Obsesi Penggembala

on

Lelaki itu bukan siapa-siapa. Setidaknya begitulah pada mulanya. Ia hanya penggembala kambing. Menghabiskan hidupnya di sebuah dusun kering, jauh di luar kota Madinah. Wahab bin Qabus, itulah namanya. Suatu hari ia masuk Islam. Dengan proses entah seperti apa. Sebuah keputusan yang mengubah keyakinannya, bahwa ada satu-satunya Tuhan yang sah di jagad raya ini. Allah yang Maha Besar dan Maha Benar.

Begitupun, Wahab tetap menekuni kehidupannya sebagai orang kampung. Mengisi hari-harinya dengan kebiasaan rutin, bersahabat akrab dengan puluhan kambingnya. Ia telah berubah menjadi seorang muslim, tapi tak bisa dipungkiri, ia tetap seorang penggembala kambing.
Rutinitas sebagai penggembala mungkin tak begitu memberi arti baru baginya. Kecuali sebatas apa yang ia lakukan dari menghayati kehidupan barunya sebagai seorang muslim. Ini sebuah proses yang pasti terjadi pada siapapun, yang berpindah dari keyakinan lama ke keyakinan baru.

Hingga hari perubahan itu tiba. Wahab pergi ke kota Madinah. Ia berangkat membawa serta kambing-kambingnya. Sebuah kepergian yang tak terlalu istimewa. Mungkin sekedar ingin menjual kambing-kambingnya itu di kota. Lalu pulang kembali ke rumah dengan oleh-oleh dan kebutuhan baru, kemudian hidup sebagaimana biasanya.

Tetapi setibanya di Madinah, ia mencoba mencari tahu keberadaan Rasulullah. Ternyata Rasulullah tengah pergi ke medan Perang di Uhud. Mendengar kabar itu, Wahab seketika menyusul Rasulullah. Dengan tak lupa mencari sebilah pedang sebagai bekalnya. Kambing-kambing yang ia bawa dari kampung ia tinggalkan begitu saja. Di Uhud sendiri, pertempuran telah melampaui setengah babak. Di sana Wahab menjumpai Rasulullah tengah dikepung oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhasil mengecoh para pemanah dari pasukan muslim di atas bukit.

Suasana sangat mengerikan. Penyerbuan dari belakang yang dilakukan orang-orang kafir membuat formasi perang kaum muslimin yang semula memenangkan pertempuran menjadi berantakan. Rasulullah sendiri terkepung. Di saat itulah Rasulullah bersabda dengan suara keras, “Barang siapa dapat membubarkan kepungan mereka, ia akan bersamaku di surga.”

Mendengar itu, Wahab bin Qabus langsung menghunus pedangnya dan menyerang kepungan orang-orang kafir itu. Mereka pun kocar-kacir dan melarikan diri. Setelah itu berulang kali orang-orang kafir mengepung lagi. Dan Wahab pun bertarung dengan segenap keberaniannya, diselingi teriakan Rasulullah yang menyemangatinya dengan janji surga. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga akhirnya Wahab sang penggembala itu, menemui takdirnya, mati syahid di Uhud yang membara.

Usai perang, sesaat setelah orang-orang Muslim akhirnya berhasil mengusir orang-orang kafir, Wahab tergeletak bermandikan darah. Sa’ad bin Abi Waqas mengisahkan, “Aku belum pernah melihat orang yang demikian hebat dalam bertempur seperti Wahab bin Qabus.”

Di hadapan jenazahnya, Rasulullah yang masih terluka bersabda, “Allah meridhaimu dan aku pun meridhaimu.” Lalu Rasulullah pun ikut menguburkan jenazahnya. Memang dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Wahab bin Qabus bukan satu-satunya yang bertempur melindungi Rasulullah di saat-sat genting di perang Uhud. Tapi hanya Wahab seorang yang memutuskan datang ke medan perang itu, di tengah rencana lain sebelumnya yang sederhana: ke kota untuk menjual kambing-kambingnya.

Wahab dan kematiannya menggambarkan sebuah obsesi kemuliaan dan bagaimana cara mendapatkannya. Tentang kemengertian akan indahnya mahkota keluhuran dan bagaimana ia membayarnya. Dan, begitulah hidup ini melantunkan ajarannya. Adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari menemani Rasulullah di surga? Adakah harapan yang lebih obsesif dari mendampingi Rasulullah di surga?

Wahab bin Qabus seharusnya menghentak kesadaran kita, bahwa obsesi itu bukan monopoli orang-orang tertentu. Bukan pula hak khusus kaum elit secara sosial atau intelektual. Status sosial dan intelektualitas mungkin memberi kadar kontribusinya bagi sebuah obsesi, tapi bukan menentukannya. Sebuah obsesi bisa menjadi milik seorang penggembala yang mulanya biasa-biasa saja. Bahkan bila obsesi itu datang pada waktu yang sangat singkat.

Di sini, di dalam rumah keimanan, sebuah obsesi dan kehendak besar, menegaskan dirinya sebagai nilai keberartian di dunia dan di akhirat. Maka, menjadi berarti di dunia dan di akhirat, adalah obsesi yang bisa diformulasikan dalam bentuk pekerjaan, karya dan juga jerih payah. Pada setiap jalur kehidupan yang halal, wajib dan sunnah, ada berjuta pekerjaan dan perilaku yang bisa menjadi baju obsesi-obsesi itu.

Apa obsesimu, wahai sahabat?

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s