Apa yang Kau Cari RSBI/SBI?

on

sekolah gratisAda komentar sangat arif dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Daoed Joesoef. Kata dia, “Nilai mata pelajaran Matematika ank sekolah tidak akan berubah lebih baik, meski diberikan dengan bahasa Inggris, jika dibandingkan dengan diajarkan menggunakan bahasa Indonesia.”

Sekarang lihat kebijakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) yang sebelumnya didahului dengan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Tentu, tidak hanya pelajaran Matematika yang diberikan dalam bahasa Inggris. Semua bidang yang sekarang diujinasionalkan, yakni Matematika, IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, apakah hasilnya akan setara dengan pendidikan dunia internasional hanya karena diberikan dalam bahasa Inggris?

Yang terjadi saat ini, sekolah-sekolah Indonesia ramai-ramai mengejar status menjadi RSBI. Seolah-olah dengan RSBI, mereka menjadi sekolah yang hebat.

Seorang guru di Solo mengaku, pada awal mereka mengajar dengan pengantar bahasa Inggris, siswa hanya plonga-plongo. Sebab dari 24 siswa di sekolah imersi (bilingual: Indonesia dan Inggris), penguasaan bahasa Inggris mereka masih minim.
Selain itu, sekolah-sekolah itu juga harus mengursuskan secara khusus guru-guru mereka agar memiliki penguasaan bahasa Inggris lebih baik. Namun apa dampak yang dirasakan siswa? Jelas, selain mayoritas mereka bingung karena pelajaran Matematika, IPA, IPS dan pelajaran inti lainya diberikan dalam bahasa asing, ada efek samping yang harus ditanggung siswa.

RAB (Rencana Anggar Belanja) sekolah membengkak. Ternyata siswalah yang menanggung biaya kursus guru-guru tersebut.
RAB salah satu sekolah favorit setahun Rp 2,8 miliar, yang sebagian besar untuk peningkatan sumber daya guru dan pengembangan kurikulum. Namun dalam breakdown anggaran ini, ternyata isinya untuk biaya kursus guru, menyekolahkan tenaga pendidik dan sederet workshop, lokakarya, dan sebagainya – yang semestinya tidak selayaknya ditanggung siswa.

Sekarang, ketika musim RSBI dan SBI melanda, lagi-lagi efek samping dari program itu ternyata adalah pembengkakan biaya yang harus ditanggung siswa. Apalagi ada embel-embel aturan SK Mendiknas, yang membolehkan sekolah SBI dan RSBI menerima sumbangan dari orangtua dan pihak ketiga.

Meskipun demikian yang jelas siswa menanggung seluruh biaya fasilitas yang harus ada. Mulai dari penyediaan AC untuk ruang belajar, laptop, computer, laboratorium bahasa, laboratorium praktikum IPA dan sebagainya.

Akhirnya tarikan uang pada siswa baru bagaikan perlombaan antarsekolah. Jutaan rupiah harus dibayar sebagai konsekuensi orang tua menyekolahkan anaknya di SBI atau RSBI. Bahkan puluhan juta dikeruk untuk si anak.

Keluhan demi keluhan sudah bermunculan di berbagai media. Namun jawabannya hanya satu. Kalau tidak ingin membayar mahal, jangan memasukkan anak ke RSBI atau SBI. Karena sekolah itu memang mahal.
Apa sebenarnya manfaat status SBI dan RSBI itu? Kalau memang ukurannya kemampuan berbahasa Inggris, kenapa tidak ditingkatkan saja mata pelajaran itu, sementara bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Toh yang penting anak-anak menguasai materi yang diajarkan, bukan bahasa pengantarnya. Kenapa selalu soal kemasn yang dikedepankan, sementara isinya diabaikan?

Kalau sepintas dirasakan, mestinya dengan bertaraf internasional, bisa saja dalam benak masyarakat terbayang, anak-anak lulusan RSBI dan SBI, bisa langsung melanjutkan sekolah atau kuliah di sekolah atau universitas di luar negeri. Toh sudah sama tarafnya.
Tetapi seberapa sih anak-anak yang akan sekolah ke luar negeri? Jangankan ke luar negeri, melanjutkan ke universitas dalam negeri saja rasanya akan berat.

Apakah mungkin, suatu saat menyekolahkan anak menjadi tindakan sangat langka dan mahal? Lalu apa artinya iklan: “anak sopir angkot bisa jadi pilot, anak loper koran bisa jadi wartawan” kalau ternyata biaya pendidikan semakin mahal saja.

***Ditulis oleh Joko Dwi Hastanto, wartawan Suara Merdeka di Karanganyar (SM, 22 Juli 2009)

Iklan

8 Comments Add yours

  1. yOUCKE berkata:

    Apa yang saya rasakan bergabung dengan sekolah RSBI, yang dengan optimis akan menjadi SBI, adalah ketika secara defacto SDM nya berkualitas LOkal dan itu sudah sangat minded. sehingga budaya ngajar yang sangat tidak profesional yang melekat kepada keanyakan guru senior tidak bisa hilang, namun kekurangan mereka terkubur dengan adanya workshop-workshop peningkatan prestasi hingga ke sertifikasi, yang kenyaataanya tidak membuat mereka lebih baik, lebih pro, lebih mampu kelebihan lain yang diperlukan untuk membawa sekolah RSBi/SBI menjadi sekolah yang menghasilkan siswa-siswa benar-benar berkulaitas, baik dari segi moral maupun akademis. kesimpulan RSBI dan SBI haruslah dipersiapkan dengan sangat matang dan penuh perhitungan untuk menghasilkan outcome yang standard betul dengan dunia international, bukan sekedar bangunan fisik yang bagus mapel disampaikan dalam bahasa inggris.

  2. nurul berkata:

    jd sebenarnya apa sh keunggulan sekolah2 RSBI atau SBI itu? apakah hanya dalam penggunaan bahasa saja wong menerangkan pelajaran dengan bahasa indonesia saja anak2 belum tentu langsung mengerti apalagi denga bahasa inggris? harus di kaji ulang!!!

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s