Harga Sebuah Kematian

on

Manusia lahir sekali. Hidup sekali. Dan, mati pun hanya sekali. Lahir, hidup dan mati ibarat sebuah lorong sangat panjang. Bermula dari gelap dan berakhir pada gelap.

Di jaman batu, ketika peradaban tak banyak punya rentang ruang dan waktu, jalan menuju kematian belum beragam. Bukan karena takdir Allah tidak berlaku. Tetapi sarana menuju kematian itu memang belum bermacam-macam. Padahal sarana itu juga bagian dari takdir kematian itu sendiri. Sesuatu yang sering disebut ulama dengan istilah ‘takdir persambungan’.

Berbeda dengan sekarang, ketika peradaban menemukan cita rasa dan warna yang berhamburan. Ada beribu jalan menuju kematian, bahkan berjuta. Tetapi toh manusia hanya akan mengambil saja, tidak lebih.

Seiring banyaknya kepentingan hidup, harga sebuah kematian menjadi sangat beragam. Tidak lagi karena siapa yang mati, tetapi konteks apa kematian itu terkait dengan kepentingan orang-orang yang masih hidup.

Setidaknya itu yang nampak dirasakan, misalnya, oleh seorang James M Ennes, penulis buku Assault on the Liberty (Random House, 1980). Kala itu, tahun 1967, tengah terjadi ketegangan antara bangsa Arab dan Israel. Tiba-tiba pada 8 Juni 1967, Israel menyerang Kapal Induk USS Liberty. Serangan diam-diam itu menewaskan 34 perwira muda AS. 171 orang terluka, 821 roket dan senjata mesin AS tenggelam.

Tetapi reaksi yang muncul adalah tudingan kepada kelompok muslim Arab sebagai pelaku. Amerika dan sekutunya marah. Negara-negara Arab kembali diserang. Israel menang dan bertambah luas wilayah jajahannya. Begitulah, James M Ennes, salah satu saksi hidup dalam peristiwa itu menuturkan keprihatinannya. Harga kematian para perwira itu adalah sebesar kepentingan mereka yang berada di balik penyerangan itu.

Seperti juga kisah klasik Timothy Mc Veigh, seorang mantan Marinir Amerika, yang mengebom bagian depan gedung federal Alfred P Murrah, di Oklahoma City, Amerika, dengan sebuah bom truk pada tahun 1995. 168 orang tewas. Untuk dan atas nama kematian orang-orang itu, seorang muslim tua bernama Omar Abdul Rahman langsung ditangkap. Tetapi enam tahun lebih 55 hari kemudian, sepuluh wakil keluarga para korban itu bisa menyaksikan langsung pelaksanaan hukuman mati atas Mc Veigh, pelaku pemboman yang sebenarnya.

Pada setiap kematian memang harus ada sikap, harga dan tindakan. Tetapi bukan sebuah reaksi pendulum, yang daya baliknya sering lebih menyakitkan dari daya dorongnya. Karenanya, siapapun kita, yang masih dikaruniai hidup detik ini, semestinya berlaku jujur dan adil dalam menghargai sebuah kematian. Tidak saja karena kita pun akan menuju kematian itu. Entah kapan, dan entah dengan cara apa. Tetapi lebih dari itu, tidak selayaknya kita menjadi ‘pedagang’ kematian, untuk sebuah kepentingan yang tidak manusiawi.

Untuk dan atas nama orang-orang yang menjadi korban di Legian telah ada suara, sikap, dan juga harga. Tetapi sekali lagi, tak berlebihan bila kita berharap, agar jangan sampai suara itu salah sasaran. Jangan sampai suara itu memangsa korban baru. Dan, jangan pula harga itu adalah nilai sebuah transaksi gelap para gangster duni di sebuah negeri elok bernama Indonesia.

Sebagaimana kita juga masih mencoba berharap, agar ada suara, ada sikap, dan ada harga untuk kematian anak-anak, wanita, dan orang-orang Palestina. Ketika jalan kematian mereka telah dimonopoli Israel, dalam satu rasa: rasa moncong senapan mesin atau rudal Hellfire dari helikopter Apache.

Sebuah kematian memang layak ditangisi. Tetapi siapapun yang masih hidup, harus jujur dan adil dalam menghargai sebuah kematian. Agar tangis kematian itu, tidak menjadi sebuah ritual yang rasialis, diskriminatif, atau bahkan menjadi tunggangan konspirasi tingkat tinggi.

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s