Naik Becak ke Baitullah

Berikut ini adalah cerita yang ditulis Izzatul Jannah dalah bukunya yang berjudul “Karena Cinta Harus Diupayakan”. Karena ceritanya yang menggugah dan bisa menginspirasi, maka saya tuliskan diblog saya. Agar Andapun dapat mengambil pelajaran dan mencontoh cerita ini. Cerita ini adalah kisah nyata, hanya sang penulis tidak memberikan nama pelaku dan lokasi kejadian.

Tersebutlah seorang bapak, yang berprofesi sebagai tukang becak. Ia adalah seorang laki-laki yang shalih. Ia suka mengikuti taklim dan rajin shalat berjamaah di masjid. Ketika dalam sebuah taklim ia mendengar bahwa seorang muslim harus rajin bersedekah, ia menjadi begitu sedih. Jangankan untuk bersedekah, untuk makan sehari-hari saja kadang tidak cukup.

Tetapi, laki-laki itu tidak berhenti begitu saja. Ia harus tetap bersedekah, bagaimanapun caranya. Setelah berpikir lama, akhirnya ia memutuskan akan bersedekah dengan tenaganya. Sebab ilmu ia tak punya, uang pun tiada. Sejak hari itu ia bertekad, untuk menggratiskan penumpang yang menaiki becaknya setiap hari Jum’at.

Mula-mula banyak orang heran dengan bapak tukang becak itu, bahkan tak sedikit yang miris tersenyum sinis, mengira ia agak kurang waras. Sebab, mana ada naik becak gratis? Tetapi ia terus saja menjalankan ‘azzam (tekad) itu. Tawakkal ‘alallah. Mencari ridhanya saja.

Lalu, pada suatu hari di kelokan sebuah masjid, si bapak bertemu dengan seorang ibu. Karena hari Jum’at, ketika sampai di rumah sang ibu, ia enggan dibayar.

“Lho … bagaimana Bapak ini? Ini uangnya, apa kurang?”

“Oh… tidak, tidak, Bu! Saya memang sudang ber‘azzam, kalau hari Jum’at, semua penumpang saya gratiskan,” jawab si bapak becak.

“Lho… lho… kenapa? Bapak, kan, butuh uang untuk keluarga,” si ibu bersikeras untuk membayar.

“Kalau orang berada seperti ibu bisa bersedekah dengan uang, orang yang pintar dan berilmu bisa bersedekah dengan ilmunya. Lha kalau orang miskin dan bodoh seperti saya, ya bisanya hanya bersedekah dengan tenaga saja, tho Bu,” jelas si bapak becak, sambil mengucap salam dan berlalu.

Sang ibu ternganga. Lalu sambil tergopoh-gopoh ia bergegas masuk ke dalam rumahnya yang megah, kemudian bercerita panjang lebar kepada suaminya. Sang suami pun ikut terheran-heran juga mendengar cerita istrinya. Di zaman seperti ini, ada dhuafa yang bersedekah dengan menggratiskan becaknya? Konglomerat yang sudah kaya saja beramai-ramai korupsi dan menumpuk harta, ini tukangbecak ingin sedekah, dan tiap Jum’at lagi!

Akhirnya sang suami yang seorang haji terpandang, ingin membuktikan kebenaran cerita istrinya. Pada hari Jum’at yang lain, ia pun pergi ke masjid di mana istrinya bertemu dengan si tukang becak. Ia shalat Jum’at di sana kemudian mencari tukang becak yang disebut-sebut istrinya. Ketika ia ketemu dan kemudian naik, ia benar-benar membuktikan bahwa si bapak becak memang tidak mau dibayar, dengan alasan yang sama persis seperti yang dikatakan pada istrinya. Untuk bersedekah!

Tetapi ia tidak percaya begitu saja. Ia belum percaya ketulusan bapak becak jika hanya naik gratis satu kali. Maka ia mencoba beberapa kali naik. Ia bahkan mengira si bapak becak akan gusar melihatnya selalu muncul pada hari Jum’at. Tetapi ternyata tidak! Si bapak becak melayaninya dengan penuh hormat dan menyenangkan. Barulah ia yakin bahwa laki-laki ini benar-benar tulus dan bertekad kuat untuk berinfaq.

“Bu, rasanya kita harus bersedekah juga seperti bapak tukang becak itu,” kata sang haji suatu kali pada istrinya.

“Iya, pak. Sedekah, apa?”

“Aku mau memberangkatkan bapak tukang becak itu ibadah haji!”

“Oh, kalau begitu, aku juga tidak mau ketinggalan. Istrinya akan kubiayai berangkat ibadah haji juga!”

Subhanallah! Pernahkan seorang tukang becak membayangkan bahwa ia akan menunaikan ibadah haji? Barangkali terlintas pun tidak.

Akhirnya, berangkat hajilah sang tukang becak bersama istrinya. Ia berangkat haji dibiayai oleh ketulusannya bersedekah.

*****

Ah alangkah bahagianya, bila pak haji dan istrinya itu adalah kita. Yang mudah terketuk dengan ketulusan orang lain. Dan alangkah bahagianya pula, bila bapak tukang becak tadi adalah kita. Yang mau bersedekah dengan apa yang dimilikinya.

Sesungguhnya harta kita yang sebenarnya bukanlah yang saat ini kita miliki, melainkan harta yang telah kita infaqkan (belanjakan) di jalan Allah. Jadi kaya dan miskinnya seseorang dapat dilihat dari seberapa banyak ia berinfaq dan bersedekah di jalan Allah.

So, Anda termasuk orang kaya atau orang miskin?

Iklan

One Comment Add yours

  1. andri riswanto berkata:

    SUBHANALLOH.. kalau ALLOH sudah berkehendak memang tidak ada yang tidak mungkin..tetapi harus ada azzam dan usaha atas azzam tsb…oh iya akhi minta tolong nama bapak tukang becak dan alamatnya dimana kayaknya perlu dicantumkan atau cukup saya saja yang mengeteahui karena kalau kita cerita ke orang lain biar cerita kita untuk membangkitakan jasbah orang yang mendengarkan tidak dikira mengada2,masalah ikhlas cuman ALLOH saja yang tahu,terima kasih sebelumnya
    wassalamualaikum wr wb

    maaf mas, penulis bukunya (mbak Izzatul Jannah) juga gak mencantumkan nama dan lokasi kejadian

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s