Agar Hidup Tak Salah Arah

on

Berbicara tentang hidup tak dapat dipisahkan dengan pemenuhan kebutuhan diri. Dari kebutuhan yang paling dasar –seperti makan, minum, pakaian dan perumahan- sampai yang lebih tinggi –seperti rasa aman. Kebutuhan itu timbul agar manusia dapat menyambung dan mempertahankan hidupnya. Tak heran bila untuk semua itu orang lantar berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Namun perlombaan ini menjadi berbahaya jika manusia, dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya mengabaikan nilai-nilai agama (Islam). Misalnya dalam berdagang, unsur-unsur yang dilarang agama seperti riba, manipulasi harga, penipuan, perampasan hak orang lain, kecurangan dalam menimbang, masih sering dilakukan. Bahkan ada segelintir orang berkata, “Zaman serba susah, mendapatkan yang haram saja susah apalagi yang halal.” Na’udzubillah mindzalik.

Jika hidup hanya untuk makan dan minum, lalu apa bedanya dengan binatang? Cobalah perhatikan bagaimana siklus binatang. Ayam, misalnya. Pagi-pagi keluar dari kandang. Sehari penuh yang ada dalam instingnya adalah bagaimana agar perutnya terisi, kenyang.

Tapi manusia dituntut mengisi hidup agar bernilai di mata Allah SWT. Bukan sekadar mengisi perut layaknya binatang. Karenanya, orang-orang yang gagal memaknai hidupnya diancam Allah dengan siksa yang sangat pedih.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin danmanusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat) Allah, mempunyai mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Dan mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah ornag-orang yang lalai. (QS. Al A’raf: 179).

Memang, kian hari problema hidup kian kompleks. Kemajuan teknologi membuat hidup penuh persaingan ganas. Siapa tak punya keahlian akan terlindas dalam persaingan. Tapi tak berarti hidup harus mengalah dan menyerah. Bagi seorang mukmin, justru di tengah kesulitan itu, kebutuhan untuk berpegang kuang kepada nilai-nilai Islam semakin besar. Sebab dari sanalah upaya mencari ridha Allah bisa dilabuhkan. Tinggal kemudian, langkah-langkah memenuhi kebutuhan hidup dijalani dengan ikhlas, memilih hanya yang halal, serta yakin bahwa Allah pasti menolong orang-orang yang bertaqwa.

Tak berlebihan kiranya bila seorang penyari bersenandung:
bertaqwalah kepada Allah jika engkau lalai
rezeki datang dari arah yang tidak engkau ketahui
betapa engkau takut melarat sedang Allah Pemberi rezeki
Dia memberi rezeki kepada burung dan ikan di laut
barang siapa mengira rezeki datang lewat kekuatan
tentu burung pipit tak akan kebagian
karena ada burung rajawali
jauhilah kecenderungan dunia
karena engkau tidak tahu
jika malam tiba apakah kau akan hidup sampai pagi
berapa banyak orang mati tanpa mengalami penyakit
dan betapa banyak orang yang sakit berumur panjang
betapa banyak pemuda tertawa-tawa pagi dan petang
sedangkankain kafannya ditenun oleh orang lain
barang siapa hidup seribu atau dua ribu tahun
pasti suatu hari akan masuk liang kubur juga

Iklan

2 Comments Add yours

  1. ImUmPh berkata:

    Widih… salut…
    Untuk dapat teruz hidup, kita harus berpegang teguh kepada Allah. Amin.

  2. muchtarom berkata:

    Betul kang Rohman! orang hidup di dunia ini tugas pertama dan utamanya adalah beribadah. So, agar orang tsb selamat dunia akhiratnya, maka Ia harus “berjalan” di atas aturan-2 yg tlah ditentukan-Nya (nilai-nilai Agama). Aneh sekali bila ada orang yg berbuat ingkar kepada-Nya, padahal Ia hidup di atas bumi-Nya, berjalan di bawah kolong langit-Nya, makan n minum dari rizqi-Nya, bernapas menghirup udara-Nya dan semua yg dijalani dan diperoleh atas izin-Nya!

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s