Pohon Sunat

Lima tahun yang lalu, ketika awal membeli rumah di perumahan ini, langkah pertama yang saya lakukan adalah bercocok tanam. Tujuannya jelas. Agar kalau rumahnya pas ditempati jadi tambah asri dan adem serta iyup (jw. teduh). Maka dipilihlah pohon mangga arum manis sebagai tanaman peneduh. Disamping pohonnya yang rindang, juga bisa diambil buahnya.

Bibit pohon mangga yang saya beli dari penjual keliling tersebut, saya tanam di halaman depan rumah. Memberi pupuk dan menyirami adalah 2 hal yang tak boleh dilewatkan bila ingin pohon yang ditanam segera tumbuh besar.

Dan sebagaimana jamaknya orang, menanam pohon mangga yang diharapkan adalah segera berbuah, syukur-syukur buahnya banyak, besar-besar dan manis. Tapi setelah hampir lima tahun kok belum menunjukkan tanda-tanda berbuah. Sedikit kecewa jelas pernah muncul dalam hati, tapi segera berhusnuzhon pada Allah, mungkin memang belum waktunya.

Kemudian tanpa sengaja ketemu sama pemilik rumah sebelah, yang lama tidak ditempati. Sebut saja Pak Yani. Beliau sudah punya rumah di tempat lain, jadi hanya sesekali datang untuk memeriksa dan bersih-bersih rumah. Dari obrolan saya dengan pak Yani, beliau memberikan saran yang cukup jitu. Semula saya ragu-ragu, tapi begitu pak Yani bilang bahwa pohon mangga di rumahnya juga diperlakukan sama dan berhasil, maka apa salahnya dicoba, pikir saya.

Cara ini juga bisa Anda lakukan secara gratis, tak perlu memakai obat dan tidak ada efek samping (bila dilakukan secara tepat) plus ramah lingkungan.

Yang pertama-tama perlu dilakukan adalah pilih salah satu batang pohon yang hendak dibuat kelinci batang percobaan. Hal ini agar Anda tidak kecewa, bila ternyata hasilnya tidak memuaskan. Kalau sudah berhasil, barulah silakan semua batang Anda perlakukan sama.

Kemudian sayatlah kulit batang tersebut secara melingkar, sama ketika kita hendak mencangkok pohon. Panjang cincin jangan terlalu pendek atau terlalu panjang. Bila terlalu pendek, kulit akan menyatu kembali tanpa sempat berbuah. Dan bila terlalu panjang, pohon akan berbuah tapi kulit pohon akan sulit untuk menyatu dan akibat paling fatal adalah batang tersebut mati. Namun jangan khawatir, karena yang mati hanya batang yang kita sayat tadi. Makanya, untuk uji coba saya sarankan untuk memilih satu batang dulu aja.

Dan terakhir bersihkan sayatan tersebut dari kambiumnya.

Setelah itu tak ada perlakuan khusus lagi. Biarkan pohon secara alami memproses sari-sari makanan menjadi bunga, dan biarkan serangga melakukan serbuk sari dan biarkan juga buah mangga yang masih pentil membesar dan matang dan siap Anda panen.

Melihat keberhasilan saya, beberapa tetangga mencoba meniru apa yang saya lakukan. Ada yang berhasil, namun tentu ada juga yang gagal. Saya tidak tahu apa penyebab kegagalannya. Bisa jadi ketika menyunat kurang bersih atau terlalu dekat, sehingga kulit batang sudah menyatu kembali sebelum sempat berbuah.

Tahun ini adalah panen ketiga. Namun sedih juga, salah satu batang sepertinya akan mati. Karena ketika menyunat terlalu panjang jaraknya. Sehingga kulitnya sulit untuk menyatu kembali.

Saya menamakan cara ini dengan sunat, karena caranya hampir sama dengan sunat pada anak laki-laki. Dan lebih lagi, memang dengan cara ini berarti kita menyunat suplai sari makanan dari akar yang dialirkan lewat batang. Dan memaksa pohon mangga untuk berbuah. Cara ini masih diperbolehkan selama belum ada undang-undang yang mengatur atau dirumuskannya Hak Asasi Tumbuh-tumbuhan.

Selamat mencoba!

Iklan

2 Comments Add yours

  1. marsudiyanto berkata:

    Wah, bisa praktek jadi Dukun Sunat nich Mas…

    Ya pak, selain tukang jagal sekarang dukun sunat (pohon). Terima order nih pak. Pak Mars mau sunat? 😀

  2. suhadinet berkata:

    He..he… pantas, ponakan saya habis disunat langsung jadi gendut. Jangan-jangan kaya pohon, sari-sari makanan diproses jadi lemak. 😉

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s