adalah orang yang langsung berhadapan musuh dengan senjatanya. Posisinya di barisan pejuang selama satu jam dan jihadnya melawan musuh musuh Allah itu lebih baik dari haji, puasa dan shadaqah. Orang yang mengetahui sunnah, hukum halal-haram, jalan kebaikan dan keburukan, kemudian ia tetap berbaur dengan manusia mengajarkan mereka dan menasihati mereka tentang Islam itu lebih baik daripada ia sendiri melakukan sholat dan menghabiskan waktu untuk membaca Al Quran dan tasbih.

4. Sedikit tapi kontinu adalah bahan bakar utama
Orang yang ingin mencari ridha Allah dan memperoleh kebahagiaan akhirat, dan bahkan setiap orang yang pergi mencapai tujuannya tidak akan tercapai kepada tujuannya kecuaIi dengan dua kekuatan: yakni kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Demikian ujar lbnul Qayyim rahimahullah. Kekuatan ilmu akan menerangkan jalan dan memposisikan pelakunya agar sampai pada tujuannya, terhindar dari bahaya dan tempat-tempat yang terlarang, atau menjadikannya tersesat.

Sedangkan kekuatan amal adalah kekuatan untuk istiqamah dan tetap berupaya melanjutkan perjalanan. Upaya untuk bisa bertahan dan istiqamah melanjutkan perjalanan, adalah dengan mengetahui dan memanfaatkan kemudahan yang diberikan Allah dalam beribadah.
Maka, kita harus berupaya sekuat daya untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat. Berkomitmen pada jalan kebaikan. Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar akibat diterpa kejenuhan dan rasa bosan.

Dengarkan cerita Buraidah yang suatu ketika pergi keluar rumah untuk sebuah keperluan. Kebetulan saat itu ia bertemu dengan Rasulullah dan berjalan bersamanya. “Dia menggandeng tangan saya, dan kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjang ruku’ dan sujudnya. Nabi saw bertanya, “Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya?”, Abu berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda, “lkutilah petunjuk yang pertengahan..” (Disebutkan oleh al-Haitsami dan Ahmad dalam Majma Zawaid, 1:62).

Amal yang kontinu pasti berat dilakukan. Tapi, itu biasanya terjadi hanya pada awalnya saja. lbarat memutar sebuah roda. Terasa berat hanya pada awal putaran. Tapi pada putaran kedua dan ketiganya, roda itu akan lebih mudah diputar. Demikian juga dengan kondisi jiwa manusia.

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s