Kesempatan Kedua

Setiap yang hidup, pastilah akan mati, kecuali Dzat yang Mahahidup dan Mahaabadi. Hidup dan mati adalah dua sisi mata uang, yang satu menutupi yang lain, yang satu menggantikan yang lain.

Dalam perjalan hidup kita, tanpa kita sadari, maut demikian dekat dengan hidup kita itu sendiri. Bahkan kita pernah ‘bersentuhan’ dengannya. Paling tidak, itulah yang saya alami.

Beberapa peristiwa yang saya alami, menjadi gambaran bagi saya, betapa maut demikian dekat, sedekat urat nadi kita sendiri. Dan ketika saya renungkan peristiwa-peristiwa tersebut, membuat saya semakin menghargai hidup dan mungkin itu yang sering disebut kesempatan kedua. Salah satunya adalah yang saya alami ketika masih kecil.

Di selatan desa, ada sungai besar yang sering disebut warga sebagai Banjir Kanal (Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai terbesar yang ada di Semarang yang bermuara di laut Jawa). Air sungai yang jernih bebas dari pencemaran (waktu itu) dan banyaknya pepohonan di sepanjang sungai tersebut, menjadi tempat yang ideal bagi ikan-ikan air tawar. Di samping itu, tanah yang banyak mengandung berpasir, sering dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menambang pasir.

Di desa saya, dan desa-desa disepanjang aliran Banjir Kanal, mencari ikan di sungai beramai-ramai dengan cara memberi obat pada aliran sungai adalah hal yang jamak dilakukan warga. Seperti kali itu, saya ikut bergembira ketika orang-orang dewasa berbondong-bondong menuju sungai. Meski orang tua melarang, dengan sembunyi-sembunyi saya menyusul rombongan itu ke sungai tersebut. Larangan orang tua saya sangat beralasan, karena pada sungai tersebut banyak bagian sungai yang cukup dalam, bahkan mencapai 2-3 meter.

Namun saya nekat, dengan dalih toh saya bisa mencari ikan di tempat-tempat yang dangkal atau tempat-tempat yang biasa yang dilalui orang untuk menyeberang.

Saya pun larut dalam kegembiraan. Gembira antara mencari ikan dan bermain air. Beberapa kali saya berhasil mendapat ikan-ikan yang telah ‘teler’ gara-gara jenu (dibuat dari tumbukan tumbuhan berduri yang sering dibuat pagar). Di samping itu juga udang yang berseliweran di kaki saya, bersembunyi diantara bebatuan yang ada. Hasil tangkapan saya masukkan dalam tas kresek. Sekitar saya sudah mulai sepi, karena orang-orang sudah berjalan menuju hilir mengikuti aliran sungai.

Tiba-tiba pandangan saya terpaku pada ikan gabus yang cukup besar. Dengan mengendap-endap kuburu ikan tersebut. Namun rupanya jenu yang disebar warga tidak mampu membuat ikan tersebut ‘teler’, atau pengaruh jenu memang sudah mulai hilang, sehingga saya cukup kesulitan untuk menangkapnya.

Ketika ikan sudah dalam jangkauan, tiba-tiba… blussss… saya kehilangan pijakan kaki. Bukan lagi pasir yang saya injak, tapi air dan air. Rupanya tanpa sadar, saya telah masuk dalam wilayah penambang pasir, dimana terdapat bekas galian dimana-mana yang menjadi ranjau bagi siapa saja yang tak bisa berenang, termasuk saya. Beberapa kali saya tenggelam dan beberapa kali pula air masuk ke tenggorokan. Tangan mungil saya menggapai-gapai mencari pegangan, namun tak ada sesuatu pun yang bisa saya pegang. Dan dalam kondisi kepanikan bercampur keputus-asaan, tiba-tiba sebuah tangan menarikku ke atas. Akhirnya saya ditarik ke tepi sungai. Sudah tak kupedulikan lagi tas kresek yang berisi ikan yang hanyut. Aku terduduk lemas, batuk-batuk, mengeluarkan air yang serasa memenuhi paru-paru. Mata memerah menahan pedih di tenggorokan, seolah ada yang mencekik. Saya bersyukur, ternyata masih ada tetanggaku di sekitar lokasi tersebut.

Saat itu saya benar-benar ketakutan, takut atas kejadian yang mencekam yang barusan saya alami. Memang saat itu saya belum mengerti tentang maut, karena terlampau kecil. Namun kini, jika teringat peristiwa itu, betapa saya mensyukurinya karena saya terbebas dari maut. Saya masih bisa menghirup udara (tanpa tercampur dengan air) hingga saat ini, merenungi setiap jejak yang saya tinggalkan. Menjadikan peristiwa terdahulu sebagai guru. Mungkin saat itu Allah masih memberiku kesempatan kedua. Namun saya yakin, bahwa mungkin suatu waktu nanti tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Ajal ataupun maut benar-benar menjemputku, siap ataupun tidak.

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s