Belajar ke Negeri Hercules

“Edan”, seru Gareng seraya membanting koran Cahaya Pandawa ke meja di warung Yu Cempluk.

“Rakyat sedang susah, kok malah plesiran. Percuma saja saya milih mereka di pemilu legislatif kemarin.”

Ana apa tha kang? Pagi-pagi kok sudah nyumpahi orang,” tanya Bagong cuek sambil nyomot pisang goreng yang baru saja dihidangkan Yu Cempluk.

“Lha ini, Gong. Coba baca. Anggota Dewan studi banding masalah etika ke Yunani. Cuma mau belajar etika saja kok jauh-jauh banget,” jawab Gareng seraya mengangsurkan Cahaya Pandawa edisi kemarin.

Bagong manggut-manggut. Entah karena penjelasan Gareng atau nikmatnya pisang goreng yang masih anget.

“Bangsa kita kan sudah terkenal sebagai bangsa Timur, yang senantiasa menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Lha kok malah belajar ke negerinya Hercules. Mau belajar apa?”

“Bagus itu,” timpal Petruk yang barusan datang, “Kopi josnya satu, Yu”.

“Bagus gundulmu. Mereka itu jalan-jalan pakai uang kita. Uang yang kita bayarkan lewat pajak”, bantah Gareng merasa disepelekan.

“Lha iya bagus. Di Yunani itu kan terkenal dengan para ilmuwan dan filsufnya. Ada Protagoras, Hipprokaters, Sokrates, Aristoteles dan masih banyak lagi”, jelas Petruk sok tahu.

“Ya memang, Aristoteles banyak berbicara tentang etika dan pemikiran politik berdasarkan prinsip teologis: ada tujuan yang hendak dicapai dalam bernegara,” sanggah Gareng sewot.

“Lagian, menurut Aristoteles, sistem kerajaan adalah bentuk pemerintahan terbaik, bukan demokrasi”, imbuhnya.

“Apa anggota DPR itu ingin mengubah negara kita menjadi kerajaan ya kang?” serobot Bagong. Bicaranya tak jelas karena mulutnya penuh dengan pisang goreng. Entah pisang goreng yang ke berapa. Dan tiba-tiba ia mendelik, pisang goreng yang ia makan berontak tak mau masuk ke dalam perutnya. Kontan Bagong panik. Segera disambarnya gelas kopi yang ada di depannya. Petruk mendelik, karena itu kopi miliknya.

“Jika di Athena kuno ada demokrasi, itu hanya untuk segelintir warga negara yang berstatus merdeka dan kaya. Selain itu adalah budak. Rakyat Indonesia adlah manusia merdeka, bukan budak yang bisa diperlakukan semau gue,” kata Gareng agak lirih melihat Bagong yang masih berjuang melawan pisang goreng.

“Jadi kalau rakyat marah, banyak terjadi demo di mana-mana ya wajar. Karena perilaku wakilnya yang kurang ajar, tidak senonoh dan memuakkan,” lanjutnya.

“Memang sih, masak kita belajar etika ke negara yang nyaris gagal di Eropa. Budaya korupsi dan upeti telah lama menyandera Yunani. Sehingga tak layak dan tidak patut untuk dicontoh,” kata Petruk akhirnya.

“Nah, nah. Kau mulai setuju denganku, kan?” kata Gareng girang.

“Mmm…mungkin anggota DPR kita ingin membandingkan teknik korupsi dan manipulasi rencana pembuatan anggaran belanja di Indonesia dengan yang ada di Yunani,” kata Bagong asal.

“Nah kalau itu baru klop!” seru Gareng dan Petruk hampir berbarengan.

Kemudian warung Yu Cempluk sepi, seperti ada demit lewat. Masing-masing sibuk dengan jalan fikirannya, berusaha memahami maksud dari polah wakilnya.

Tiba-tiba Bagong bangkit.

“Kang Gareng, tolong saya ditalangi dulu ya. Uang saya habis, Romo belum ngasih jatah. Ya kang,” pinta Bagong ngacir meninggalkan Gareng yang semakin muntab.

“Wo, sontoloyo. Dasar nggak punya etika. Habis makan, ninggal utang,” seru Gareng.

“Harusnya Bagong itu ikut setudi banding aja, biar tahu etika,” timpal Yu Cempluk sambil menggerak-gerakkan susurnya ke giginya yang mulai memerah.

Gareng dan Petruk berpandangan.

Iklan

One Comment Add yours

  1. Mas Mot berkata:

    Capek nglihat tingkah polah mayoritas (bukan) wakil rakyat yg nggak punya etika itu.

    Iya, mas. Mau gak dilihat lha wong setiap hari muncul di televisi. Tv-nya mau dijual, nanti gak bisa liat upin-ipin

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s