Curiga yang Merusak

Curiga, untuk kadar tertentu mungkin dibolehkan. Bahkan dianjurkan, ketika kita membutuhkan keseimbangan pengetahuan pada sesuatu yang belum jelas. Sikap curiga seperti ini akan menciptakan dinamika dalam ilmu, dan kita akan terhindar dari menelan suatu benda asing secara bulat-bulat, hanya karena bentuknya yang seperti makanan.

Di saat kita butuh mengetahui jati diri sesuatu, maka tidak bisa tidak akan timbul pertanyaan tentang sesuatu itu, dan itulah yang kita sebut dengan sikap waspada, yang sering kita lakukan dalam berinteraksi di keseharian hidup kita. Terlalu teledor rasanya, ketika ada seseorang datang kepada kita dan menawarkan investasi bisnis dalam jumlah besar, lalu kita serta merta menerima tawarannya tanpa terlebih dahulu menaruh curiga kepada sosoknya. Kecurigaan sebagai sebuah tindakan kewaspadaan sangat dibutuhkan dalam sebuah interaksi untuk mengantisipasi adanya ketidakjujuran dan penyelewengan. Karena itu Allah swt mengajarkan kita untuk mencatat transaksi-transaksi kita dengan orang lain.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (QS. Al Baqarah: 282).

Namun curiga berlebihan sudah pasti tidak baik. Dan akibatnya pun sangat buruk. Konon, di kota Hanjen ada seorang lelaki bernama Kim. Dua puluh tahun lalu saat masih anak-anak, golongan darahnya diperiksa dan dinyatakan A. tetapi karena kesalahan si pemeriksa, golongan darahnya ditulis 0. Celakanya, setelah itu ia tidak pernah memeriksakan golongan darahnya lagi, dan selalu menganggap dirinya bergolongan darah 0.

Setelah dewasa, dia menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah 0. Dari perkawinan mereka, lahirlah anak pertama yang bergolongan darah 0, dan tidak terjadi masalah apa-apa. Selanjutnya lahir anak lelaki yang golongan darahnya A, sehingga Kim merasa aneh dan mulai curiga. Diam-diam dia mencari dokter dan menanyakan hal tersebut. Dari sini dia tahu bahwa suami istri yang sama-sama bergolongan darah 0 tidak mungkin mendapat anak yang bergolongan darah A.

Mendapat keterangan seperti ini, Kim berpikir bahwa istrinya pasti menyeleweng. Sedikit demi sedikit sifatnya berubah menjadi emosional, mudah marah dan tidak lagi menyayangi istri dan anaknya. Sering Kim berkata kasar, marah tanpa sebab dan memukul istrinya. Sang istri pun heran melihat perubahan sikap suaminya, yang tidak lagi bisa diajak bicara. Keadaan ini membuat batinnya tertekan, sehingga stres dan depresi berat. Karena kalut dan tak tahan lagi, sang istri lalu berpikiran pendek dan mengambil tindakan membunuh anaknya kemudian bunuh diri.

Setelah peristiwa mengerikan itu, Kim diperiksa oleh dokter forensik dan barulah ia mengetahui bahwa dirinya sebenarnya bergolongan darah A. akan tetapi semuanya sudah terlambat, istri yang setia, juga anak-anaknya yang lucu semua sudah tiada. Apa yang indah dulu tidak mungkin muncul lagi. Sekarang dirinya hanya penuh dengan kutukan oleh batinnya sendiri serta penyesalan yang tiada akhirnya.

Kecurigaan yang berlebihan hanya akan melahirkan petaka dan huru-hara. Akan tetapi, justru itu yang sekarang mulai kita rasakan; kita terlalu banyak curiga dan terus menerus saling curiga. Sesama warga negara kita saling curiga. Sesama anak bangsa kita selalu menebar prasangka buruk. Antara sesama Muslim pun terkadang kita curiga bukan kepalang. Bahkan akibat kecurigaan itu, sudah tak terhitung orang-orang yang dihabisi nyawanya secara sadis hanya karena mereka dituduh hendak melakukan konspirasi dan tindakan makar. Padahal, hukum manapun di dunia ini selalu memerlukan pembuktian sebelum menghukum seseorang. Apalagi harus mengakhiri hidupnya.

Kecurigaan kita tidak hanya berhenti di situ. Kecurigaan kita sudah merebak di mana-mana. Rakyat tidak percaya dengan pemerintahnya. Selalu ada prasangka buruk setiap kali seorang pejabat negara melontarkan gagasan baru untuk memperbaiki ini. Sebaliknya, pemerintah selalu curiga dengan rakyatnya sendiri. Selalu ada dugaan-dugaan tindakan inkonstitusional di balik protes dan kritik untuk mengingatkan pejabat dan pemerintah yang memang salah mengambil kebijakan. Sikap ini tentu saja sangat tidak positif. Kondisi ini sudah pasti tidak sehat. Karena dapat merusak hubungan kita antarsesama warga negara, yang menginginkan terciptanya kedamaian dan kemajuan bangsa; merobek persatuan sebuah organisasi; menimbulkan fitnah meracuni keharmonisan keluarga atau rumah tangga. Kecurigaan kita telah mengotori wajah kita sebagai bangsa yang selama ini dikenal simpatik dan ramah.

Iklan

One Comment Add yours

  1. marsudiyanto berkata:

    Yang paling nggak enak adalah kalau dicurigai…
    Kalau kita tahu kalau dicurigai sich masih mending…
    Tapi kalau dicurigai tapi kitanya nggak tau, itu yang paling2 nggak enak.
    APalagi kalau dicurigai hanya karena ada yg memfitnah…
    Smoga kita nggak saling curiga 😀

    Saya juga curiga. Kok blognya Pak Mars bisa rame gitu. Jangan-jangan… 😀

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s