Secawan Madu

Di sebuah desa di lereng gunung Merapi, hiduplah sekelompok masyarakat desa. Tanah yang subur memberikan apa yang mereka butuhkan. Gunung dan hutan dengan aneka hewan buruan. Sungai yang mengalir sepanjang tahun. Masyarakatnya hidup damai dan saling menghormati. Ditambah lagi seorang bijak memimpin mereka sebagai kepala desa.

Desa tersebut terkenal sebagai penghasil madu yang baik. Karena lebah-lebah mengambil sari bunga dari tanaman di hutan yang masih alami. Dan oleh lebah, sari bunga ini diubah menjadi madu-madu yang bermutu. Maka tak heran bila ternak lebah madu menjadi primadona mata pencaharian di desa tersebut.

Masyarakat desa mempunyai suatu kebiasaan atau budaya turun temurun. Yaitu setiap musim panen madu, petani lebah madu diharuskan memberikan hadiah atau persembahan secawan madu hasil panennya kepada tetua di daerah tersebut. Persembahan tersebut dimaksudkan sebagai tanda syukur atas hasil panen madu yang baik. Biasanya penduduk desa akan menuangkan madu tersebut ke dalam gentong yang diletakkan di tengah alun-alun desa. Madu yang terkumpul akan digunakan untuk sajian dalam pesta desa yang diikuti oleh seluruh penduduk desa dan desa tetangga.

Di suatu malam di musim panen madu, menjelang persembahan, sebuah pelita masih menyala dari sebuah rumah di ujung desa. Menandakan penghuninya belum tidur.

“Bu, hasil madu kita kali ini sepertinya menurun. Tidak banyak seperti tahun kemarin. Apalagi, sebagian hasil sudah kita kirimkan ke ayah,” terdengar suara sang suami. “Sudah tidak ada persedian madu di rumah kita.”

“Lalu, untuk persembahan besok bagaimana, Pak?”

“Itulah yang saya fikirkan, Bu. Bapak tidak tahu harus bagaimana.”

“Bagaimana kalau pinjam madu tetangga sebelah, Pak? Tahun depan kita ganti.”

Sang suami menghela nafas. Menggeleng.

“Sudahlah, Pak. Kita fikirkan besok saja.”

Keesokan harinya, bersama dengan penduduk desa lainnya, sang suami berangkat menuju alun-alun desa membawa sebuah cawan tertutup.
Semakin lama rombongan mereka semakin banyak. Gelak tawa kadang terdengar dari rombongan itu, hingga tak terasa mereka telah sampai di alun-alun desa.

Sesampai di alun-alun, mereka mengantri untuk menuang madu milik mereka masing-masing. Tibalah giliran sang suami. Dengan mantap ia berjalan mendekati gentong tempat madu. Dan dituangkannya isi cawannya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.

Sepulang dari alun-alun, sang istri sudah menunggunya di depan pintu.

“Bagaimana, Pak?”

“Beres, Bu. Idemu memang hebat. Mudah-mudahan tidak ada yang tahu, bahwa kita mempersembahkan secawan air, bukan secawan madu.”

“Iya, Pak. Apalah artinya secawan air dalam segentong madu?”

Suami istri tersebut tersenyum puas dan gembira.

***

Di alun-alun…

Kepala desa bersama perangkat desa lainnya memindahkan gentong madu ke aula desa.
Dan seperti biasa, mereka akan mempersiapkan madu tersebut untuk perjamuan pesta desa esok lusa.
Namun alangkah terkejutnya mereka ketika membuka gentong, bukan madu yang mereka temui tapi air. Ya… segentong air.

Rupanya, penduduk desa berfikiran sama dengan sepasang suami-istri tadi. Apalah artinya secawan air dalam segentong madu.

Iklan

One Comment Add yours

  1. marsudiyanto berkata:

    Madu secawan, tawonnya seberapa???

    Ah..pak Mars ngetes, tawonnya yang nggak gedhe2 amat Pak, jumlahnya juga cuma 2 (jantan dan betina)

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s