Tukang Jagal Jilid II

Bisa karena biasa. Begitu kata pepatah kita. Sebuah pekerjaan atau aktvitas bisa kita lakukan, bila kita terbiasa melakukannya. Kita bisa membaca, karena belajar dan terbiasa membaca. Kita bisa berjalan, karena berlatih (terbiasa) berjalan.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Idul Adha kali ini pun, saya kejatah sebagai seksi penyembelihan alias tukang jagal. Dalam rapat kilat menjelang Idul Adha, saya mengetahui jumlah pequrban kurang lebih 7 orang, biasanya pas hari H bertambah. 3 orang bequrban dalam bentuk kambing, 4 orang berqurban dalam bentuk uang. Harapannya, setelah terkumpul 7 orang akan dibelikan sapi. Namun ternyata sampai hari Senin, jumlah pequrban tidak bertambah. Maka diputuskan bahwa semuanya dalam bentuk kambing. Ini artinya, tidak perlu memakai tukang jagal dari luar untuk menyembelih sapi, seperti qurban tahun lalu.

Hari Selasa, waktu pulang saya agak terkejut mendapati seekor sapi ada diantara hewan qurban. Usut punya usut, ternyata yang berqurban dalam bentuk uang ada 5 orang. Dan panitia berhasil mendapatkan sapi seharga Rp 7,5 juta. Jadi per orangnya dikenakan Rp 1,5 juta.

Waduh, maaf pak. Lha kalau ada sapi, siapa yang menyembelih? Tukang jagal yang tahun kemarin sudah telanjur saya batalkan.

Nggak pa-pa, pak Hakim. Nanti tukang jagalnya pake yang di kampung bapak saya saja,” kata ketua panitia.

Sudah dihubungi pak?

Sudah. Insya Allah nanti ke sininya agak siangan. Nanti kambingnya tetap pak Hakim yang potong. Untuk sapi, biar tukang jagal kampung bapak saya.

Okelah kalau begitu.

Keesokan harinya, setelah shalat Ied. Warga perumahan mulai berdatangan ke area Musholla. Saya juga segera menuju ke musholla membawa golok yang sudah saya asah sejak 3 hari yang lalu.

Semua kambing qurban sudah ‘sukses’ saya sembelih. Golok pun sudah saya bawa pulang. Tinggal menunggu kedatangan tukang jagal untuk menyelesaikan tugas si sapi.

Namun ditunggu beberapa waktu, tukang jagal yang diharapkan belum nongol-nongol juga. Akhirnya ketua panitia berinisiatif untuk menghubunginya.

Tak berapa lama, pak ketua sudah datang kembali.

“Pak Hakim, ngapunten, tukang jagalnya tidak bisa datang ke sini. Di sana hewan qurbannya banyak sekali.”

Deg.

“Kalau pak Hakim saja sekalian yang menyembelih, bagaimana?”

Deg lagi.

“Bisa ya, pak?”

Deg. Deg. Jantung saya langsung berpacu untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Waduh, bagaimana ini. Untuk menyembelih kambing saja, sebetulnya saya agak keberatan. Terus terang saja, tukang jagal bukanlah salah satu pekerjaan yang pernah masuk dalam kamus saya.

“Bagaimana, pak?”

Akhirnya…

“Baiklah, pak. Bismillah.”

Saya segera pulang untuk mengambil golok yang barusan saya cuci. Saya asah kembali, agar tetap tajam. Beberapa kali saja raba mata golok untuk mengecek ketajamannya. Sudah cukup.

Butuh waktu agak lama untuk ‘membujuk’ si sapi agar mau dibaringkan, walaupun akhirnya ia mengalah dibaringkan dengan kondisi ke-4 kaki terikat tali besar.

Setelah komat-kamit membaca mantra doa untuk para pequrban, dengan membaca basmallah dan takbir saya segera menggorok leher si sapi.

Namun di luar perkiraan saya, kulit sapi ternyata lebih alot dari kulit kambing (maklum ini penyembelihan sapi saya yang pertama).

Golok yang saya pegang cuma melukai kulitnya saja. Kontan saya sedikit panik, meminta untuk dicarikan golok lain. Alhamdulillah ada peserta yang membawa golok. Dan setelah mengulangi mengucap basmallah dan takbir, mengalirlah darah si sapi bersama kumandang takbir dari toa musholla.

Allahu akbar.. allahu akbar..

La ilaaha illallaah.. Allahu akbar..

Allahu akbar.. walillahil hamd…

Iklan

One Comment Add yours

  1. euis widaningsih berkata:

    sapi potong pas idul adha pastinya harus kondisi baik.

    sapinya dalam kondisi prima, mbak. tukang jagalnya yang agak loyo

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s