Awas Jebakan!

Seorang laki-laki meloncat turun dari pintu kabin sebuah truk di perempatan jalan. Dia berlari melintasi jalan, di antara lalu lalang kendaraan yang berjubel di jalan raya.

Ia segera menuju ke pos polisi yang terletak di salah satu sudut perempatan jalan tersebut. Walaupun saya tidak tahu apa yang dilakukan kernet truk itu di dalam pos polisi, namun saya –dan Anda tentunya- sudah bisa menduga apa yang dilakukan laki-laki itu di dalam pos. Mungkin itulah alasannya kenapa pos polisi diberi kaca raiben.

Uang mel atau pelicin yang harus disetorkan sang laki-laki setiap menjumpai pos polisi, kalau tak ingin perjalanannya ‘terganggu’. Padahal, berapa banyak pos polisi yang harus dilewati truk tersebut. Atau berapa banyak truk yang lewat setiap hari yang harus menyerahkan uang mel-melan agar perjalanan mereka ‘aman’.

Lain lagi ceritanya yang terjadi di perempatan Bangkong (Semarang). Setiap berangkat kerja, sering saya saksikan para pelanggar peraturan lalu lintas di Bangkong akan dicegat oleh polisi yang bertugas di perempatan Milo. Perempatan Bangkong dan Milo hanya berjarak 100 m.

Pada jam-jam tertentu, jalan antara Milo-Bangkong memang diberlakukan satu arah, dari arah Timur. Sehingga kendaraan dari arah Barat harus berputar melewati Jl. Sidodadi.

Pada perempatan Bangkong yang menuju kea rah Milo, telah dipasangi rambu verboden (dilarang masuk). Namun bagi pengendara dari arah Banyumanik (Selatan), kadang tidak begitu memperhatikan tanda ini karena sering terhalang oleh mobil dari arah Milo yang berhenti. Akibatnya bisa ditebak, ada acara ‘perdamaian’ di pos polisi Bangkong atau di pos Milo.

‘Korban’ juga bisa berasal dari para pengunjung pertokoan, bank, atau rumah sakit yang terletak di antara perempatan Milo-Bangkong. Biasanya mereka tidak menyadari, kalau jalur tersebut diberlakukan sistem satu arah. Karena pemberlakukannya tidak ditentukan secara pasti. Hari ini jam sekian diberlakukan, tapi esok hari atau kapan pada jam yang sama tidak diberlakukan.

Seolah-olah aturan yang diberlakukan tersebut sebagai ‘sebuah perangkap’ untuk menambah ‘pendapatan’ para polisi.

Untuk itu, bagi Anda yang melintasi Bangkong dari arah Simpanglima (Barat) atau Banyumanik/Srondol (Selatan), harap berhati-hati. Agar Anda tidak ‘terjebak’ dengan ‘jebakan’ tersebut.

Itulah realita di lapangan. Meskipun para jendral berkoar-koar bahwa kepolisian sedang menuju arah profesionalisme, tapi bukti di lapangan tak pernah terbantahkan. Ibarat orang yang teriak-teriak tak suka durian, tapi bau durian tercium dari mulutnya.

Iklan

2 Comments Add yours

  1. erywijaya berkata:

    Ya, hal2 yg demikian sudah mendarah daging di tempat kita mas, bahkan sudah dianggap sebagai salah satu pendapatan yg “halal”. Mari kita mulai merubah akhlak dari diri kita sendiri, keluarga dan semoga sampai ke masyarakat luas..

  2. Mas Iim berkata:

    he..he… awaslo om hakim ada pak polisi yg baca. nanti lewat milo disemprit terus…????

    hee..he.. juga. lho nggak tahu ya, kalo pak polisi memang tugasnya nyemprit.. coba kalo bawanya kentongan.. 😀

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s